Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Missing You



Aneh. Ashley mendapati dirinya berbeda malam ini. Merasakan hatinya berbunga, merasakan dadanya berdebar gembira, dan merasakan ujung bibirnya membentuk senyuman. Setelah turun dari limusin, Ashley kembali ke rumah bordil milik Adam Ademee dengan perasaan luar biasa gembira untuk kencan malam satu jam ini bersama Cruz Aaron Marquez. Namun, begitu Ashley sampai di dalam, Madam Ademee menariknya dengan wajah penasaran. Itu wajar, mengingat siapa klien Ashley malam ini, mungkin tidur Ashley akan nyenyak malam ini dengan hanya mencium wangi parfum Cruz yang masih tersisa di hidungnya.


“Ayo, Nak. Jangan buat wanita tua ini penasaran.” Wanita bertubuh gemuk itu mulai penasaran bukan kepalang.


Madam Ademee adalah wanita Perancis bertubuh gemuk. Sudah 3 tahun lamanya, Ashley hidup di rumah bordil yang menjijikkan, tetapi itu lebih baik daripada menjadi gelandangan di Manhattan. Hidup di rumah bordil, bukan berarti Ashley menyerahkan tubuhnya bekerja di sana.


Ashley hanya bekerja bukan sebagai pemuas birahi, melainkan hanya untuk kencan makan malam pada hari Senin sampai Kamis, Jumat digunakan untuk libur, sedangkan Sabtu dan Minggu Ashley bekerja sebagai penyanyi di sebuah bar malam.


Dengan semakin membuat wanita pemilik rumah bordil itu penasaran, Ashley hanya mengedikkan bahunya dan masuk ke dalam kamarnya. Selanjutnya, wanita asal Perancis itu mengekor. “Ayolah, buat ini mudah.”


Ashley berbalik, menghadap Madam Ademee. “Lancar seperti biasa.” Ashley kembali berjalan menuju cermin. Menatap dirinya di sana. Syukurlah, tatanan riasnya masih baik-baik saja.


“Kalian melakukannya?”


Melakukan? Melakukan apa, selain makan malam. Ashley tertawa keras memikirkan kegilaan itu dalam pikirannya. Nyatanya, Cruz rasanya tidak memiliki gairah seksual untuk itu.


Tawanya masih belum mereda, tetapi Ashley mencoba meredakannya. “Kami hanya berbincang-bincang dan menikmati makanan kita. Itu normal.” Ashley melepas anting mutiaranya.


“Itu tidak normal. Tidak mungkin, apa dia tidak menyentuhmu?”


Ashley juga tidak mengerti kenapa Cruz tidak melakukannya. Namun, itu tidaklah penting.


Sembari melepas heelsnya, Ashley mengangkat wajahnya menatap Madam Ademee. “Kurasa rumor tentang dia gay itu ada benarnya.” Ashley mengedikkan bahunya.


“Sebenarnya, aku tidak mengerti kenapa seseorang yang dirumornya gay tiba-tiba menyewamu. Padahal seorang Marquez tidak pernah datang ke rumah bordilku. Apa kalian saling kenal, sebelumnya?” Madam Ademee mencoba membantu Ashley melepaskan gaunnya.


Ashley terdiam. Ashley dan Cruz saling kenal? Yeah, itu dulu sebelum akhirnya, Ashley memutuskan pergi dari Amerika. Namun mungkin Cruz tidak akan mengingatnya, bahkan Cruz memang sengaja melupakannya. Well, itu sebabnya Ashley menyembunyikan nama belakangnya.


“Aku juga tidak mengerti.”


Malam ini, setelah diinterogasi oleh Madam Ademee, Ashley terus bertanya-tanya dalam hati dan memikirkan pertanyaan Madam Ademee. Itu benar. Dari mana Cruz mengenalnya? Menemukan dirinya dan menawarkan makan malam? Ini benar-benar tidak normal untuk sekedar pura-pura?


