
Beberapa hari ke belakang, Alana amat sensitif dengan kata Perpisahan. jauh di dalam lubuk hatinya, ia takut akan sesuatu yang berubah dalam sebuah hubungan jarak jauh. Entah itu sikap, emosi bahkan Rasa Cinta.
Saat ini Alana tak hentinya memeluk tubuh Samudra, sangat melekat seperti lem. Samudra tak masalah, ia juga memeluk Alana tak kalah erat.
" 10 menit lagi, " Ujar Alana ketika dirasa Samudra akan melepaskan Pelukannya
Samudra menghela nafas, " Bentar lagi Gue harus Otw, "
Dengan enggan Alana akhirnya melepaskan Pelukan Samudra
" Udah yuk, ke bawah. Orang tua gue udah ada di bawah, "
" Pasti ada Nenek lampir, " sahutnya
Samudra Terkekeh lalu mencubit hidung Alana, " Hush nggak boleh gitu, "
Alana berdiri dari duduknya, begitu pun Samudra, " Ya udah yuk, "
Samudra menyeret kopernya dengan sebelah tangan menggenggam jemari Alana
" Ayo Sayang 40 menit lagi Pesawatnya take off Papa udah di mobil nungguin, Kamu " Ujar Sandra
" Ayo, Ma, " Ujar keduanya lalu berjalan beriringan
" Oma mana ?" tanya Alana karena ia tak melihatnya
" Oma Udah naik mobil duluan, "
Alana menganggukkan kepalanya lalu berjalan beriringan menuju mobil
Sandra duduk Paling depan,Oma di kursi kedua Paling Pojok kanan, Samudra di sebelah kiri Oma dan Alana di sebelah kiri Samudra jadi Posisinya Samudra di tengah tengah Alana dan Oma
" Nanti Oma bakalan kangen sama kamu," Ujar Oma mengelus Pundak Samudra
" Sama, Oma, "
" Udah siap, " tanya Dirga
" Siap Pa, " Ucap Samudra Dengan begitu mobil melaju dengan kecepatan sedang
" Nanti kalau ada waktu sering-sering Pulang ya Sayang, "
" iya Oma, " Jawab Samudra
Alana memutar bola matanya
" kalau bisa Pulangnya ke rumah Orang tua kamu aja, " Ujarnya sinis sambil melirik sinis ke arah Alana
Alana Cuma bisa ngelus dadanya Sabar, Orang baik mah banyak yang sirik Tiba-tiba saja Alana menggenggam jemari Samudra dan menariknya ke atas Pahanya
Sekitar 20 menit kemudian, mereka sampai di bandara. Para Orang tua sibuk mengurus ini itu untuk Kepentingan Samudra. sedangkan keduanya lebih memilih memisahkan diri. berjalan menjauhi kerumunan. Terhitung 20 menit lagi Samudra meninggalkan Alana dalam artian sesungguhnya. Samudra tak henti
hentinya menggenggam erat jemari Alana, begitu Pun sebaliknya setelah menemukan tempat duduk yang pas, keduanya memutuskan untuk duduk. setelah sekian lama terdiam keduanya Tak ada yang bersuara, karena mereka yakin satu kata saja yang keluar akan berujung menyedihkan
Samudra menghela nafas, ia tak bisa berlama-lama dalam kebisuan ini, sama saja membuang waktu berharganya
" Lo harus Pake ini, Biar di sana elo nggak ngelirik Cewek lain, " Ujar Alana memasangkan kacamata hitam Pada Samudra
" kayak mau ngelayat aja Sih " Ujar Samudra sembari membenarkan letaknya kacamatanya
" Sam, janji ya Lo bakal Pulang Secepatnya, " Ujar Alana
Samudra mengangguk, " Dan Lo harus Janji buat nunggu Gue Pulang,"
Alana tanpa ragu mengangguk, " Gue, bakal nunggu, selama apa pun itu, " Ujar Alana, " Dan Lo harus janji buat Percaya sama gue, "
" Kenapa gue harus nggak Percaya sama Lo ? Gue bakal selalu percaya sama Lo, "
" Jangan lupa hubungin gue minimal sehari sekali. kalau Lo sibuk dan nggak mau di ganggu bilang, jangan tiba-tiba ngilang nggak ada kabar,"
Samudra mengangguk
" Lo Pake dong cincinnya, biar nggak ada yang mikir Lo itu masih single, "
Alana tersenyum senang lalu menggenggam lengan Samudra, " Awas aja Pulang-pulang bawa anak istri, "
" Lah, kan anak gue udah ada di Perut Lo,"
" Enak aja, kapan bikinnya, "
Samudra Terkekeh, " Maunya kapan, bikinnya ?" tanyanya dengan kerlingan jahilnya, " Mau sekarang juga, ayo !"
