Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
To Much To Ask



πŸŒ™ Please vote, comment, and shareπŸŒ™


πŸŒ™


πŸŒ™ Playlist πŸŒ™


οΏΌ


πŸŒ™πŸŒ™πŸŒ™


TIGA jam lagi perayaan kembang api dimulai, tetapi Ashley bukannya menikmati pergantian tahun bersama Cruz, wanita itu justru merenung di dalam kamarnya. Wangi camomille dari kamar mereka sama sekali tidak membantu pikiran Ashley yang cemas memudar. Mengambil napas yang tenang, wanita itu memeluk tubuhnya sendiri dan menggosok lengannya.


Kecemasan benar-benar menyerap sarafnya saat Cruz tiba-tiba membawa Grace yang tidak sadarkan diri ke mobil, tidak lupa dengan keberadaan Ashley, Cruz juga meminta Sony untuk menjemput wanita itu. Namun, bukannya Sony membawanya menyusul Cruz yang berada di rumah sakit, pria itu malah membawanya ke penthouse. Ashley menutup matanya sebentar, benar-benar merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada Grace yang tidak ia ketahui. Sesuatu telah terjadi, tetapi Ashley tidak tahu apa itu.


Gemuruh guruh bergemuruh di langit yang gelap, mungkin akan turun salju Ashley melirik keberadaan Sony yang berdiri di depan pintu. Meyakinkan dirinya sendiri, Ashley meraih jaket bulu dari almari dan mengambil kunci mobil Ferrari. Dia berjalan cepat melewati Sony, tanpa menyapa.


"Anda akan ke mana, Miss?" tanya Sony.


Alih-alih mengindahkan ucapan Sony, Ashley justru berlari memasuki lift dan segera menutupnya saat Sony mengejarnya di belakang. Saat mencapai lobi dia bergegas menuju tempat parkir dan membawa Ferrari itu keluar dari sana.


Tepukan gemuruh guntur menggelegar di langit, beberapa tetes salju mengetuk jendela mobil. Ashley bersyukur setidaknya dia membawa jaket. Dia melirik rear view mirror tidak ada tanda Sony mengejarnya sampai ke jalan raya.


"Aku harus mencari tahu, jika aku ingin tahu," kata Ashley bermonolog. Selang beberapa saat Sony meneleponnya, alih-alih menjawab, wanita itu justru mematika ponselnya.


Tidak ada yang bisa menghalanginya, saat semua orang berusaha menutupi sesuatu darinya. Ashley dapat dibilang buruk dalam menyetir sendiri, tetapi dia berhasil sampai di sebuah rumah sakit swasta dengan cepat. Dia berlari menerobos beberapa tetes salju menuju ke dalam rumah sakit.


Ashley tersenyum tipis saat menemukan Cruz di salah satu ruangan rawat inap. Langkahnya yang semula berlari kecil mulai berjalan lambat. Namun, seketika senyuman itu luntur dari wajahnya melihat betapa kacaunya Cruz.


"Catalina!" Cruz yang baru menyadari keberadaann Ashley pun terlonjak kaget. Pria itu berhampuran ke arah Ashley. Memeluk wanita itu dan mengecuk kedua pipinya. "Aku mencintaimu dan akan selamanya begitu."


Ashley dapat merasakan kegelisahan Cruz. Wanita itu pun tersenyum dan hatinya menghangat saat Cruz berulang kali mengadatakan bahwa ia mencintainya.


"Apa yang terjadi pada Grace, Cruz?" Ashley mendonggak menatap iris hijau Cruz.


Flashback On


"Aku mencintaimu, Cruz."


Kata-kata Grace teredam dalam sebuah cahaya lampion yang terbang melewati mereka. Melihat kesungguhan di mata Grace, membuat Cruz merasa nyeri di dadanya. Ia tidak bisa mencintai Grace, tidak bisa, dan selamanya tidak akan bisa.


Cruz mengerutkan keningnya. Namun, jawaban tidak keluar dari bibirnya.


"Maaf, aku mencintaimu." Grace hancur oleh kesadarannya saat ia dengan berani mengungkapkan perasaannya yang selama satu tahun ini ia pendam kepada Cruz. Wanita itu hanya ingin Cruz mengetahuinya sebelum ajal menjemputnya. Meskipun, Dokter Dean berkata bahwa ia bisa sembuh ketika ia mendapatkan donor paru-paru dari orang lain.


