Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Stay with Me




🌙🌙🌙


Instagram : itsnotdein


******* : deedein


Email : itsnotdein@gmail.com


🌙Playlist🌙



🌙🌙🌙


SABTU malam satu hari sebelum acara thanksgiving, Grace mendapat pesan singkat dari Dokter Dean mengenai hasil laboratorium mengenai racun sianida yang menimpa Austin. Agaknya, hal itu sukses membuat Cruz Aaron Marquez bertindak lebih gesit untuk memecahkan teka-teki mengenai Austin Alexander.


Grace menghadapi banyak dokter selama ini, tetapi tidak ada yang paling mendebarkan saat ia bertatap muka dengan Dokter Dean.


Cruz mengalami banyak permasalahan selama ini, tetapi masalah racun sianida itu benar-benar membuatnya tertarik mempelajari lebih lanjut.


Mereka berdua terduduk di depan Dokter Dean. Dia dokter spesialis organ dalam, dia juga dokter yang sama yang menangani penyakit Grace. Kiranya, Dokter Dean memiliki tubuh langsing kurus, kumis tipis, dan rambut cepak.


“Menarik sekali.” Dokter Dean mengelus dagunya. Dia terlihat masih muda, hanya saja bekas jahitan di keningnya memberi nilai minus pada wajah rupawannya.


Cruz dan Grace sama-sama saling bertukar tatap sebelum salah satu di antara mereka bertanya. Itu Cruz, rasa penasaran semakin bergejolak. “Bagaimana hasilnya?”


Rasanya tegang sekali menunggu hasil otopsi itu.


“Kapan terakhir kali kau bertemu dengan korban, Grace?” tanya Dokter Dean pada Grace.


Grace cantik, kulitnya putih bersih, hanya saja kulitnya sedikit pucat. Dia terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, “Tiga jam sebelum menemukannya tidak berdaya di atas ranjang.”


“Uh-huh, melihat kadar sianida dalam tubuhnya, aku menduga korban diberi racun kira-kira lima jam sebelum kematiannya.”


Cruz dengan saksama tidak mau melewatkan satu informasi sekecil apa pun dari Dokter Dean. Didengarkannya dengan saksama pria berambut cepak tersebut. Siapa gerangan yang tega meracuni orang sebaik Austin Alexander? Di mata Cruz, Austin adalah sahabat satu-satunya yang sangat berjasa. Austin telah mengajarinya banyak mengenai mesin mobil dan juga beberapa hal mengenai perlombaan balap.


Jemari Cruz semakin erat mencengkeram kuat lengan kursi. “Ya Tuhan!” Pria itu mendesah membayangkan bagaimana Austin memperjuangkan hidupnya susah payah merasakan racun sianida itu mengalir dalam tubuhnya.


Menyedihkan, nadi Grace berdenyut, dia menggeser kursinya lebih dekat ke arah Dokter Dean. “Bisakah kau jelaskan apa lagi yang kau temukan?”


Dagu Dokter Dean terangkat sedikit, pandangannya semula dari laporan otopsi teralihkan. “Sianida ini memberikan dampak lemas, kantuk berlebihan, dan sakit kepala yang luar biasa pening pada korban. Perutnya kosong, hanya ada sedikit belerang. Keduanya adalah bahan pembuat salep untuk mengurangi rasa gatal yang ditimbulkan oleh kutu rambut.”


Kesedihan muncul di manik mata Grace. Wanita itu dengan susah payah menerima kenyataan pahit menelannya. “Austin yang malang,” lirihnya.


“Tentu korban tidak memakannya dengan sengaja. Berdasarkan hasil pemeriksaanku, zat itu dicerna bersamaan dengan sianida itu. Artinya, kutu itu berasal dari si pembunuh,” jelas Dokter Dean.


Satu fakta berhasil Cruz dapatkan untuk mengungkap pelaku pembunuh Austin Alexander.


Grace merasakan ponselnya bergetar, sebuah pesan singkat dari Nyonya Sophie membuatnya tidak bisa berlama-lamaan lagi.


“Sepertinya ibu memintaku pulang untuk persiapan acara thanksgiving besok.” Grace menjelaskan hendak berdiri dari kursinya.


Mereka—Cruz dan Grace sama-sama berpamitan kepada Dokter Dean.


“Grace, jangan kau sering-sering pergi keluar. Kesehatanmu lebih utama.” Dokter Dean mewanti-wanti.


Grace mendesah, terlalu muak dengan peringatan yang sama setiap kali ia bertemu Dokter Dean. “Ya, ya, ya.”


Ucapan Dokter Dean masih terngiang-ngiang di kepala Cruz Aaron Marquez. Mengenai sianida, belerang, dan lemak ****. Semua kematian Austin menjadi teka-teki. Sampai suara Grace memecahkan lamunannya saat ia sedang menyetir.


“Cruz, apa kau bersungguh-sungguh dengan kasus ini?” tanya Grace sembari mengeratkan sweater bulunya.


Anggukan mantap Cruz berikan kepada Grace. “Tentu, Grace. Aku tidak mau Nyonya Sophie berpikiran bahwa Ashley Catalina sebagai pembunuh putranya. Jangan lupa beritahu Nyonya Sophie bahwa kematian Austin tidak ada hubungannya dengan Ashley.”


Jantung Grace tergagap dengan irama yang paling menyakitkan. Wanita itu menarik napas berat. “I-iya.”


Akhirnya, mereka berdua sampai di depan rumah Nyonya Sophie. Cruz akan mampir sejenak untuk melihat keadaan keluarga Austin. Dia masuk bersama Grace menuju dapur. Di sana Nyonya Sophie dan Luna sedang sibuk membuat kue di dapur.


“Apa yang kau buat, Luna?” tanya Cruz menghampiri Luna yang sibuk membuat kue menggunakan topi tabung dengan garis vertikal di sana.


“Aku membuat kue jahe.” Luna menjawab tanpa berniat menatap Cruz.


Cruz dengan iseng meraih kue jahe yang baru saja Nyonya Sophie keluarkan dari oven. “Lezat.” Dia memberikan senyuman kebanggaan pada Luna.


Grace tahu bahwa Cruz berbohong. Dia pandai berbohong guna menyenangkan perasaan Luna. Grace tahu kue jahe buatan Luna tidak selezat bibir Cruz berkata. Biasanya, Luna akan membuat kue jahe dengan kadar garam yang tinggi. Namun, Cruz dengan baik hati tidak membuang makanan itu di depan Luna atau mengolok-ngolok.


Nyonya Sophie mencuci peralatan memasaknya. Dia menggaruk rambut pirangnya seraya berkata, “Kau akan merayakan thanksgiving bersama kami atau pulang ke California?” tanyanya.


Laki-laki bertubuh jangkung itu mengambil duduk di depan Luna. “Mungkin tahun ini aku akan merayakannya bersama kalian.”


🌙🌙🌙



Bonus. Wkwkwk, mau tahu dong, imajinasi kalian saat membayangkan tokoh Grace itu siapa?