" idih, mau Pergi juga masih sempat sempetnya ,mikir Kayak gitu, " Ujar Alana kesal
Samudra melirik jam yang melingkar di tangannya, " Ke Orang tua gue lagi yuk, takut Pada nyariin,"
Alana mengangguk menyetujui lalu keduanya berjalan beriringan
" Ya ampun kalian udah Papa cari ke sana kemari malah Pacaran, " Ucap Dirga kesal
Alana dan Samudra nyengir, " Maaf, Pa"
" Udah, nggak apa-apa, Ayo siap-siap Udah mau take off 7 menit lagi, " Ujar Sandra Panik
" Kalau udah sampai, jangan lupa hubungin Oma ya Sayang, " Ujar Oma lalu memeluk Samudra erat
" Pasti Oma, "
" Oma tuh sebenernya nggak ikhlas ngelepas kamu gitu aja, Tapi ya namanya ngejar cita-cita Oma nggak bisa apa-apa Oma ngedoain yang terbaik buat kamu, "
" Makasih Oma, "
Oma melepaskan pelukannya lalu di susul Pelukan Mamanya, " Awas aja kamu lupa pulang ke Indonesia, Mama coret kamu dari kartu keluarga, " Ujar Sandra yang tentu saja bercanda
" Masa aku Lupa Pulang sih, Ma, " Ujar Samudra mengelus Sayang Punggung mamanya
Lalu Pelukan tersebut di sambung Papanya, " Bikin Papa bangga sama keputusan kamu, " Samudra mengangguk
" KITA TELAT NGGAK GUYS, " teriak suara dari ujung sana, semuanya menoleh Dan di sana anak-anak cowok berlari kesetanan, Boby, Surya, Abi dan Satya
" Hampir telat, " Celetuk Alana
" Sam, nih dari kita-kita nggak seberapa sih tapi jangan lihat harganya tapi niatnya. Btw anak anak yang nggak dateng titip salam, " Ujar Boby memberikan kotak Pada Samudra
" Thanks ya bro, " Ujar Samudra, lalu memeluk mereka satu persatu
" Jangan mentang-mentang Lo jadi anak luar entar Lo sombong sama kita-kita anak lokal, " Ujar Surya
Samudra Terkekeh. Lalu terdengar suara speaker yang memberitahu bahwa Pesawat yang Samudra tumpangi akan take off. Dengan segera Samudra mendekati Alana lalu memeluknya dan di balas oleh Alana
" Abis ini jangan nangis sendiri di rumah. jangan galau karena gue nggak ada. Jangan ngerasa nggak ada yang lindungin, jangan ngerasa nggak punya Pacar biar Lo bisa dapet Pacar lagi, "
Alana menepuk Punggung Samudra, Pelan, " Apa-apaan sih, "
" Kalau nggak ada yang bikin Lo seneng. bikin Lo sedih, bikin Lo sakit hati, bahkan bikin Lo baper, Pokoknya Lo harus bilang sama gue, nggak boleh nggak, "
Alana mengangguk, " Lo harus tetep sehat. jangan lupa makan, Jangan belajar terus sehari nggak bikin Lo bego, "
Samudra mengangguk, kemudian ia melonggarkan Pelukannya, " I Love you ,"
" I Love you too, "
Keduanya kembali berpelukan erat
" Ehmmm .... kalau Pelukan terus Bisa-bisa Samudra nggak jadi ke New York dong, "
Keduanya akhirnya melepaskan pelukannya, " jangan lupa kalau udah sampai LINE gue, "
Samudra mengangguk lalu mencium kening Alana, " Jangan lirik Cowok lain,"
Lalu Setelahnya ia berpamitan pada semuanya dan berjalan menuju Pesawatnya berada. Meninggalkan rumahnya sejenak, meninggalkan Orang orang yang akan setia menunggunya
Alana mengamati Punggung yang makin lama makin menjauh itu dan entah kenapa makin jauh Punggung itu melangkah makin hilang separuh jiwa Alana, Seolah telah di bawah Pergi oleh si Pemilik hati. Dan ia berjanji akan menunggunya Pulang kembali. karena Alana adalah rumah bagi Samudra jika si Pemilik pergi maka rumah akan terasa hampa