Married With Boyfriend

Married With Boyfriend
Chapter 40 DIA KEMBALI



" Maaf, ya nggak bisa nganter Lo, " Ujar suara di seberang sana


" Santai aja lagian gue, tahu kok Lo sibuk-sibuknya, " balas Alana Penuh Pengertian


" Gimana, kalau gue udah beres, entar gue nyusul, ?


" Jangan, " balas Alana cepat-cepat, " Nggak Papa kok, selow, "


Terdengar suara helaan nafas di ujung sana, " kalau ada apa-apa langsung hubungi gue, ya,"


Alana Tersenyum simpul, " Lo selalu gitu deh Ren Gue bakal hati-hati kok"


" Kabarin gue kalau udah Pulang,"


" Oke, kalau gitu udah dulu ya, mau Otw,"


" Ya udah take care, "


" Bye, "


Sebenarnya Alana tahu Reno masih memendam rasa padanya. ia tahu Reno sangat mencintainya dan yang Alana tahu, Reno tak pernah memaksanya untuk membalas cintanya. Posisinya sekarang Alana seolah memberi harapan Pada Reno Tapi ia bisa apa ? Seberapa keras Pun Alana menyuruh Reno untuk berhenti, namun sebanyak itu Pula alasan yang ia dapatkan


Alana menghela nafas. sebelum benar-benar keluar dari kamar, ia kembali mengecek Penampilannya takut-takut ada yang salah. setelah rasa oke, ia langsung keluar dari kamar, menuruni tangga, dan menuju ruang santai di mana orang tuanya tengah bersantai


" Ma, Pa aku berangkat ya, " Pamit Alana


" Lho Perasaan Reno belum dateng deh " sahut Rani. orang tuanya tentu tahu hubunganya dengan Reno karena Alana telah mengenalkannya beberapa tahun yang lalu


Alana tersenyum, " Aku berangkat sendiri, Ma, "


Rani mengangguk Paham


" Mau Papa anter nggak, "


Alana menggeleng, " Nggak usah deh Pa aku bawa mobil sendiri aja,"


" Bener, nih, "


Alana mengganguk mantap, " Ya udah Alana berangkat ya, " Alana mencium lengan kedua orang tuanya


" Hati-hati ya Sayang, "


Alana mengangguk lalu berjalan keluar rumah


" Oy, Alana, ! Panggil seseorang ketika Alana Celingukan di tengah Aluna. Alana menoleh dan ternyata Satya. Alana Tersenyum menghampirinya Di sana semua teman-temannya hanya Alana sepertinya ngaret sedikit


" Yang sibuk sampe-sampe LINE gue nggak Pernah di bales, " sindir Satya


Alana terkekeh, " Gue sibuk banget, sumpah, " belanya


" iya, Deh Bu Dokter,"


" Alana apa kabar ? sapa seseorang yang sangat Alana kenali


" Eh, Kak Boby dateng, Gue baik aja kok, Kak, elo Gimana,"


Boby Tersenyum, " Gini-gini aja mah ? setelah menegur Alana, Boby kembali ke gengnya iya gengnya dulu ada Satya, Surya, Kevin, kecuali Samudra


Sebenarnya reuni ini adalah reuni Akbar, reuni besar-besaran dari tiga angkatan. Di mulai dari angkatan adiknya kelasnya, angkatannya, dan angkatan Samudra mengingat Samudra, apa dia bakal datang ?


Fokus Alana beralih kembali Pada teman-temannya


" Sampe Sekarang gue nggak nyanka kalau kalian berdua jadian, deh " Ujar Alana


Abi memberenggut, " Gue udah denger lo ngomong gitu sampe rasanya telinga gue hampir Pecah, " rutuk Abi


Alana Terkekeh, " Kalian tuh kayak merealisasikan drama Korea, yang judulnya apa, ya Pokoknya tentara sama dokter Nggak nyanka banget gue, " Ujar Alana kagum


Raina berdecak, " Kalau diiitung gue udah denger Lo ngomong Kayak gitu lebih dari 56 kali."


