Me And Daddy

Me And Daddy
Episode 12



Pyarrrr


 


 


Suara itu membuat Banyu dengan cepat melepaskan pelukan Hany. Lalu berlari menuju kamar Tiara. Hany terlihat terkejut dan kecewa dengan sikap banyu. Namun apa hendak dikata diri memang bukanlah siapa-siapa Banyu. Langkah Banyu yang tergopoh-gopoh membuat Tiara khawatir dengan cepat membereskan sepahan pecahan beling kaca.


 


 


Mata Banyu menangkap dengan jelas Tiara yang memaku dengan tangan yang berdarah. Tiara terus menunduk, berusaha mengumpulkan pecahan beling tanpa merasakan sakitnya tertusuk pecahan itu.


 


 


"Sayang," ucap Banyu yang langsung menggendong Tiara.


 


 


Tiara tersenyum, "maaf aku memecahkan vas mahal itu," gumam Tiara menyesal.


 


 


"Itu bukan masalah besar, kau terluka dan sepuluh vas bunga itu tidak bisa membayar mahalnya lukamu," gumam Banyu dengan cepat mengobati tangan Tiara yang terluka.


 


 


"Tadi niatnya mau bersihin, tapi nyatanya malah nyusahin," ucap Tiara.


 


 


Ada bulir airmata yang jatuh namun dengan cepat Tiara menghapusnya.


 


 


"Apakah sakit?" tanya Banyu.


 


 


Tiara menggeleng cepat.


 


 


"Aku terlalu lemah untuk pria kuat sepertimu," gumam Tiara.


 


 


Banyu tersenyum ramah, "aku terlalu lemah melindungimu, hingga kecerobohanku mencelakaimu," bisik Banyu.


 


 


Tiara mengerutkan keningnya.


 


 


"Apa yang telah aku lakukan?" tanya Tiara.


 


 


"Kamu melindungi anakku dari bahaya yang sedang menanti mereka," bisik Banyu.


 


 


"Bella telah mati," gumam Tiara.


 


 


"Iya... Bella mati terpanggang bersama puluhan pengawal Sony," gumam Banyu.


 


 


"Siapa Sony?" tanya Tiara.


 


 


Banyu terdiam sejenak, "Bagaimana kau tau bahwa Bella mati? Dan siapa Bella?" tanya Banyu.


 


 


"Aku tidak mengerti apa yang terjadi, aku hanya ingin mengatakan hal itu, karena sejak tadi menghantui pikiranku," gumam Tiara.


 


 


"Pikirkan kesehatan dan keselamatanmu," bisik Banyu.


 


 


Tiara memeluk lengan Banyu dengan erat. Perlahan matanya terpejam.


 


 


"Apakah masih sangat sakit?" pertanyaan Banyu membuat Tiara tersenyum.


 


 


"Sakit," gumam Tiara sambil menujukkan letak hatinya.


 


 


"Yang mana... yang mana, apa perlu aku panggilkan dokter? Atau butuh obat penghilang rasa nyeri," ucap Banyu dengan khawatir.


 


 


"Sayang...," bisik Tiara dengan menangkup kedua pipi Banyu.


 


 


"Jangan pernah mengkhianati aku," bisik Tiara.


 


 


Banyu dengan pelan menyentuh tangan Tiara. Menatap sayu kedua sorot mata Tiara yang terlihat sangat polos.


Hany yang melihatnya merasakan sakit yang menyeruak, 'apakah dirinya melupakan dan mencampakkan aku sekarang,' tanya Hati Hany.


"Hany... ada masalah apa?" tanya Tiara yang sejak tadi melirik Hany. Berdiri mematung.


"Ada telepon dari para rekan bisnis untuk meminta pertanggung jawaban kerugian milik Sony," ucap Hany.


"Tolong panggilkan dokter, aku takut Maid kita hamil semua," gumam Tiara.


"Bagaimana keadaanmu Hany?" tanya Tiara, dengan seulas senyum manis.


"Terima kasih... tanpa pertolongan darimu, aku yakin diriku telah kehilangan harga diri," ucap Hany langsung berhamburan ke pelukan Tiara.


Tiara tersenyum, apa lagi matanya menangkap basah dua tangan yang mengenggam saling menguatkan.


Tiara menatapnya iri, 'apakah diriku adalah benteng yang memisahkan kisah cinta mereka?'  Tanya Tiara dalam hati.


Hoeeekk... hoooekkk


 


 


Tiara dengan cepat berlari menuju kamar mandi, lalu mengunci pintunya. Banyu dan Hany saling bertatapan. Semenjak tadi bahkan tidak menyadari bahwa hampir selama 10 menit Tiara berada di dalam kamar mandi.


 


 


Dengan langkah lemah bahkan setengah memaksa tubuhnya Tiara keluar dari kamar mandi. Tidak ada Banyu yang mengkhawatirkan keadaan dirinya. Hanya ada dua orang mematung saling bertatapan dan mengenggam


 


 


"Ehm!" teriak Tiara membuat kedua insan yang saling menyelami itu terkejut.


 


 


"Sayang... kenapa kau mengagetkanku," gumam Banyu.