Tidurnya tidak nyenyak hanya memikirkan Cruz. Lantas, Ashley terduduk di kepala ranjang mengambil ponselnya. Sepuluh tahun terakhir, tak jarang Ashley selalu mencari kabar mengenai Cruz, baik karier dan kisah percintaannya. Selama itu pula, Ashley selalu menjadi pengagum rahasia Cruz.


Masih dengan hati yang sama, Ashley tetap mencintai Cruz kecil yang dulu, tetapi pertanyaannya Cruz si kaya itu apakah masih mengingatnya? Sayangnya, waktu telah mengubah segalanya. Mengikis kenangan manis itu yang hanya tersimpan dalam memori.


Flashback On


“Ambillah.” Cruz melembar sebuah kunci mobil tanpa menatap lawan bicaranya.


Ashley pun terkejut ketika sebuah kunci mobil mendarat di pahanya. Lantas, gadis berkucir kuda itu menoleh, menatap keheranan anak laki-laki yang sedang asyik memakan gelatonya tanpa mengindahkan keberadaannya.


“Apa ini?”


Alis Cruz menyuram. Manik birunya menatap Ashley dengan keningnya yang mengerut samar. “Kau masih bertanya? Aku telah mengorbankan mobil Ferrariku demi mobil kuno itu untukmu.”


Meskipun nadanya terdengar sengit tidak bersahabat, tetapi Ashley tahu Cruz memang tipikal laki-laki dingin seperti itu meski dalam lubuk hatinya yang paling dalam, laki-laki itu peduli pada sekitarnya.


Lantas, Ashley pun mendekat, bangku berukuran tiga orang dewasa itu membuat jarak mereka agak lebar. “Aku mencintaimu.” Ashley kecil yang baru saja berulang tahu di umurnya yang ke-13 tahun itu mengecup sudut bibir Cruz.


Rasanya itu sebuah sengatan listrik yang menjalar di setiap pembuluh darah Cruz karena kecupan kecil di sudut bibirnya. Dengan mengerjap berkali-kali, Cruz menoleh dengan pipi yang merah. “Azy,” tegur Cruz.


“Apa? Aku mencintaimu, apa salah aku menciummu? Aku sering melihat film romansa, kulihat mereka saling mengecup satu sama lain ketika mereka saling mencintai.” Ashley menarik ujung bibirnya sembari memainkan kunci mobilnya.


•••


Rumah baru milik Nyonya Sophie berlantai dua, memiliki halaman rumput di depannya dan pohon mangga besar di sisi kanan rumah. Itu berwarna vanilla dengan atap berwarna cokelat gelap. Itu terlihat lumayan kuno di pinggiran kota Mahanttan.


Pindah adalah sesuatu yang merepotkan. Oleh karena itu, Cruz membantu Nyonya Sophie dan keluarga pindahan. Bagi Cruz, Nyonya Sophie sudah seperti bagian dari keluarganya, menjalin kekerabatan pada orang tua mendiang Austin—sahabatnya selama tiga tahun, membuat Cruz menganggap Nyonya Sophie sudah seperti ibunya sendiri. Wanita itu baik, hanya saja sedikit tertutup pada orang lain. Nyonya Sophie memiliki putri kecil berusia tujuh tahun dan memiliki anak angkat berusia 20 tahun. Mereka semua wanita.


Selama hidup, Austin Alexander adalah tulang punggung keluarganya, jadi tidak heran jika Nyonya Sophie memilih pindah dari apartemen ke rumahnya dulu.


“Sepertinya kita perlu membersihkan rumah ini.” Cruz bersandar di pintu mobilnya menatap ke depan pada sebuah bangunan berlantai dua yang terlihat kusam dengan cat yang memudar di sana.


“Itu wajar, mengingat rumah ini sudah tidak berpenghuni selama satu tahun.” Grace bersuara, dia anak angkat Nyonya Sophie, dibesarkan sejak Grace berusia 10 tahun. Memiliki penyakit cystic fibrosis—kelainan genetik yang mempengaruhi hatinya. Grace sering memakai selang di hidungnya karena biasanya pasien cystic fibrosis kesulitan bernapas.


Grace mengangkat kardus sedang dari bagasi mobil Cruz, melihat itu, Cruz segera mengambilnya dari tangan Grace, dia berkata, “Biar kubantu.”


