Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Who am I?



Hari sudah senja ketika Cruz berbelok ke rumah Nyonya Sophie. Mentari hampir saja terbenam di cakrawala dan semburat jingga menghiasi indahnya sore hari. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah beratap vanilla tersebut. Bersama Ashley duduk sesaat di balik kemudinya. Terlalu sangsi untuk memasuk rumah berlantai dua tersebut.


Ashley teramat cemas alih-alih Nyonya Sophie murka dan menggores lengannya lagi. Itu awal pertemuan yang tidak mengesankan sama sekali. Awal pertemuan yang buruk dan membekas tentunya bagi Ashley.


Mengambil napas panjang yang membuat dada mengembang, akhirnya ia cukup energi untuk membuka pintu mobil bersama Cruz di depannya yang lebih tiga detik membuka pintu darinya. Cruz menekan bel di depan pintu, suaranya nyaring menggema. Derap langkah kaki pun terdengar lebar dan tergesa. Sesaat Ashley merasa ia ingin berbalik dan berlari pergi sebelum hal yang dikhawatirkan terjadi.


“Cruz?”


Dia Grace muncul dari balik pintu kayu cokelat tua. Wajahnya terllihat terkejut melihat tamunya, tetapi ekspresi itu lenyap seketika dari wajahnya dalam hitungan detik.


“Kami ingin bertemu dengan Nyonya Sophie.” Cruz berkata.


Sesuatu yang tidak terduga-duga terjadi saat mereka berhadapan dengan Nyonya Sophie. Wanita berambut pirang itu melengkungkan senyum murah hatinya.


“Aku sudah mengetahui yang sebenarnya,” kata Nyonya Sophie. “Grace sudah menjelaskannya. Maaf untuk insiden waktu itu, Ashley. Aku benar-benar kacau. Aku seorang ibu yang baru saja kehilangan putra satu-satunya dan itu membuatku emosional akhir-akhir ini.”


Ashley mengigit kelembutan bibirnya. “Aku mengerti itu.”


“Aku menyesali ketidaknyamanan yang kubuat padamu. Grace telah menjelaskan mengenai semuanya termasuk sianida.” Nyonya Sophie tersenyum sehangat secangkir latte yang baru saja Grace suguhkan di meja dan duduk di sebelah ibu angkatnya.


“Aku juga minta maaf. Seharusnya, aku memberitahu lebih awal sebelum Ashley datang waktu itu.” Grace tersenyum. Selang infus yang membantunya bernapas melintang di bawah hidungnya. Dia sakit. Jelas. Namun, dia menyembunyikan wajah sakitnya di balik lipstik merah mudanya, dan Ashley tahu itu.


“Aku benar-benar berharap hal itu tidak akan terulang. Well, kedatangan kami ke sini juga ingin menjelaskan siapa tersangka di balik sianida itu.” Cruz menautkan jari-jarinya dan menumpu di atas pahanya.


Kernyitan membelah alis Nyonya Sophie. “Tersangka utama? Siapa?”


Matahari di balik jendela rumah terlihat tenggelam, membuat bayangan besar dan cahaya keemasan yang melukis cakrawala.


“Kabar baiknya, kami berhasil memasukkannya ke penjara. Dia Rebecca, mantan kekasih gelap Austin.”


Sorot mata Nyonya Sophie meredup. Dia bersyukur Rebecca—tersangka utama di penjara, tetapi mengenai kekasih gelap membuatnya sedikit tersingung.


“Terima kasih, Cruz. Kau telah membawanya ke penjara untuk kami.” Grace tersenyum tipis dan memeluk ibu angkatnya-Nyonya Sophie.


“Aku benar-benar mengutuk ****** itu jika aku bertemu dengannya.” Nyonya Sophie mengusap wajahnya kasar. “aku telah menuduh seseorang yang tidak bersalah sebelumnya.”


Ashley mengangguk meskipun kejadiaan itu masih membekas di ingatannya. “Aku benar-benar sudah memaafkan dan memaklumi hal itu.” Dia tersenyum.


“Tidak, aku benar-benar merasa bersalah. Kalian harus datang saat pesta barbeque pekan depan.” Nyonya Sophie memohon di balik sinar matanya yang cerah.


Mengingat hari sudah cukup petang, Cruz dan Ashley berpamitan pulang. Grace mengantarkan keduanya sampai pintu, sementara Nyonya Sophie mengangkat telepon di ruang tengah.


“Sampai jumpa pekan depan.” Grace melayangkan senyumannya dan melambaikan tangan di udara.


Pekan depan berlangsung sangat cepat. Sore hari itu, Cruz dan Ashley kembali ke rumah Nyonya Sophie menghadiri pesta barbeque. Itu diadakan di teras depan, beberapa sosis, daging ****, dan juga pangangan sudah siap. Nyonya Sophie benar-benar menyiapkannya untuk menebus rasa bersalahnya pada Ashley.


“Aku senang kalian datang.” Grace menyalakan api pada pemangang. Dia mengikat rambutnya tinggi seperti ekor kuda. Wajahnya terlihat lebih jelas dan lebih cerah. Kali ini dia tidak memakai selang sialan itu yang membantunya bernapas.


Seringai hiu mekar di wajah Cruz. Dia tampan dalam berbagai ekspresi. “Ada yang bisa kubantu?” tawarnya.


Grace menggeleng dan dia tertawa. Dia benar-benar cantik tanpa memakai selang di bawah hidungnya. “Tidak. Aku cukup pandai membuat api.”


“Omong-omong, aku tidak melihat Nyonya Sophie. Di mana dia?” tanya Ashley mengedarkan pandangannya.


“Sedang membuat jus jeruk. Dia akan datang sebentar lagi. Sebaiknya, kalian menyiapkan sosis-sosis kalian.” Grace mengarahkan dagunya ke meja panjang di mana sosis dan daging tersedia di sana.


Nyonya Sophie muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi teko besar dan beberapa gelas kecil serta camilan kue ikan. “Anak-anak, lihat aku membawa jus jeruk. Aku senang melihat kalian datang.”


“Tenu saja aku datang.” Cruz tersenyum dia melihat Grace berhasil dengan membuat apinya. “di mana Luna?”


“Dia di dalam sedang mengerjakan essay yang harus dikumpulkan besok. Aku akan membawakan sosis pangang untuknya nanti.” Nyonya Sophie menyusun gelasnya di meja panjang.


“Maaf, apa aku melewatkan sesuatu?”


Cruz tercengang. Rahangnya menegang keras melihat Dominic hadir di tengah-tengah mereka sendirian dengan setelan tiga lapisnya seperti biasa.


“Permisi? Apa kau salah alamat?” tanya Ashley kelewat sinis.


Dominic Aquest tertawa. Kumisnya ikut terangkat dan bergerak mengelikan di bawah hidungnya. Dia juga menyimpan cerutu di balik jari-jarinya. “Sophie mengundangku. Bagaimana bisa aku menolak ajakan teman sekolah dasarku?”


Kernyitan membelah alis Ashley. “APA?”


🌙🌙🌙


Dominic kembali muncul di part ini. Menurut kalian apakah yang akan dilakukannya?