


Beberapa menit kemudian, dalam keheningan ruangan rawat inap, Cruz membeku melihat Ashley, tubuhnya seolah kehilangan reaksi. Ia melihat Ashley hari ini. Rasanya begitu dekat, seperti nadi. Ashley tampak tidur di atas brankarnya dengan tubuh moleknya yang terbaring lemah di sana. Meskipun, nyatanya Cruz begitu dekat, tetapi Cruz merasa ia hanya seorang yang familier yang terasa asing. Ia merasa benaknya akan meledak sebentar lagi. Ia merindukan Ashley Catalina.
Butuh keteguhan hati untuk Cruz menjenguk Ashley. Wanita itu tampak lebih baik dari hari sebelumnya dan itu kabar baik.
Cruz mengecup bibir Ashley. Rasanya dingin dan kering. Ada kerinduan dalam kecupannya yang tidak bisa bibirnya utarakan karena hatinya beku. Betapa terlonjaknya Cruz, saat menemukan Ashley terbangun. Tirai bulu matanya yang tebal terbuka di balik mata hazelnya. Ia berdiri tidak bereaksi menatap Ashley dalam diam.
“Kau menciumku?” tanya Ashley. “aku bukan Princess Aurora yang perlu kau kecup saat terlelap agar terbangun. Im Ashley not Aurora.”
Cruz tidak menjawab selama beberapa saat, kemudian bibirnya berkata, “Aku tahu aku bersalah.”
“Ya Tuhan.” Ada keheningan di dalamnya. “kau percaya aku Ashley Catalina? Sahabatmu dulu? Temanmu dulu? Tetanggamu dulu?”
“Kau Ashley Catalina bukan pembunuh Austin. Aku mempercayaimu.”
Ketidakpercayaan muncul di manik hazel Ashley. Hatinya tersentuh, dia mencoba mengenyahkan air mata dengan keras membasahi pipinya. Dia tersentak oleh rasa sakit dan kemarahan yang suram melintas ingatannya.
“Please, don’t cry. Il leave if I hurt you.”
Cruz merasakan rasa sakit yang begitu tajam melihat Ashley menangis karenanya. Lantas ketika tidak mendapat jawaban dari Ashley, ia pun memilih melangkah pergi, sebelum wanita itu mencegahnya dengan menahan tangannya.
“Aku mencintaimu, Cruz. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, semua meninggalkanku. Aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama dan membuatku sendiri.” Bibir bawah Ashley bergetar menahan air mata yang akan tumpah, tapi usaha menahannya sia-sia karena ia kembali merasa emosional.
Menarik napas panjang, Cruz membuka lengannya dan memeluk Ashley. “Aku di sini untukmu, Catalina. Aku milikmu, aku tidak akan ke mana-mana selain berteduh di dalam hatimu.”
Tidak ada yang lain yang akan Ashley tukarkan dengan pelukan ini. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Cruz. Sebuah keheningan yang menenangkan menyelimutinya. Aroma citrus dan campuran vetiver serta kayu-kayuan amber woods dan oakmoss begitu membahagiakan di hidung Ashley mencium aroma maskulin Cruz. Itu segar nan wangi.
“Aku ingin kau berjanji, Cruz. Aku satu-satunya wanita yang akan selalu kau cintai setelah ibumu.”
Cruz bahagia, senang Ashley memaafkannya. Lantas, sebuah senyuman mungkin tidak cukup untuk membayar itu, ia pun mengecup puncak kepala wanitanya. “ Aku berjanji, Sweetheart.”
“Satu lagi.” Ashley mendongak dan matanya bertemu dengan manik hijau Cruz. “aku ingin kau berjanji tidak akan meninggalkanku.”
“Aku berjanji untuk apa pun itu mengenai kesetiaan dan kasih sayang untukmu.” Senyuman mekar di wajah Cruz. Betapa sialan beruntung, pria itu memiliki lesung pipi yang manis di balik matanya yang intens. “kau ingin aku berjanji apa lagi, huh?”
Dengan menahan tawa geli, Ashley berkata, “Tanpa mengurangi rasa hormatku, aku ingin kita kencan makan malam lagi, tapi dengan lampu.”
Cruz menjawab dengan senang, “Tentu, tapi setelah kau sembuh dan dokter mengizinkanmu keluar.”
“Aku ingin keluar sekarang.”