Percaya nggak Percaya ternyata Raina dan Abi Pacaran, sesuatu yang nggak pernah di pikirkan sebelumnya. jodoh memang selucu itu


" Kalau Gea ? tanya Alana Pada Gea. Gea sontak menoleh ke arahnya, " judul yang Pas buat Lo adalah mantan gue jadian sama sahabat gue sendiri, " Ujar Alana sambil terkekeh Pelan


Gea menggeleng, " kebanyakan gaul sama orang sakit otak Lo jadi kebawa geser, "


Dan, you know what ? Gea jadian sama Dion itu juga sesuatu yang nggak Alana mengerti sama sekali lagi-lagi jodoh nggak ada yang tahu


Dion Tersenyum simpul Pada Alana


" Reno nggak Lo ajak ? tanya Satya


Satya sangat tahu bagaimana Perasaan Alana. Dulu saat dia dikabarin bahwa Alana berada di titik terkelamnya, ia langsung mengambil penerbangan Jerman ke Jakarta


Alana tersenyum, " Lagi sibuk katanya sih ada operasi dadakan, "


Satya mengangguk lalu mengalungkan sebelah lengannya Pada bahu Alana, " Seneng deh, gue punya dua cewek malam ini, " Ujarnya santai. Pacarnya tak cemburu tentu saja tidak malahan ia terkekeh mendengarkan ucapan Satya


" Permisi nih, mas, Mbak, " seseorang menginterupsi Dan ternyata itu adalah Firdan. Hebatnya dia mengandeng dua cewek sekaligus di kedua bahunya sekaligus


" Manta, Bro Cewek, Lo, " Celetuk Abi mengacuhkan jempolnya


Langsung saja Raina mencubit pinggang Abi


" Aw, Sakit, Na, " keluh Abi


" Mata di jaga, " Ujar Raina sadis


Abi lansung bungkam. Alana diam-diam Terkekeh melihat dua sepasang sejoli ini.


" gimana kalau Lo nyanyi Alana, " Ujar Satya tiba-tiba


" Gue nggak bisa nyanyi Satya gila loh,"


" Gue setuju kalau Alana nyanyi, " Kompak semua teman-temannya


" Hmm, Oke deh, "


" Gitu dong, "


Suara musik mengalun. Orang orang mulai menuju ke depan podium.


Alana mulai memetik gitar


...Meski dirimu bukan milikku...


...Namun hatiku tetap untukmu...


...Berjuta pilihan di sisiku...


...Takkan bisa menggantikanmu...


Alana memejamkan matanya, menghayati lirik demi lirik dari lagu tersebut. walau ada seribu cowok yang lebih baik dari samudra. ia akan tetap memilih Samudra


...Walau badai menerpa...


...Cintaku takkan ku lepas...


...Berikan kesempatan...


...Untuk membuktikan...


...Ku mampu jadi yang terbaik...


...Dan masih jadi yang terbaik...


Alana mampu membuktikan bahwa tak ada yang mampu menggantikan sosok Samudra di hidupnya, Bukan hanya dulu, Tapi sekarang dan nanti Samudra akan selalu kekal di hatinya


...Ku akan menanti...


...Meski harus penantian panjang...


...Ku akan tetap setia menunggumu...


...Ku tahu kau hanya untukmu...


Entah karena lagunya yang cukup terbilang bilang galau atau karena apa tapi para penonton seolah mengerti perasaan Alana yang tergambar lewat lagu ini


...Biarlah waktuku...


...Habis oleh penantian ini...


...Hingga kau percaya betapa besar...


...Cintaku padamu...


...Ku tetap menanti...


...Biarlah waktuku...


...Habis oleh penantian ini...


...Hingga kau percaya betapa besar...


...Cintaku padamu Ku tetap menanti...


Entah mengapa akhirnya Alana merasakan air matanya berair ia selalu berharap apa pun akhirnya, semoga Penantiannya tak berujung sia-sia. Samudra adalah sebagian jiwanya jika ia tak kembali,makan jiwanya tak kan pernah kembali utuh


...Cintaku padamu...


...Ku tetap menanti...


Cintanya hanya milik Samudra, tak akan ia biarkan seorang Pun yang mengambilnya. Hanya untuk Samudra ia rela menanti selama ini


...Meski dirimu bukan milikku...


...Namun hatiku tetap untukmu...