Namun, tidak ada manusia semalaikat itu yang dengan rela memberikan paru-paru untuknya. Dia tidak memiliki hidup lebih lama dan dia ingin Cruz mengetahui perasaannya dari bibirnya bukan orang lain.


"Kenapa? Kenapa harus aku, Grace?"


Grace menyerap rasa sakit yang mengisi jiwanya. Air mata tak terbendung dan turun dari kelopak matanya. "Keinginan hatiku hanya kau Cruz. Maaf, aku mencintaimu, tetapi perasaan tidak ada yang tahu ke mana dia berlabuh."


Cruz mengusap wajahnya kasar, menarik napas panjang. "Aku tidak bisa. Aku memiliki Catalina, aku tidak akan berkhianat padanya. Aku mencintainya dan hanya dia."


Grace tidak menjawab selama beberapa saat, lalu dia berkata, "Maaf, aku mencintaimu." Kalimat itu kembali lolos dari bibirnya bersamaan dengan derasnya air mata yang memenuhi matanya.


"Tidak apa-apa." Grace mengusap air matanya. "Bolehkah aku meminta satu hal?" tanyanya, ketakutan dan keraguan terselip di kalimatnya.


"Katakan."


Bibir bawah Grace bergetar karena upayanya untuk mencegah air mata yang akan tumpah. "Bisakah aku mendapatkan satu ciuman darimu sekali dan untuk selamanya agar aku kenang?"


Iris hijau Cruz bertemu dengan mata Grace. Harapan putus asa mengintai wajahnya.


Perlahan, Cruz mendekatkan diri ke arah Grace. Merengkuh lebih dekat wanita itu. Jemarinya yang panjang mengusap lembut pipi Grace. Dia memberikan ciuman di atas bibir Grace. Sesaat semua terasa kosong dan udara di sekitar mereka berderak.


"Maafkan aku, aku mencintaimu." Grace memejamkan matanya merasakan Cruz menciumnya dan air mata mengalir melewati bibirnya. Namun, tidak ada yang lebih indah saat Cruz mengabulkan permintaannya.


Setelahnya, itu adalah momen yang Grace rasakan sebelum ia pingsan dan kegelapan menguasainya.


Flashback Off


Cruz tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Ashley. Perhatian mereka terpusat ke arah Dokter Dean yang keluar dari ruang rawat inap.


"Grace mencarimu, Cruz."


Ashley tersentak oleh rasa sakit yang menjalar di nadinya. Dia mendonggak menatap Cruz ketika pandangan mereka bertemu. "Dia mencarimu. Aku akan menunggumu di luar."


"Kau yakin?"


Anggukan mantap Ashley berikan. Dia masih mencoba tersenyum saat melihat Cruz memasuki ruang rawat inap Grace bersama Dokter Dean. Diam-diam, Ashley mengintip mereka dari kaca yang berada di pintu.


"Grace mendapatkan kabar bahagia bahwa ada orang yang mengalami kecelakaan dan nyawanya tidak tertolong, keluarga korban bersedia mendonorkan paru-parunya untuk Grace, tetapi dia menolak. Dia tidak memiliki semangat hidup lagi, aku sudah memaksanya, tetapi dia malah memintaku untuk memanggilmu," jelas Dokter Dean panjang lebar.


Cruz mendekati brankar Grace. "Kau harus sembuh, Grace."


"Jika aku sembuh, apa kau mau menikah denganku?"


Ashley merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Pandangan Cruz bertemu dengannya. Namun, Ashley tidak memiliki banyak kata-kata seperti orang bijak yang menguatkan hatinya. Perlahan beberapa tetes air mata menderas membasahi pipinya. Ashley pergi menjauh dari sana dan menerobos salju yang dingin.


"Miss, Anda baik-baik saja?" tanya Sony yang baru tiba di rumah sakit melihat Ashley berlari keluar dari rumah sakit.


Tidak ada kata baik-baik saja untuk berbagi pujaan hati dengan orang lain. Ashley berlari menuju mobil saat mendengar Cruz memanggilnya dari belakang. Namun, Ashley terlalu sakit hati untuk berbalik mendengarkan penjelasan pria itu.


The pain of one more loveless night.


- E N D -


πŸŒ™πŸŒ™πŸŒ™


Halo! Minta komentar yang banyak dong, biar besok Didi bisa update lagi.


Terima kasih untuk kalian yang sudah membenci Grace, seriusan deh dari awal Didi gak ada niat buat tokoh Grace nyebelin. Idk, kenapa kalian membencinya padahal sudah Didi buat Grace itu sebaik mungkin.


Thank you and hug love.