Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
New Rules



I love vote, but i hate boomvote


Say no to Plagiat


Please vote, comment, and share.


🌙Playlist🌙





🌙🌙🌙


Malam-malam sekali Cruz tiba-tiba mengajak Ashley untuk kembali ke New York dan menempuh perjalanan menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Marquez. Semua serba tiba-tiba tanpa direncana. Setibanya di New York, hari ini tepat hari Jumat, Cruz juga secara spontan mengajak Ashley untuk pergi ke pesta Dominic Aquest. Rupanya, maksud kepulangannya yang super cepat itu untuk menghadiri pesta dari wali kota—Dominic Aquest.


Ashley menyemprot parfum ke tubuhnya. Melalui pantulan cermin wanita itu berujar, “Kau yakin akan datang, Cruz?” tanyanya sembari meraih dasi dengan garis horizontal milik Cruz dan membantu pria itu memasangnya.


Ada kerutan di kening Cruz Aaron Marquez sebelum menjawab. Tampak keraguan di balik netra hijaunya, tetapi ia tetap bersih kukuh untuk menghadiri pesta tersebut.


Cruz menatap langit-langit kamarnya seolah sedang merenungkan masalahnya. “Ya, kita akan menemui Rebecca di sana,” katanya dan melayangkan senyuman tipis.


Wanita berambut brunette itu selesai dengan dasi Cruz. Dia sudah siap dengan pesta di balik gaun berwarna olive green dengan detail tassel yang chic dan simpel.


Untuk menghilangkan keragu-raguan, Cruz pun memutuskan untuk segera pergi ke pesta bersama Ashley menggunakan mobil lamborghini silvernya di tengah malam yang pekat ini.


Pesta itu luar biasa ramai. Dari kejauhan, beberapa kendaraan berjajar rapi di mansion Dominic Aquest. Beberapa lampu pun menyorot terang mansion tiga lantai tersebut. Cruz pun masuk bersama Ashley di sebelahnya. Suara musik memekakkan telinga saat keduanya masuk ke dalam lantai pertama.


“Oh, Ashley. Kalian datang?” Rebecca menyambut dengan tatapan matanya yang merendahkan ke arah Ashley. Wanita pirang itu mengangkat gelas winenya dan tersenyum miring ke arah Ashley sembari memainkan jemarinya di gelas kaca tersebut.


Mengambil gelas wine di sebelahnya, Ashley merasa bahwa Cruz mengepalkan tangannya di balik saku celanya. Rahangnya mengeras. Namun, pria itu masih mencoba menahan emosinya saat Rebecca mengolok-olok Ashley di depan umum.


Ashley tersenyum setelah menyesap winenya. Hatinya merasa diperas saat Rebecca selalu saja merendahkannya. Dengan sengaja cairan dalam gelas ditumpahkan ke heels biru Rebecca. Ashley memekik, “Ups! Heelsmu kotor, kurasa kau perlu membersihkannya sama seperti kau harus membersihkan mulut kotormu.”


Nyaris tak tahan untuk tertawa, Ashley segera menarik Cruz untuk pergi menjauh dari Rebecca.


“Kau melakukannya,” kata Cruz setelah mereka berhasil menjauh dari Rebecca.


“Dia pantas mendapatkannya.” Ashley memutar bola matanya jengah.


Cruz tertawa, bersamaan dengan itu pria itu menarik Ashley untuk keluar dari pesta. Sebuah kernyitan kebingungan mengotori wajah Ashley yang jelita. “Kita akan ke mana? Pestanya belum selesai. Dominic baru saja akan berpidato.”


“Kita ke sini bukan untuk menemui Dominic, tetapi Rebecca. Namun, melihat bagaimana pertemuanmu dengan Rebecca kurasa belum saatnya kita menginterogasinya,” jelas Cruz.


Menggigit bibir bawahnya dengan kuat, Ashley berujar, “Maafkan aku, mengacaukan rencanamu, Cruz.”


Pria itu menggeleng dan menarik pinggul Ashley untuk menjauh dari pesta menuju parkiran mobilnya.


“Tidak, Sweetheart. Kita masih punya banyak cara untuk menginterogasi wanita itu. Aku akan mengurusnya.”


“Dengan cara?”


Senyuman tersungging di wajah Cruz. “Aku akan menyewanya.”