
Alana mengangguk Paham, " Oke, Kak kalau gitu saya ke bendahara dulu,"
Mona mengangguk lalu kembali mengamati berkas-berkas yang ada di hadapannya. Kemudian Alana berlalu dari hadapan Mona dan melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari bendahara. Dan ketika Alana menangkap sileutnya, tak menunggu waktu lama ia lantas menghampirinya
" Kak, boleh ngomong, ?" Tanya Alana
Si Bendahara mendongak, " Eh iya, kamu divisi apa ?
" Saya divisi Humas,Kak "
Si Bendahara mengangguk, " Ada Perlu Apa, "
" Gini Kak, saya di Suruh Kak Mona buat minta buat bayar Pembawa acara, soalnya nanti yang bakal ngasihinnya Humas, lansung, "
Kirana Bendahara mengangguk- anggukkan kepalanya tanda menyimak, " Boleh, deh, " ia merogoh amplop cokelat yang ada di dalam tasnya, " Nih,ntar kalian berarti lansung kasihin aja ya, Nggak usah ada konfirmasi lagi,"
Alana menerima amplop tersebut, " Oke, Kak makasih, "
Alana berlalu dari situ dan kembali menghampiri Mona, " Nih, Kak kata Kak Kirana nanti nggak usah di konfirmasi lagi,"
Mona mengambil amplop tersebut, " Ya udah kerja Lo hari ini Udah beres, Lo boleh Pulang Tapi inget, besok jangan lupa dateng, Ntar yang ada Lo Udah capek sana sini Pas hari H-nya malah Lo nggak dateng, "
Alana Tersenyum, " iya, Kak, "
" Kalau gitu saya duluan, Kak, " Pamit Alana
Mona mengangguk Alana meraih ranselnya lalu menyampirkan di bahunya. kemudian mulai melangkah keluar dari ruangan rapat
" Lo mau Pulang, " Tiba-tiba suara dari arah samping mengagetkan Alana
Alana sontak menoleh, " Eh, iya Kak, "
" Gue anter, "
Alana menggeleng, " Nggak usah Kak saya udah Pesen taksi online, " Ujar Alana
Iqbaal menghela nafas, " Ya Udah ati-ati, "
Alana mengangguk, " Saya duluan, "
Alana melanjutkan langkahnya. Untuk menemani kesepiannya, ia merogoh handphone yang ada di saku celananya. Namun nampaknya itu adalah sebuah kesalahan terbesarnya. Sebab saat ia membuka Lock di handphonenya yang terpampang di sana adalah Foto Samudra. Alana memejamkan matanya ia masih bisa bertahan walau nyatanya tak ada kabar dari Samudra seminggu ini
Alana memutuskan Pulang dengan menaiki angkot Alasannya cuma satu, biar dia lama sampai
Setelah sampai di rumah, Alana kembali terdiam Lama-lama kesunyian ini membuatnya secara perlahan Alana kembali mengeluarkan Handphonenya ia berencana menghubungi teman-temannya siapa tahu moodnya kembali lagi
Orang Pertama yang akan Alana hubungi adalah Satya
" Hallo, " Sapa suara di ujung sana
" Lagi, apa lu, "
" Be, entaran dulu ya gue lagi ada kelas, " bisik Satya sepelan mungkin
Alana tersenyum kecut, " OKE, "
Alana menghela nafas, Lalu yang kedua adalah Raina
Sampai Panggilan kelima, Raina tidak dapat di hubungin. Mungkin ia juga sibuk. lalu ia beralih ke kontak Firdan
" Hallo ? Ujar Firdan
" Lagi, apa lu, "
" Alana entaran dulu ya teleponnya gue ada kelas nih, "bisiknya
Alana tersenyum kecut, " Oke, "
Alana menghela nafas. Tak mungkin ia menelepon Abi, Diakan sedang akademi militer, Pasti di larang membawa handphone
yang terakhir, ia kan menghubungi Gea
" Hallo, " Ujar Gea
" Lagi ngapain lu, "
" Alana, bentar gue maatiin dulu ya, Gue ada rapat entar gue telepon lagi deh, kalau udah beres,"
" Oke, "
Alana lagi-lagi menghela nafasnya. Pada akhirnya ia hanya seorang diri di sini. jarak memang kejam, begitu saja menenggelamkan semua kenangan
...•••...
