
SETELAH menghabiskan cuti selama dua minggu akhirnya Alana kembali masuk kerja. Ya walau, Rasanya ia benar-benar tidak bergairah lagi menjalani aktivitas sehari-harinya tapi karena tanggung jawabnya ia harus bersikap Profesional
" Udah siap Kan, ? tanya Reno dengan memasang wajah Ceria, seperti biasanya Alana mengacuhkan sebelah jempolnya lalu mobil melaju dengan laju sedang
" Kemaren rumah sakit kacau banget," Ujar Reno memulai Ceritanya, Alana menoleh, " Kenapa, "
" Kan ada ibu-ibu lagi hamil tuh ya terus ibu hamil itu lihat gue Dia tiba-tiba ngidam, Pengen Cium gue, "
" Terus Lo Cium, ?" tanya Alana dengan antusias. Reno sontak menggelengkan kepalanya, " Ya Nggaklah, "
Alana Terkekeh, " Kenapa nggak ? Kan lumayan tuh, " seloroh Alana kerlingan jahilnya
" Ya kali. Orang suaminya melototin gue di samping dia, " Ujar Reno, Alana tertawa lepas, Reno terpanah dengan tawa tersebut. Mungkin ini adalah tawa Alana setelah beberapa minggu belakangan ini
" Aduh, Sumpah lucu banget, sih, "
Mau tak mau Reno Juga ikut terkekeh
" Lo Pulang jam berapa hari ini ? Tanya Reno ketika tawa Alana terhenti
Alana diam sejenak, " Mungkin jam 4 sore udah beres kalau nggak ada Pasien, "
Reno mengangguk, " Pulang bareng, Entar sebelum Pulang, nyokap gue ngajak buat makan malam bareng di rumah Lo mau kan, "
Alana mengangguk-anggukkan kepalanya, " Boleh, "
sekitar 15 menitan Kemudian mereka telah sampai di rumah sakit harapan, " Thanks Udah mau anterin gue, " Ujar Alana sambil merapikan kembali bajunya
Ketika Alana akan membuka Pintu mobil dengan segera Reno menahannya, " Kenapa, " tanya Alana bingung
" Jangan mikirin yang nggak Perlu Lo Pikirin, " Ujarnya, " Daaa ... " Reno melambaikan tangannya
Alana diam sejenak sebelum benar-benar keluar dari mobil Reno. Alana berjalan melewati koridor rumah sakit untuk menuju ruangannya. setelah beberapa tahun yang lalu Alana kebingungan untuk meletakkan akan mengambil spesialis apa, akhirnya dengan mantap ia mengambil spesialis kandungan. Entah kenapa ia tertarik dengan hal yang menyangkut kehamilan ketika melihat sepasang suami istri tersenyum Bahagia, mengetahui bahwa keduanya akan menjadi orang tua, gelenyar kebahagiaan tersebut mengalir juga Pada Alana. ia sangat senang bisa membuat Orang lain. Dan impian terbesarnya adalah menjadi seorang ibu. andai saja semuanya berlalu dengan sewajarnya mungkin saja ia sekarang ia menjadi seorang ibu. Alana mengusap wajahnya kasar tak seharusnya ia memikirkan sesuatu yang tak Penting
Ketika sudah sampai di depan pintu dengan tulisan namanya, ia membuka Pintu tersebut. Alana duduk di kursi kebesarannya. Tanpa sengaja Pandangannya menangkap sesuatu yang membuat emosinya meluap. Di sana di atas mejanya, Terpampang fotonya dan Samudra beberapa tahun yang lalu ketika Kelulusan Samudra.
Alana mengamatinya dengan seksama. Dua orang difoto tersebut Tersenyum bahagia melambaikan Perasaan keduanya Lalu kenyataan Pahitnya begitu saja hadir di pikirannya yang membuat kenangan manis tersebut hilang seketika. Alana mengambil foto tersebut lalu menyimpannya ke dalam laci. kini sudah saatnya melupakan yang masa lalu hidupnya
...Udah Alana jangan Pikirin lagi dia Lo harus bisa move on dari dia, " umpat Alana dalam hati...
