Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Up All Night



🌙🌙🌙


Instagram : itsnotdein


******* : deedein


🌙🌙🌙


TIDAK ada udara yang panas malam ini, tidak ada desahan panjang dengan menjeritkan nama di atas ranjang, dan tidak ada pagi hari untuk melihatnya terbangun tanpa sehelai benang, seharusnya Ashley sudah menduga itu, bahkan rumor mengenai Cruz Aaron Marquez adalah gay memang tidak sepenuhnya salah. Ini tidak normal seperti apa kata Madam Ademee. Well, cukup gila bahwa Ashley menginginkan Cruz untuk kebutuhan birahinya. Dua kali, mereka hanya bertemu hanya sekedar makan malam, tidak ada apa-apa selain makan malam, tidak ada menonton netflix, ataupun suasana romantis lainnya.


Sebenarnya, makan malam dapat Ashley dapatkan di mana saja, tidak dengan Cruz. Hanya saja makan malam dengan Cruz terkesan berbeda, dalam artian aneh mungkin. Bagaimana tidak? Makan malamnya selalu didominasi oleh kegelapan tidak ada pencahayaan selain lilin-lilin lavender.


Dan seharusnya, mereka bisa berbincang mengenai sesuatu yang manis, tapi tidak, Cruz malah membicarakan Austin Alexander—mantan kekasih Ashley. Sudah tiga hari sejak kepergian Austin Alexander membuat publik terkejut karena tiba-tiba laki-laki itu ditemukan tiada di kamarnya dengan mengonsumsi obat-obatan. Enam bulan menjalin asmara dengan Austin tidak membuat Ashley senang, meski laki-laki itu memiliki selera humor tinggi. Hanya saja Ashley merasa kecewa dengan Austin yang tidak memberikan apa yang laki-laki itu janjikan.


“Anda baik-baik saja, Miss?”


Terlonjak kaget, Ashley yang sedari tadi melamun pun menatap Sony dari rear view mirror, dia mengusap dadanya. “Ya.” Kembali membuang muka ke jendela melihat jalanan basah karena terguyur hujan deras malam ini.


“Maaf, apa aku boleh bertanya?” Ashley menatap Sony ragu-ragu.


Sony mengangguk. “Apa pun.”


“Sebenarnya untuk apa Cruz memintaku di malam hari untuk sekedar makan malam, dan kenapa kau harus menjemputku dengan limusin mewah ini ... maksudku, aku biasa akan memesan taksi, aku benar-benar dibuat bingung.” Tanpa sadar Ashley berdecak menyadari betapa menyebalkannya Cruz. Itu benar-benar brengsek bagi Ashley.


“Karena Anda istimewa.” Sony menjawab singkat.


Ashley mengumpat dalam hati, menyesal pernah bertanya pada Sony, dia sama saja menyebalkan seperti majikannya. Bukan jawaban seperti itu yang Ashley inginkan, maksudnya, jawaban yang masuk akal dan normal. Ashley mendidih di dalam hatinya.


Setelah itu Ashley memaksakan senyumnya, malas bertanya lebih panjang lagi, setelah limusin itu membelok ke arah kanan jalan, mereka hampir sampai setelah menempuh waktu setengah jam menuju rumah bordil.


“Kita sudah sampai, Miss. Tunggu sebentar aku akan membuka pintunya—“ Sony terkejut ketika Ashley memotong ucapannya dengan cepat.


Madam Ademee tidak menunggu di depan pintu kamarnya seperti sebelumnya, mungkin wanita itu tahu bahwa Ashley memang tidak mau menceritakan malamnya dengan Cruz Marquez. Itu lebih baik karena Ashley bisa tidur lebih awal. Setelah mengganti pakaiannya dengan piama, Ashley meringkuk di atas ranjangnya.


Sampai keesokan harinya dengan mata bengkak, itu mengerikan menemukan lingkaran hitam di sekitar mata Ashley. Madam Ademee bisa saja mengamuk menemukan Ashley baru saja menangis. Dan seharusnya ia tidak perlu menangis.


Malam itu, Ashley tiba-tiba merindukan Cruz sepuluh tahun yang lalu. Si manis Cruz dengan lesung pipi di sebelah kanannya. Merindukan masa-masa menemani Cruz menonton balapan, membuat rumah pohon, ataupun membuat boneka salju saat malam tahun baru.


Apa jika Ashley memberitahu nama belakangnya Cruz akan mengingatnya? Menjadi Cruz pelindung Ashley? Akankah seperti itu?


“Bonjour, Catalina!” Madam Ademee muncul dari ambang pintu.


Secepat mungkin Ashley langsung menutup dirinya di bawah selimut. “Pagi,” balasnya.


Kernyitan muncul di dahi wanita Perancis tersebut, dia mendekat dan segera menarik selimut yang menutupi Ashley. “Hei, apa yang kau sembunyikan. Tuhan, apa yang terjadi dengan matamu? Kau baru saja menangis?”


Ini memang akan terjadi, batin Ashley dan kembali duduk tegak. Wanita berambut brunette tersebut menggosok matanya. “Tidak ada, jangan khawatirkan aku.”


“Apa Cruz Marquez menyakitimu lagi? Ya Tuhan, seharusnya aku tidak akan membiarkan dia menyewamu seharga lima ratus dolar.” Madam Ademee meneliti wajah Ashley.


Ashley mendengus dan membuang wajahnya ke arah lain. “Kau bisa menaikkan harganya menjadi sejuta dolar,” kata Ashley asal.


“Tidak, tidak, itu terlalu mahal, dan aku sangsi dia akan menyewamu dengan harga fantastis tersebut.” Madam Ademee menggeleng keras tanpa ia tidak sependapat.


Selanjutnya, Madam Ademee—wanita asal Perancis tersebut berdiri dan menarik kedua tangan Ashley. “Cepat mandi, aku akan membelikanmu sebuah gaun!” seru Madam Ademee menarik Ashley.


“Tunggu, gaun? Untuk apa?” tanya Ashley mencoba berdiri.


Dengan senyum jenaka, Madam Ademee tersenyum penuh makna. “Kau akan tahu nanti.” Kemudian, Madam Ademee mendorong bahu Ashley masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya.


🌙🌙🌙