Besoknya Alana Pagi-pagi sekali langsung pergi ke kampus tanpa mempedulikan sarapan sama sekali Padahal semalam ia tak menyentuh makanan sedikit pun Atau bisa di bilang dalam seminggu ini ia jadi tak nafsu makan
Saat telah sampai di Kampus, Alana langsung bergabung dengan anggota divisinya karena semua divisi tengah rapat per divisi masing-masing
" Lo kebagian tungguin si Pembawa acara ya, Entar kalau dia datang, kabarin gue, lagi, "
Alana mengangguk Paham. lalu ia berjalan keluar kerumunan untuk menjalankan tugasnya. ia akan menunggu di depan gerbang Pintu utama. Rasa-rasanya langkah Alana menjadi berat dan kepalanya seakan ingin Pecah Tapi Alana mengabaikannya. ia harus Profesional dan bertanggung jawab, tak beberapa lama si pembawa acara tiba. Alana memberi Petunjuk jalan untuk mencapai stage. lalu ia memberi tahu Mona
" Lo istirahat dulu aja dulu, Muka Lo Pucet banget, " Ujar Mona setelah semuanya beres
Alana tersenyum, " Makasih, Kak, " ia lalu keluar lagi. Berniat menuju kantin
" Alana, "
Alana sontak menoleh. Ternyata Reno Alana memutar mata malas. setelah berada di hadapan Alana wajah Reno Tiba-tiba saja Terkejut
" Lo Sakit, " tanyanya
Alana menggeleng, " Nggak, "
" Muka Lo Pucet banget Pulang aja deh gue anterin, " sahut Reno Panik
" Apa sih ! Orang gue nggak kenapa-napa, Udah deh jangan lebay, "
" Tapi muka Lo Pucet banget, Gue nggak bohong,"
" Paling kecapean, "
" Ya udah deh gue anterin Lo Ke UKS, "
Alana berdecak, " Gue nggak kenapa-napa, Oke"
Reno menggeleng, " Nggak ! Lo Kenapa-napa,"
Tiba-tiba saja seolah ada yang menghantam kepalanya. Alana sedikit oleng sambil memegangi kepalanya, " Tuh, kan ! Ujar Reno sambil menjaga keseimbangan tubuh Alana
Alana mendorong Reno menjauh, " Modus, Lu,"
" Pokoknya gue anterin lo Pulang ! Paksa Reno sambil memegangi lengan Alana
" Nggak mau ! Lepas, " Alana menyentak lengan Reno
" Ada apa nih ? tiba-tiba suara lain menginterupsi keduanya
Reno mendelik, " Kak, kalau ngasih tugas kira-kira dong. Temen saya jadi sakit Kayak gini, kan gara-gara, kebanyakan tugas, ! Reno menyahut
Alana menggeleng-gelengkan kepalanya, " Nggak kok Kak Jangan dengerin, dia Kak. suka Ngawur,"
" Lo Sakit ? " tanya Iqbaal
Alana menggeleng
" Ya Lo lihat aja sendiri, " Ujar Reno, Alana mencubit Pinggang Reno, lalu menatapnya dengan tajam
" Ya Udah sekarang Lo ikut gue, " Ujar Iqbaal lalu melangkah duluan
" Woy, yang bener aja ! Orang sakit kok di suruh-suruh, "
Alana berdecak lalu mulai melangkah mengikuti Iqbaal dan tidak menghiraukan Reno yang berteriak bak Orang gila
" Kok, ke Parkiran Kak, " tanya Alana bingung karena Iqbaal membawanya ke Parkiran. Iqbaal tak menyahuti ia lalu menaiki sebuah mobil berwarna hitam sedangkan Alana masih berdiri layaknya orang linglung
" Masuk, "
Alana menurutinya
" Btw, kita mau ke mana, Kak, "
" Rumah, Lo, "
" Mau ngapain, "
" Nganter Lo Pulang, "
Alana matanya beberapa kali, " Nggak usah, Kak masih ada tugas,"
Sekitar 15 menitan, keduanya telah sampai di depan rumah Alana
" Makasih, Kak, " Ujarnya
" Nanti Gue bilang ke Mona, kalau Lo sakit,"
" Sekali lagi makasih ia Kak, kalau Gitu saya duluan, " Alana membuka Pintu dan mulai turun dari mobil hampir saja ia terjatuh jika tidak memegang Pintu mobil
Iqbaal keluar dari mobil lalu menghampiri Alana, " Lo Nggak apa-apa ? tanyanya sambil menyangga bahu Alana
Alana sangat terkejut karena skinship yang Iqbaal lakukan, " Saya nggak papa kok Kak, " Alana berusaha melepaskan lengan Alana yang bertengger di bahunya
" Gue anter Lo ke dalam, "