" Udah buka, Sus, ? tanya Alana Pada suster yang masuk dengan membawa map
" iya Dok, sudah ada beberapa yang ngantri,"
Alana mengganguk Paham, " Oh ya Udah saya juga udah siap kok, " suster ina tersenyum sopan lalu memberikan berkas-berkas yang ada di tangannya
" Selama saya cuti, kerjaan banyak nggak Sus,"
" Nggak terlalu sih Dok. Tapi ada beberapa yang check up rutin, "
Alana menganggukkan kepalanya
" Saya Panggil aja Pasien Pertama, ya, Dok,"
" iya, Panggil aja, "
Lalu suster ina keluar dari ruangan. Alana lanjut membolak-balik berkas yang di berikan suster ina Beberapa di antaranya adalah keadaan Pasiennya yang melakukan check up rutin
Pintu kembali terbuka. Alana menyiapkan senyum termanisnya, " Selamat Pag .. "
Kenapa di luasnya daratan di muka bumi ini harus bertemu dengan seseorang yang sangat tidak ingin ia lihat, " silahkan Duduk, " Ujar Alana Pada akhirnya Aturannya harus bersikap ramah pada setiap Pasien
" Boleh tahu Keluhnya, " tanya Alana berusaha Profesional
Cewek itu tersenyum masam, " Dari seminggu saya ini mual terus dan beberapa hari belakangan ini aku juga sering sakit perut sama Pusing yang nggak ada berhentinya Kata Mamanya saya sih saya suruh cek kandungan,"
" Kemarin aku beli tes Pack tiga dan tiga-tiganya nunjukin warna merah, Tapi aku nggak yakin, "
Alana diam, mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut cewek yang ada di depannya
" Aku mau Periksa Kandungan Dok, buat ngeyakinin, " lanjutnya
Dadanya rasanya sesak, Apa harus secepat ini ?
" Dok ! Tegur Cewek itu sambil melambai-lambai tangannya tangannya di depan Alana
" Eh, Maaf, " Alana lantas membuka buku yang ada di hadapannya, " Nama kamu siapa ?
" Kinan, "
" Oke, sekarang ikut saya,"
Alana lalu berjalan menuju brankar, Kinan mengikutinya dari belakang, " Tidur di sini, " Kinan lalu tidur dengan hati-hati Lalu Alana dengan tangan bergetar dan dengan kegugupannya yang sangat ketera di wajahnya mulai memeriksa keadaan Kinan
Positif. Alana merasakan air matanya menggenang di Pelupuk matanya. Apakah ini akhir dengan segalanya ? Apakah hanya sampai sini saja harapannya selama ini
" Kinan, kamu nggak Papa, " tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiri lalu memegang kedua bahu Kinan
Kinan menggelengkan kepalanya, " Apa sih lebay banget, " cibirnya
" aku khawatir banget tahu Tadi Mama bilang kamu ke rumah sakit. Emang kamu sakit apa ?
" Nggak tahu Dokternya aja belum bilang,"
" Dok dia Sak .. ".
Ucapan Samudra terhenti ketika yang dilihat di hadapannya adalah sosok Cewek yang sangat ia kenali air mata Alana hanya tinggal menghitung waktu saja hingga benar-benar meledak
" Selamat Bu Kinan Positif hamil, " Ujar Alana dengan suara bergetar
" Hah bener Dok saya Hamil, " tanya Kinan antusias
Alana mengangguk pelan
" akhirnya aku hamil juga, Samudra, Nih yang aku tunggu selama ini " Ujar Kinan dengan kesenangan sambil memeluk tubuh samudra begitu eratnya. samudra membalas Pelukan tersebut tak kalah erat ia mengucap kata selamat
Alana tak tahan lagi. ia segera berlari keluar dari ruangan tersebut. Apa harus bermesraan di hadapan Alana ? Apa harus membuatnya sakit hati lagi ? Alana berhenti di lorong yang Cukup sepi lalu menyadarkan Punggungnya Pada dinding tersebut
Andai saja ia tak mencintai dengan sebegitu dalamnya. mungkin ia tak kan mengalami sakit hati semenyaitkan seperti ini. Alana memerosotkan tubuhnya hingga posisinya jongkok lalu menelungkupkan kepalanya di atas lututnya. Badannya bergetar, beberapa kali Pun samudra menghancurkannya, rasa itu tetap tinggal di dalam hatinya, tak pernah sedikit Pun hilang. Alana memukul-mukul dadanya yang berdenyut nyeri
Tiba-tiba Alana merasakan seseorang memeluknya, " Lo nggak boleh kayak gini, Alana " bisiknya di telinga Alana, " lo Pasti bisa, " lanjutnya
Tanpa melihat siapa si Pelaku Alana sudah yakin Orang itu adalah Reno, " Lupain dia, Kubur masa Lo dalem-dalem, Mulai lembaran baru," Ujarnya lagi
Alana mendongakkan kepalanya, " Gue sakit Ren, " Ujar Alana dengan tatapan terluka
" Gue tahu, "
Alana kembali menangis dalam Pelukan Reno
" Lo hidup bukan Cuma buat nangisin Cowok kayak dia. kalau dia bisa bahagia tanpa Lo, kenapa Lo nggak bisa, "
Alana terisak, " itu yang selalu gue Pikirin kenapa ? kenapa gue nggak bisa lupain dia, "
Reno mengusap Punggungnya, " Lo, Pasti bisa,"
Keduanya terdiam, lalu Alana menatap Reno, " Gue mau nikah sama Lo Reno, "