Grace menyilangkan tangan di depan dada dan mendengus. “Sebaiknya kau juga membantuku membujuk Luna turun dari mobil. Kurasa, dia sangat berat meninggalkan apartemen kami yang dulu.”


Putri kecil Nyonya Sophie, Luna namanya. Luna masih di dalam mobil, sedangkan Nyonya Sophie sudah di dalam rumah.


“Ya Tuhan, aku hampir melupakannya.” Cruz terkekeh dan kembali menyerahkan kardus sedang itu pada Grace.


Berlari segera ke dalam mobil tanpa mengindahkan gerutuan Grace karena Cruz belum memindahkan kardus ke dalam.


“Hai, Princess.” Cruz membuka pintu mobilnya, melihat Luna yang duduk di pojok bangku mobil dengan tangan yang melipat di depan dada.


Luna menghela napas. “Aku benci harus pindah.” Dia mengeluh.


“Kenapa? Bukankah itu terdengar luar biasa? Maksudku, kau akan mempunyai teman baru.” Cruz tersenyum.


“Cruz, kau tahu? Aku benci harus beradaptasi lagi dan lagi.” Gadis kecil itu mengrucutkan bibirnya. Itu mengemaskan dan membuat Cruz mencubit pipi gembulnya, alhasil Luna mengaduh kesakitan.


“Kenapa harus memikirkan itu? Bagaimana jika kita mengecat kamar barumu? Mengambarnya menggunakan kuas? Kau suka?”


Itu terdengar menyenangkan dan mengasyikkan bagi Luna, mencoret-coret dinding kamar, misalnya. Segera mungkin wajah kusut itu tergantikan dengan wajah senang bukan main. Dia memekik dan memeluk leher pemuda di depannya. “Aku suka dan aku ingin!”


Sembari tertawa bersama, Cruz mengajak Luna ke dalam rumah lamanya. Bersimpangan dengan Grace di halaman rumah yang baru saja keluar dari dalam selesai memindahkan kardus sedang. “Well, lihat siapa yang sudah berhasil membujuk Luna?”


Luna tertawa. “Cruz mengajakku menggambar dinding di kamarku.” Luna memekik hampir menjerit senang dan segera menarik Cruz untuk mengekorinya masuk ke dalam rumah lamanya.


Namun, setibanya di ruang tengah Cruz melihat di sudut kanan ruangan terdapat Nyonya Sophie di dalam kamar sana, oleh karena itu dahinya mengerut samar sembari melihat wanita pirang itu dari jarak 80 meter. “Luna, kau masuk terlebih dahulu. Aku akan menyusulmu segera.”


Eksperesi kecewa terlihat di wajah gadis kecil itu, Luna namanya, pemilik pipi gembul dan rambut pirang. Lantas untuk menghapus wajah kecewa itu, Cruz berkata, “Hanya lima menit. Aku berjanji. Kau percaya, bukan?” Cruz berjongkok guna menoel hidung mungil Luna.


Luna mengangguk patuh, itu lebih baik daripada sebelumnya. Lantas, Cruz pun mengayunkan kaki panjangnya menyusul Nyonya Sophie. Pintu kamar itu tidak terbuka, memudahkan akses Cruz untuk masuk. Dia tidak mengetuk pintu, langsung masuk dan duduk di sebelah Nyonya Sophie yang memegang bingkai foto Austin.


“Aku tahu ini berat bagimu, tapi kau masih punya Luna, Grace, dan aku.” Cruz menyentuh lengan wanita berumur 40 tahun tersebut.


Dengan menoleh ke arah Cruz, Cruz dapat melihat bahwa wanita itu memiliki kantung mata di bawah matanya, itu mungkin penyebabnya adalah jarang sekali tidur atau banyak menangis. “Terima kasih kau selalu ada untukku, Nak.” Nyonya Sophie memeluk Cruz.


“Aku berharap kau menemukan gadis yang baik, semoga kau terlindung dari hal negatif.” Nyonya Sophie melanjutkan, dia mengurai pelukannya.