" Apa ? Eh nggak usah Kak, " Ujar Alana Panik
Iqbaal tak mengindahkan Perkataan Alana ia menuntun Alana dan berjalan ke dalam
" kamar Lo yang mana, "
" Di lantai 2, "
Dengan saling bungkam keduanya berjalan menaiki tangga yang menghubungkan dengan lantai dua
" Udah, Kak, sampe di sini aja, " Ujar Alana ketika telah sampai di depan kamarnya
Iqbaal melepaskan lengannya lalu mengangguk. Alana berjalan masuk ke dalam kamarnya. Namun rasanya kepalanya benar-benar terasa berat dan perutnya seolah di remas kuat. Iqbaal yang melihat Alana berjalan dengan sempoyongan Iqbaal berinisiatif menghampirinya
" Lo kena ... "
" Arrgh, "
Alana tak terlalu melihat jalan ia tersandung oleh Pingguran kasur dan karena itu Iqbaal berinsiatif untuk menahan lengan Alana agar tak terjatuh namun Pada akhirnya ia pun ikut terjatuh dehan Posisi Iqbaal yang berada di atas Alana, Bahkan wajah keduanya dekat 1 cm saja bibir keduanya akan saling menyatu
" KEJUT .... "
Alana sontak lansung menoleh ke sumber suara Dan ketika tahu siapa yang ada di ambang Pintu
" Samudra ... "
Samudra menjatuhkan Bungan yang di Pegangannya begitu saja. Wajahnya merah padam serta matanya memerah menahan amarah melihat apa yang tengah terjadi di depannya. Tanpa Pikir Panjang ia langsung mendekati cowok yang ada di atas tubuh Alana menarik kerahnya lalu membantingnya ke lantai
Tanpa menunggu lama, ia menghantam Pipi Iqbaal tanpa ampun. sedangkan Iqbaal yang masih dalam mode Terkejut hanya bisa diam
Alana yang melihatnya langsung Panik. sontak ia bangun dan menghampiri keduanya, " Sam lo, Udah salah Paham, " teriak Alana sambil memisahkan keduanya
Samudra tak mengindahkan teriakan Alana bahkan kini ia merasa Puas melihat wajah babak belur Cowok yang ada di hadapannya
" kalau Lo terus di Pukulin dia, bakalan mati, ! teriak Alana sekali lagi
Tiba-tiba saja Samudra menghentikan kegiatannya dan menatap tajam ke arah Alana. sontak Alana langsung menunduk. Samudra berdiri Dan dengan sengaja ia menginjak Dada Iqbaal
" Aarghh ... " serang Iqbaal
" Sekarang Lo Pergi sebelum Gue bener-bener matiin, " Samudra mengangkat kerah kemeja Iqbaal lalu membantingnya. Tanpa Pikir Panjang Iqbaal lansung keluar dari rumah itu.
kini tinggallah mereka berdua yang ada di dalam ruangan. Perasaan Alana sudah tak karuan sekarang jantungnya bertalu-talu seakan menghantamnya, serta keringat dingin yang keluar begitu saja dari seluruh tubuhnya. Namun yang bisa ia lakukan hanya menunduk dan meremas jari-jemari tangannya
" ini Yang Lo sebut break, " desisnya tajam
Alana Sontak menggeleng
Samudra melangkah mendekati Alana, Namun Alana terlalu takut berdekatan dengan Samudra Pada akhirnya ia hanya mampu berjalan mundur hingga dapat dirasakan Punggungnya menyentuh meja riasnya
Samudra tersenyum sinis. Tiba-tiba ia mencengkram rahang Alana
" Aw, Sakit Sam, " Alana meringis tangannya menggapai lengan Samudra yang ada di Rahangnya
Begitu Alana melihat mata Samudra. ia hanya dapat melihat kobaran amarah yang sangat marah
" Sakit, "
Alana mengangguk dengan raut Pias. Samudra meninju kaca rias yang ada di belakang tubuh Alana. Alana membelalakkan matanya, lalu melihat ke samping di mana lengan Samudra yang berlumuran darah
" Sam, .... "
" Udah sampe mana Lo sama dia ?
" Lo salah Pah ... "
" Udah tidur beberapa kali, "
Alana menggeleng, " Nggak Sa, ini semua ... "
" GUE TANYA UDAH BEBERAPA KALI LO TIDUR SAMA DIA ? teriak Samudra tepat di depan wajah Alana
Alana memejamkan matanya. Air matanya lolos begitu saja jujur saja Samudra terlihat Sangat menyeramkan saat dia marah.