Alana mengakhiri lagunya dengan sebuah senyuman, senyuman yang selama lima tahun ini menemaninya senyuman yang berarti sebuah kepalsuan agar semua orang tahu bahwa Alana baik-baik saja. Padahal nyatanya, Alana telah hancur sejak lama


Semua penonton bertepuk tangan tak terkecuali Alana membungkukkan badannya, ketika ia kembali menegakkan tubuhnya, ia terkejut bukan main. Alana membelalakkan matanya, dadanya berdetak tak menentu Air matanya jatuh begitu saja, Dari ujung aluna. sana, berdiri orang yang menjadi peran utama dalam lagunya tadi. ia menutup mulutnya sendiri saking syoknya. kakinya mendadak melemas, Namun tak bisa di Pungkiri senyum tiba-tiba terbit di bibirnya


" Samudra ... "


Alana masih terdiam di atas Panggung. ia masih mematung. Tak tahu kenapa kakinya tak bisa ia gerakkan sama sekali. Lalu tiba-tiba saja badannya seolah di Peluk seseorang


" Penantian Lo nggak sia-sia, Be, " bisik orang tersebut di telinga Alana


Alana seolah di sadarkan dari kerterdiamannya lalu ia membalas Pelukan Satya, " Sat ... gue nggak tahu apa yang lagi gue rasain tapi rasanya gue ... gue .. nggak bisa ngapa-ngapain saking senengnya, " Ujar Alana dengan suara bergetar matanya berkaca-kaca


Satya melepaskan Pelukannya " Samperin sana Pangeran berkuda Putih lo, " Ucap Satya dengan mengerlingkan mata jahil kemudian terkekeh ia jadi ikut terharu dengan apa yang ia rasakan


Alana turun dari Panggung di susul oleh lainnya. suasana aula mendadak senyap. sebagian dari mereka ingin menonton apa yang tengah terjadi. Alana berjalan dengan tergesa-gesa ke arah, Samudra, ia tak bisa lagi menyembunyikan senyumannya. rasanya tak ada lagi hal yang paling menyenangkan di dunia ini selain bertemu dengan Samudra


Langkah Alana terhenti begitu saja ketika matanya menangkap sosok cewek yang tak ia kenali tiba-tiba saja masuk. Tangan cewek itu mengandeng lengan Samudra


" Maaf ya aku lama, " Ujarnya tersenyum lalu di balas senyumannya oleh Samudra


Alana diam membantu Otaknya. tengah mencerna baik-baik apa yang tengah terjadi saat ini


" Kak Cewek ini Siapa, Lo ? tanya Abi hati-hati Alana menahan nafasnya. semuanya fokusnya tertuju Pada sosok di depannya


Samudra menatap sekilas lalu menatap kembali Cewek yang ada di sampingnya, " Dia tunangan gue, "


Mendengar ucapan Samudra barusan, seolah semua kebahagiaan yang menghinggapi Alana terambil semua dari jiwanya. jiwanya kosong. Alana seolah menusukkan sebilah pisau tepat di jantungnya, rasanya amat menyakitkan


Dan entah di mulai dari mana, Alana melihat Satya menerjang samudra dengan Penuh emosi. lalu susul diteriakan orang-orang yang ada di dalam aula. kemudian tubuhnya seperti di peluk oleh beberapa orang dan saling berusaha menguatkan Alana tapi apalagi yang harus dikuatkan, hidup Alana sudah sangat hancur dari detik ini Juga


" Lo Pasti bisa Alana, Lo nggak Pantes buat dia Lo terlalu baik buat Cowok berengsek kayak Samudra, " Alana tak tahu siapa yang barusan berucap, tak tahu juga siapa saja yang memeluknya. Bahkan Alana tak mendengar apa pun lagi. semuanya hening tak bersisa


Lalu tatapannya beralih Pada apa yang tengah terjadi di depannya. ia melihat Samudra yang diam saja ketika Satya menghajarnya tanpa ampun. Alana menggeleng gelengkan kepalanya, Satya tak boleh melakukan apapun pada Samudra. Samudra-nya tak boleh terluka, tidak boleh


Alana melepaskan pelukannya lalu berjalan ke arah Samudra dan Satya


" Sat, Udah ! Lo nggak boleh nyakitin Samudra," Teriak Alana keras-keras sambil berusaha memisahkan keduanya. Entah karena apa pula orang-orang di sekitar tak ada berniat memisahkan keduanya


Namun Satya tak bergeming. ia malah semangat memukul bagian wajah Samudra ataupun bagian tubuh Samudra yang terpenting Samudra merasakan sakit walau nyatanya rasa sakit Alana terlampau lebih besar, " Lo Banci, anjing, " Umpat Satya lalu memukul Perut Samudra


