
Banyu mengantarkan Tiara, setelah sampai di sebuah Villa. Banyu bergumam pelan, "Jangan makan mie instan, apa lagi nyuruh Maid untuk membelikannya."
Tiara sepertinya menyerah, "bolehlah... sekali aja," ucap Tiara.
"Tidak... kalau masih maksa, aku enggak akan pulang," ucap Banyu.
Tiara menatapnya dengan tatapan sendu, "baiklah... aku tidak akan makan apapun, sampai kamu pulang."
Setelah mengucapkan itu, Tiara turun tak perduli Banyu yang terus meneriaki namanya.
"Tiara...Tiara," panggil Banyu.
Tiara tidak menggubris suara Banyu, dirinya lebih memilih masuk ke dalam kamar di bandingkan dengan mendengar ocehan Banyu ala emak-emak yang memiliki ke kepoan semakin melambung ke angkasa lepas. Belum lagi posesifnya, melihat Oppa-oppa tampan saja di larang, padahal dirinya juga butuh yang bening.
"Apaan sih... ini enggak boleh, itu enggak boleh," gumam Tiara. Dia terus menggerutu.
"Selamat pagi," sapa seorang Maid.
"Pagi, Mbak," sahut Tiara.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang Maid.
Tiara mengangguk pelan.
"Aku ingin makan," ucap Tiara.
"Kami akan segera menyiapkannya," ucap Maid.
"Tunggu, aku ingin makan salad mangga muda," gumam Tiara.
Maid terdiam sejenak, "kami akan segera menyiapkannya," ucap Maid.
Entah kenapa, Tiara sangat ingin memakan mangga muda di temani mayones.
"Jangan lama-lama," gumam Tiara.
Dia terpaku, baru menyadari seberapa mewah Villa yang dia datangi. Matanya menelusuri seluruh bagian ruangan.
"Seberapa kaya ya suamiku," tanya Tiara.
Banyu diam, mengabaikan Hany yang terus saja melirik ke arahnya. Sepertinya Banyu begitu kecewa dengan apa yang di lakukan Hany tadi.
"Hanya," panggil Bany dengan suara pelan.
"Iya... pak," jawab Hany.
"Apakah keadaan ibumu mengkhawatirkan, aku lihat beberapa kali kamu melamun," ucap Banyu.
"Sepertinya, aku tidak bisa menjelaskan pak, karena Ibu jauh lebih parah semenjak kehadiran orang-orang dari masalalunya," ucap Hany.
"Apakah perlu aku pindahkan ke rumah sakitku sendiri, gampang untuk mengetahui siapa saja yang datang," ucap Banyu.
"Tidak... tidak usah Pak, sungguh itu akan semakin merepotkan bapak," ucap Hany.
Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu, "fokus... karena ini bukanlah metting yang seperti biasanya," gumam Banyu.
Kening Hany mengerut, "Bukankah ini pertemuan antara anda dengan sony," gumam Hany.
"Iya, memang Sony tidak akan berani melenyapkan siapapun dengan tangannya sendiri."
"Tapi... kau harus tau bahwa Sony memiliki banyak tangan yang mau kotor demi ketenaran juga kekuasaan."
Penjelasan Banyu membuat Hany hanya mengangguk.
Setelah sampai di sebuah mansion indah milik Sony, Banyu dengan santai keluar dari mobil, bersa Hany di belakangnya.
"Sebuah panghargaan besar, kau datang memenuhi undanganku," ucap Sony. Menyambut Banyu dengan wajah sumringah.
"Terima kasih atas sambutannya," gumam Banyu. Dengan senyum datar dan jabatan tangan kuat.
"Silahkan masuk," ucap Sony.
"Untuk Nona Hany, silahkan menikmati pestanya," ucap sony.
"Terima kasih, tapi alangkah lebih baik jika saya ikut menjelaskan proyek baru yang akan kita jalani," ucap Hany.
"Itu urusanku, kau istirahatlah, dan tolong pantau Villa," gumam Banyu dengan tenang.
Hany mengangguk pelan.
"Apakah dia terjebak dalam cinta Cinderella, maksudnya, berharap menikah dengan pria yang kaya sedangkan dirinya berbeda," ungkap Sony.
"Aku tidak tau," jawab Banyu.
"Bagaimana bisnismu?" tanya Sony.
"Sangat baik, dimana Sonya?" tanya Banyu.
"Dia selalu sibuk dengan segudang karyanya," gumam Sony.
"Apakah kau merindukannya?" lanjut sony.
Dengan cepat Banyu menggeleng.