 


 


 


 


"Apa maksudmu sayang, kami hanya bertukar pikiran," gumam Banyu.


 


 


Saat perdebatan antara Tiara dan Banyu berlangsung, Hany ternyata mendapatkan panggilan dari rumah sakit.


 


 


"Hallo," jawab Hany.


 


 


"Apa! Ibu saya di bunuh! Dan jasadnya tidak bisa di temukan?" teriak Hany. Beberapa saat kemudian tangisan itu pecah. Banyu yang tidak tega melihat Hany menangis langsung memeluk Hany.


 


 


"Baiklah kita pulang," bisik Banyu.


 


 


"Pulanglah... aku masih ingin tetap di sini," gumam Tiara meninggalkan mereka.


 


 


"Kamu harus pulang, ikut dengan kami," gumam Banyu. Untuk pertama kalinya berbicara dengan nada dingin.


 


 


Hany masih berada dalam pelukan Banyu, bahkan selama berada di dalam pesawat. Tiara berhasil memasukkan banyak Ramyoen ekstra pedas ke dalam tasnya. Ada sekitar sepuluh bungkus.


 


 


Dengan santai Tiara masak di dapur pesawat. Lima ramyoen dengan toping sebungkus sosis dan beberapa butir telur mata sapi.


 


 


"Nikmat," gumam Tiara menyantap kandas tanpa sisa hidangan di depannya.


 


 


"Bisakah kau menurutiku barang sekali?" tanya Banyu. Membuat Tiara terkejut dan menjatuhkan mangkuk kaca tepat di atas kakinya dan pecah. Pecahannya menusuk kakinya.


 


 


"Awww," gumma Tiara. Antara terkejut dan sakit.


 


 


"Kamu selalu aja ceroboh," gumam Banyu. Menyuruh Tiara duduk dan pergi mengambil kotak P3k.


 


 


"Ah... sakit," gumam Tiara.


 


 


Saat Banyu dengan pelan mencabut pecahan kaca yang masih bersarang di kakinya.


 


 


"Tahan... biar cepet sembuh," gumam Banyu.


 


 


Tiara menutup matanya, membiarkan sakit menyeruak hilang di telan kegelapan matanya.


 


 


"Selesai," gumam Banyu dengan seulas senyum.


 


 


"Ada perlu apa ke belakang... bagaimana keadaan Hany?" tanya Tiara.


 


 


"Astaga... aku lupa, Hany memintaku mengambilkan segelas susu hangat," gumam Banyu.


 


 


Tiara menunduk.


 


 


Apakah dirinya sudah tidak berharga lagi? Sehingga yang ada dalam benak Banyu hanya sosok Hany yang terus meneteskan airmata.


 


 


"Sesampainya di bandara, aku ingin ke mall, pulanglah bersama Hany, aku akan menyusul," gumam Tiara melangkahkan kaki meninggalkan Banyu.


 


 


"Akan aku siapkan sopir dan Bodyguardnya," gumam Banyu.


 


 


"Terima kasih, telah berusaha menjagaku," gumam Tiara. Seulas senyum singkat sengaja dia berikan untuk menghargai kebaikan hati Banyu.


 


 


"Kau tetap yang berharga," gumam Banyu.


 


 


Dengan cepat mengambilkan Hany segelas susu yang telah dia hangatkan. Banyu dengan sabar memberikan susunya. Membiarkan Hany menangis di pelukannya sedangkan Tiara terlelap di dalam kamar. Pesawat Pribadinya di lengkapi dengan tempat tidur yang cukup nyaman. Tiara terlelap, berusaha melupakan banyak pikiran yang menghantuinya.


 


 


Sesampainya di bandara, Tiara lebil memilih kabur dengan menaiki taksi. Uang 10 lembar seratusan, cukup untuknya berjalan membeli sekantung makanan ekstra pedas atau sekedar es krim.


 


 


"Pak berhenti di sini aja," gumam Tiara.


 


 


Smartphone pemberian Banyu, memiliki fitur GPS yang bisa melacak keberadaanya kali ini. Tiara membuangnya asal, lalu berjalan pelan. Meninggalkan smartphone yang terus berbunyi.


 


 


"Jika kau ingin mencariku dengan hati, bukan dengan Hp bertehnologi tinggi," ucap Tiara.


 


 



 


 


Banyu berusaha melacak keberadaan Tiara. Hany masih belum melepaskan pelukannya, bahkan setelah mengetahui bahwa mayat Ibunya kini berada di gorong-gorong dekat rumah sakit. Dokter menjelaskan kronologi dengan gamblang dan jelas. Hany menangis meratapi nasib ibunya dan dirinya kelak. Sedangkan Banyu memerintahkan sebagian bodyguardnya untuk mencari Tiara dan sebagian besar mencari penyebab kematian Ibunya Hany.


Terkadang keperdulian yang di manfaatkan sungguh membuat semua orang tidak menyadari bahwa dirinya telah masuk terlalu dalam menolong. Sebelum akhirnya mereka membelenggu kaki si penolong dengan rantai karat yang penuh penyesalan.