" SAT UDAH ! GUE BILANG UDAH YA UDAH, " teriak Alana Penuh frustasi. ia tak bisa melihat samudra begitu. ia tak bisa melihat samudra tersakiti jauh lebih banyak lagi. Air matanya mengalir begitu saja seiring dengan hatinya yang berdenyut nyeri


Satya terdiam di atas tubuh Samudra lalu melihat sejenak Alana. setelahnya ia menjauhi tubuh Cowok itu, " Ayo kita Pulang !" Ujar Satya sambil menarik lengan Alana


Alana menggeleng dan berusaha melepaskan cekalan lengan Satya di lengannya, " Nggak gue nggak mau, " Ujar Alana


Satya berdecak kesal melihat kelakuan sahabatnya yang benar-benar sudah di butakan oleh Cinta, " Lo Cinta boleh, bego jangan ! Lo nggak Pantes buat Cowok Pengecut kayak dia,"


Alana menggeleng, " Lo salah, di sini gue yang salah bukan dia, " Ujar Alana kukuh


Satya menghela nafas kesalnya lalu selanjutnya melepaskan lengan Alana begitu saja. ia lama-lama gedeg juga sama Alana, setelah Satya melepaskan lengannya langsung saja Alana melesat menghampiri samudra yang terduduk di lantai dengan mengusap kasar darah yang ada di bibirnya


Alana memeluk Samudra begitu erat dan menangis di bahu cowok itu, menumpahkan segala keluh kesahnya selama 5 tahun ini. walau nyatanya Samudra tak membalas pelukan Alana. Alana menguraikan Pelukannya, " Lo, nggak apa-apa kan, Sam, " Alana menatap khawatir wajah Samudra Penuh lebam


" Gue nggak papa, " Jawabnya biasa saja. lalu dengan gerakan tangannya. Samudra seolah menginginkan Alana untuk menjauh


Namun Alana enggan, ia malah makin menangis di hadapan Samudra, " Semua ini bohong kan Samudra ? tanya Alana dengan Penuh harap


Samudra membuang mukanya dari hadapan Alana, " Nggak gue emang udah Tunangan Alana, " Ujarnya dingin,lalu menujukkan tangan kirinya yang sudah terpasang cincin


Hati Alana sakit melihatnya. Dulu di sana terpasang cincin Pernikahannya, Tapi sekarang dengan mudahnya Samudra menggantikannya begitu saja. Dan nyatanya Alana masih memakai cincin Pernikahan itu sampai sekarang


" BANGSAT LO ! teriak Satya dari sana


Jika saja Abi dan Firdan tak menahannya mungkin saja Samudra akan kena bogeman mentah Satya lagi


" Sam, Gue nunggu Lo selama lima tahun," Ujar Alana Pedih, " Apa rasa cinta Lo nggak ada sedikit itu gue Samudra " tanya Alana Putus asa


Samudra bungkam lalu berdiri. Alana tak melakukan apa pun, ia hanya melihat apa yang tengah terjadi, " ikut gue, bakal jawab apa yang Lo tanya, " sahutnya lalu melangkah ke luar aula


ketika Alana akan mengikuti langkah samudra. ia merasakan ada langkah-langkah laki yang mengikutinya Alana berbalik, " Gue mohon,gue mau bicara empat mata,"


Semua orang mengangguk Paham dan tersenyum sambil memberikan semangat Pada Alana. Alana tersenyum balik kemudian meneruskan langkahnya untuk mengikuti Samudra. ternyata Samudra membawanya ke area taman sekolah. Samudra memunggunginya dan Alana berjalan kecil-kecil menghampirinya


" Sam ... " Panggilnya lirih


Samudra membalikkan badannya, menatap Alana seolah tak terjadi apa-apa pada mereka


" Gimana kabar, Lo, "


" Gue baik Alana, " bahkan Samudra tak ada tanda-tanda untuk sekedar balas tanya


" Selama ini Lo ke mana aja, ?