Lagi-lagi Samudra kembali mencengkram rahang Alana dengan tangan berlumuran darah. ia mendongakkan wajah Alana agar dapat bertatapan dengannya, " Kebiasaan Lo nggak akan Pernah hilang sekali Cewek murahan selamanya tetep jadi murahan,"
" Sam, Gue bisa jelasin, "
Alana melirik lengan Samudra yang Penuh dengan darah dan ada beberapa serpihan kaca juga yang menancap di sana
" Sam, tangan Lo berdarah, Gue obatin dulu, ya ?
" Nggak usah sok Care sama gue, " Napas Samudra menderu, " Apa yang Cowok itu Punya yang nggak Gue Punya ?
" Lo salah Pah .. "
" Lo minta kita break biar bisa Pacaran sama dia kan "
Alana menggeleng, " Dengerin Penjelasan Gue dulu Sam, Please, "
Samudra diam
" Gue Cinta sama Lo, Nggak mungkin Gue se .. "
" Cinta ? Lo Pikir Gue buta Lo Pikir Gue nggak bisa nebak apa yang bakal Lo berdua lakuin,"
Alana kembali menjatuhkan air matanya," Gue nggak sedikit Pun berpikir buat selingkuh,"
Samudra menggeleng tak percaya, " Gue Jadi Ragu Pas kita Nikah Lo masih Perawan apa Nggak, "
Alana menampar pipi Samudra, " Berengsek Lo sam Bahkan mantan mantan gue jauh lebih baik daripada Lo,"
Samudra memegang Pipinya yang berdenyut nyeri, " Gue Mau tanya sama Abi, Satya, Firdan apa masing-masing dari mereka Udah beberapa kali nyoba tubuh Lo,"
Mata Alana membelalak terkejut akan Ucapan Samudra. Tak ia sangka Samudra dapat berkata demikian Hatinya sakit sejak Samudra melontarkan kalimat hinaan demi hinaan pada dirinya Napasnya memburu Alana ingin sekali menampar pipi samudra sekali lagi
" LEPASIN TANGAN GUE BERENGSEK, " jerit Alana histeris. ia tak kuat lagi
Samudra tersenyum mengejek, Bukannya Cewek murahan harus di Perlakuin kayak gini,"
" Sam, sadar, Gue bisa sejelas-jelasnya,"
" Udah Cukup Alana, Harusnya Lo bilang dari awal kalua Lo nggak bahagia sama gue, " Ujar Samudra, " Lo bahagia sama kebebasan Lo, kehadiran gue Cuma bisa ngebatasin semua kebebasan Lo. Gue tahu Lo tertekan sama Gue,"
Alana menggeleng-gelengkan kepalanya tapi Percuma Samudra tak dapat melihatnya
" Mulai dari sekarang Lo bebas, ngelakuin apa pun yang Lo mau, "
" Sam ... "
kontan Samudra mengangkat sebelah tangannya memperingati supaya Alana diam dan mendengarkan Perkataannya " Kita nggak bisa bersama-sama lagi, ". Ujar Samudra datar
ia lalu mendekati Samudra dan memeluk Samudra dari belakang, " Nggak sam Gue bahagia sama Lo, " Ujar Alana dengan air mata yang tak henti-hentinya menangis
Samudra diam untuk beberapa saat. Biarkan ia merasakan Pelukan Alana Untuk terakhir kalinya. ia berbalik menghadap ke Alana menangkup wajah Alana, " Mulai sekarang cari Cowok yang nerima Lo apa adanya. yang nggak Pernah ngebatasin kebebasan Lo dan berengsek kayak gue, "
Alana menggeleng, " Nggak Sam, Lo, "
" Gue Nyesel udah bikin masa mudah Lo nggak jadi tenang. Tapi gue seneng bisa sedeket ini sama, Lo, " Ujar Samudra tulus, lalu ia menatap wajah Alana dengan harap, " Gue harap Lo bisa bahagia sama Cowok yang Lo Cintai, nanti,"
Samudra mencium kening Alana dengan lembut, " Makasih buat semuanya, Semoga Lo bahagia, " lalu Samudra berdiri melangkah menjauhi Alana
" SAM ! LO MAU KE MANA ! SA, jANGAN PERGI LO BILANG GUE INI RUMAH LO, LO NGGAK PERLU PERGI, GUE SAYANG SAMA LO, SAM, GUE BAHAGIA SAMA, LO, !! teriak Samudra
Samudra tak memperdulikan teriakan Alana. ia hanya meraih koper. yang tadi ia bawah tadi. lalu melangkah keluar dari kamar
Alana berusaha mengejarnya. Tapi pada akhirnya ia terjatuh di atas lantai
" Jangan tinggalin Gue lagi, " lirihnya
Semuanya terlambat, karena suara deru mobil di pekarangan rumahnya terdengar berjalan menjauh, mulai saat ini, dunia Alana hancur sepenuhnya