"Acaramu tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran dirinya," ucap Banyu.
"Aku berharap dia datang tepat waktu," gumam Sony.
Sonya, Banyu selalu mengakui kelihaian dan kelicikannya melebihi siapapun yang pernah dia kenal. Adik atau lebih tepatnya suadara kembar Sony, selalu mempunyai banyak cara untuk menghancurkan siapapun ancaman Sony.
Banyu mengawasi seluruh keadaan di sekitarnya. Sony yang tersenyum puas karena umpan kini telah masuk ke dalam mulut incarannya. Dan kail tinggal di tarik untuk mendapatkannya.
Bruuaakkk
Suara itu membuat Tiara terkejut.
Dengan langkah cepat Tiara mencari sumber suara, ada gelora rasa ingin melindungi dari dalam diri Tiara.
Tak tak tak
Suara sepatu kets membuat Tiara dengan cepat sembunyi di balik Tirai jendela yang cukup besar.
"Sial! Di mana wanita hamil yang di bawa Banyu!" teriakan itu membuat Tiara terkejut. Mungkin dia sedang mencari Tiara.
Tiara berusaha untuk diam, dia binggung apa yang harus di lakukannya.
Dengan langkah pelan, ada kaki yang menuju ke arahnya.
Buuggg
Dengan cepat Tiara megulurkan kakinya. Memukul sosok yang mencarinya sejak tadi.
Dengan langkah pelan Sonya mendekati Tiara. Mengabaikan perutnya yang sakit.
"Rupanya kau di sini, wanita jalang!"
"Jalang? Bukankah kau wanita kurang aja yang datang menghancurkan seluruh isi rumahku," ujar Tiara.
"Ini semua adalah milikku,"
"Jika milikmu, ambillah, bawa semuanya," jelas Tiara.
"Bedebah," gumam Sonya.
"Shit! Damn it!" teriak Tiara.
Tanpa menunggu lama, baku hantam antara Tiara dan Sonya di mulai. Tidak ada yang menang dan kalah, imbang dengan posisi mereka masing-masing. Hingga
Bug
Bug
Plakkk
Tiara berhasil melumpuhkan titik-titik terberat penyerangannya.
"Jangan remehkan aku," geram Tiara.
Dengan santai mengikat Sonya, sosok yang tidak pernah di temui oleh Tiara.
"Di mana kau sembunyikan para maidku!" teriak Tiara.
"Aku tidak tau," ucap Sonya.
"Tidak tau! Wahh hebat,"
Plaaakkk
Tanpa menunggu lama, hadiah tamparan dari Tiara langsung di berikan.
Entah dari mana Tiara tau, dengan santai tangan Tiara membuka sepatu kets milik gadis itu. Menemukan serum dengan alat suntik seukuran setengah jari kelingking.
"Serum ini akan mengantarkan aku menuju di mana keberadaan mereka," gumam Tiara. Menyunggingkan senyum manis.
"Tidak... jangan... jangan pernah kau suntikkan serum itu," teriak gadis itu.
"Jangan pernah? Maka katakan di mana mereka," ujar Tiara.
Dengan gerakan cepat Tiara berhasil menancapkan serum itu ke tubuh gadis di hadapannya.
"Aku ingin tau bagaimana reaksinya," gumam Tiara.
Dengan langkah setengah berlari, Tiara menuruni tangga lalu membuka sebuah ruangan dengan pintu besar.
"Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Tiara.
Ternyata para maid dan bodyguard sedang asik berhubungan intim. Dengan cepat Tiara berlari mengunci pintunya, "serum perangsang itu...,"
Tiara langsung memacu mobilnya, dengan seorang gadis yang baru saja selesai di suntikkan serumnya. Tiara juga mendapati serum yang berbeda di kaki kirinya.
"Mungkin ini adalah penawarnya," gumam Tiara.
"Mansion siapa?" tanya Tiara.
"Ini mansion Sony," gumam Sonya.
"Nama kamu?" tanya Tiara.
"Sonya."
"Apakah kamu sudah siap melindungiku?"
"Tentu, tuan Banyu dan Nona Hany berada di tempat berbeda," jelas Sonya.
"Ruang berbeda? Tujuannya," gumam Tiara.
"Untuk menghancurkan kehidupan Hany dan juga Banyu, Sony ingin mereka hancur bahkan melebihi butiran debu yang tiada artinya lagi."
Tiara mengangguk. Hobi lamanya sedikit membantu, masa lalu tidak selamanya harus di kubur seperti rindu, tapi muncul sesekali untuk membuktikan bahwa dahulu seseorang lebih ganas dari sekarang.