" Gue rasa bukan itu yang mau lo tanya,"


Alana memejamkan matanya sebentar lalu menarik napasnya dalam-dalam, " Gue seneng lo balik ke sini, " Ujarnya tak mampu lagi untuk menutupi raut kebahagiaannya, " selama Lima tahun ini, gue udah banyak berubah, Gue udah jadi dokter, Sam. Gue juga sekarang bisa masak, gue nggak Pernah ngumpat kasar, semua ini gue lakuin Cuma buat Lo,"


Samudra menghela nafas. Lalu tiba-tiba saja kedua tangannya sudah bertengger di bahu Alana, " Oh, iya selamat ya akhirnya Lo jadi Dokter, Tapi gue kan nggak pernah nyuruh lo buat nunggu gue, Terakhir gue bilang kita nggak bisa sama sama lagi kita udah nggak cocok lagi, "


Alana menggeleng, " Nggak Samudra kita cocok gue nggak mau Cowok lain, gue Cuma mau Lo nggak ada yang lain, "


" Please Alana ... lo harus ngertiin gue Kita nggak bisa sama-sama lagi, "


Alana menyentak kasar lengan Samudra, begitu saja, " Kenapa Lo bisa ngomong seenak jidat Lo, Sam Gue nunggu Lo selama lima tahun, bahkan selama lima tahun ini, gue selalu yakin Lo pasti dateng dan bakal jemput gue lagi. selama ini gue udah hampir nyerah, teman teman gue yang lain nyuruh gue buat berhenti. Tapi gue nggak bisa Sam, Gue nggak bisa, karena apa ? karena gue cinta sama lo, Dan sekarang lo dengan gampangnya bilang kalau kita nggak sama sama lagi ? Lo udah gila Sam "


Seketika Samudra menundukkan kepalanya, " Gue minta maaf Alana kalau gue salah ?


" Kalau Lo salah ? jelas lo salah Lo nggak tahu segimana menderitanya gue selama ini ?! jerit Alana kesal, " Gue mau Lo sam, nggak ada yang lain Gue nggak bisa hidup tanpa Lo, Samudra " lanjut Alana dengan suara tercekat lalu tanpa bisa di cegah, air tanpa bisa ia cegah, air matanya turun begitu saja, " Gue mau Lo, Sam nggak ada yang lain, "


Alana mengusap air matanya yang jatuh mengenai Pipinya, " Cuma Lo sumber kebahagiaan gue, Gue mohon Lo tetep tinggal di sini Sam, jangan tinggalin gue lagi, "


" Gue nggak bisa, "


Alana menatap Samudra dengan pandangan terluka, " Kenapa ? Apa karena Cewek itu iya kalau Lo cuma mikirin cewek itu, Kenapa Lo nggak bisa mikirin Perasaan gue juga Gue yang udah nunggu Lo selama lima tahun ini Gue yang berjuang buat nunggu Lo, gue yang selalu setia sama Lo dan Lo bakal ninggalin gue begitu saja ? sebenarnya hati Lo itu terbuat dari apa sih, "


Samudra tiba-tiba memeluk tubuh Alana, " Maafin gue Alana Sesuatu yang udah rusak nggak akan bisa Lo perbaiki seperti semula lagi, Walau bagaimana pun lo berusaha," Samudra mengusap Punggung Alana naik turun karena menangis, " Lo berhak dapetin cowok yang jauh lebih baik daripada gue. jangan Pikirin gue lagi Lo harus bisa lupain gue,"


Alana membalas Pelukan Samudra dengan erat, " Apa Penantian gue selama ini sia-sia"


Samudra diam tak menjawab


Kemudian Alana melepaskan pelukannya dan. menatap Samudra dalam, " Tatap mata gue, Sam,"


Samudra mengikuti Ucapan Alana, kata orang mata adalah cerminan langsung dari apa yang hati kita rasakan


" Sebelum ini semua berakhir, gue mau tanya satu pertanyaan ke Lo, " Alana menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan, " Apa elo masih cinta sama gue, " tanya Alana dengan nada Alana Penuh harap


Samudra diam sejenak lalu membuang muka ke samping


" Nggak, "


Sudah Cukup ! satu jawaban dari Samudra seolah sudah menjawab semua Penantian selama lima tahun ini ia memundurkan tubuhnya secara teratur lalu berlari dari hadapan Samudra. ia tak akan mau melihat cowok itu lagi Hatinya telah di Patahkan, sedemikian kejamnya oleh Samudra. tapi mau Bagaimana pun, separuh Hatinya telah tinggal di diri Cowok itu


...Mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk benar-benar melupakan semuanya...