

🌙🌙🌙
Please vote, comment, and share
🌙 Playlist 🌙

🌙🌙🌙
Satu hari setelah upacara pemakaman Luna hujan turun lebat, langit seolah ikut berkabung atas kepergian gadis berambut pirang tersebut. Setelah hari itu, kabar bahwa Grace dilarikan ke rumah sakit terdekat pun membuat Cruz semakin khawatir.
Tepat pukul 18.00 di tengah badai yang luar biasa hebat malam ini, Cruz harus menembus dinginnya malam hanya berbekal sweater navynya. Kernyitan di wajahnya menandakan jelas bahwa pria itu benar-benar khawatir dengan Grace. Ada sedikit rasa cemburu memenuhi hati Ashley, tetapi hal itu langsung menguar di udara saat Cruz mengecup puncak kepalanya sebelum keluar dari penthouse.
“Aku janji aku akan pulang sebelum makan malam,” katanya dan sebuah lesung di pipinya terbit begitu legit seperti ucapannya yang mengalahi rasa gulali.
Ashley mengangguk. “Kau harus pulang karena aku akan membuat sup bawang yang baru saja aku pelajari dari internet minggu lalu.”
Tepat saat Cruz beradu pandang dengan Ashley, dia teringat sesuatu. “Mungkin jika jalanan sedang macet aku berjanji akan meneleponmu. Biasanya pohon tumbang dan menghalangi jalan.”
Senyum masam mengukir wajah Ashley. “Baiklah, tapi aku akan mengkhawatirkanmu.”
“Aku berjanji aku tidak akan lama. Jaga dirimu baik-baik, aku segera kembali,” kata Cruz dan bersamaan dengan itu dia pergi ditelan pintu.
Ashley Catalina berdiri di jendela penthousenya. Melihat hilir-mudiknya kendaraan di bawah sana. Lampu-lampu kota bersinar terpantul dari jalanan yang basah karena hujan.
Dia mengernyit, menyadari bel penthousenya berbunyi. Apakah itu, Cruz? Ashley bermonolog sembari mengayunkan kakinya menuju pintu. Sembari itu dia berteriak, “Apa kau lupa membawa kunci mobilmu ....”
Ashley menelan ludah dengan kasar, ucapannya tersimpan di dalam mulut melihat seseorang berbalut hoodie cokelat berdiri di sana dan menodongnya dengan pisau buah.
Tanpa ada kesempatan untuk menutup pintu kembali, seseorang itu mendorong Ashley ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat.
“Siapa kau?”
“Ashley, aku membutuhkan bantuanmu,” kata orang asing tadi sembari membuka kupluk hoodienya. Geez! She is Rebecca.
Rebecca menurunkan pisaunya dan membuangnya ke lantai. Wajahnya tirus hingga tulang pipinya terlihat, dia benar-benar tidak terlihat seperti Rebecca. Ternyata jeruji besi mengubah penampilan wanita itu.
“Kau memintaku menolongmu setelah kau menodongku pisau?” Ashley tergelak dan menggeleng tidak habis pikir. “kau pikir aku seidiot itu?” Jawaban untuk permintaan Rebecca yang terdengar samar di telinganya.
Rebecca memeras pergelangan tangan Ashley. “Dengar! Aku akan memberitahumu sesuatu.”
“Mendengarkanmu? Mendengarkan jika kau membunuh Luna setelah membunuh Austin, begitu?” Alis Ashley tersungging naik.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.” Mata Rebecca menyipit.
Mata Ashley mengamati Rebecca seperti elang, tajam dan kuat. “Kau mengirim pesan teror teka-tekimu, lalu kau menculik Luna dan membunuhnya. Apa kurang jelas ucapanku?”
Ashley mendengkus. “Good, aku sudah menduganya. Stop being annoying.”
“Dengar, Ashley, aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku bukan pembunuh Austin. Aku tidak bersalah dan aku tidak ingin kembali lagi ke sialan penjara lagi.” Rebecca mendesah.
“Bullshit!”
“Aku bersungguh-sungguh, Ashley. Kau hanya harus mempercayaiku. Aku tahu selama ini aku bersikap kurang menyenangkan padamu, tetapi aku mohon maafkan kejadian itu dan lupakan semuanya.”
Ashley melipat tangannya di depan dada. “Kau serius? Kau bukan pembunuh Austin maupun Luna? Lalu siapa pelakunya?”
“Aku tidak ingin memberitahu kalian secepat ini, aku ingin kalian menemukan jawabannya sendiri. Aku tidak ingin terlibat dengan kalian. Jangan libatkan aku.” Rebecca bersungguh-sungguh.
Mata Ashley memicing. “Lalu apa tujuanmu ke sini?”
“Aku minta cabut tuntunannya, Ashley. Aku tahu aku tidak akan berhasil memohon pada Cruz karena dia keras kepala. Aku sama sekali tidak ingin kembali di penjara itu lagi.” Rebecca hampir menangis saat ia kembali mengingat kondisi penjara yang mengerikan seperti film horror.
Ashley berdeming.
“Oh, beri aku sedikit uang untuk makan,” kata Rebecca memelas.
“What the hell? Kau memalakku?”
“Tidak, Ashley. Aku benar-benar tidak ada uang dan aku lapar.”
Mungkin Ashley dan Rebecca memang belum menjadi teman baik, tetapi tidak ada salahnya membantu. Lantas, Ashley pun menarik laci dan mengambil 10 dollar untuk Rebecca. Ia tidak bisa memberi banyak uang karena itu bukan uangnya, tetapi uang Cruz.
“Jangan meminta lebih. Aku hanya bisa memberimu secukupnya,” kata Ashley menyodorkan uangnya pada Rebecca.
“Terima kasih.” Untuk pertama kalinya, Ashley melihat Rebecca tersenyum padanya, lantas senyuman itu pun menular pada Ashley.
“Satu lagi, apa aku boleh meminta lipstikmu?” tanya Rebecca.
Ashley melebarkan pupil matanya. "Kau benar-benar berniat merampokku?"
“Setidaknya, itu menjadi senjataku untuk merayu pria hidung belang agar aku dapat mendapatkan uang.” Rebecca menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Setelah memberi uang dan lipstik, Rebecca pamit pergi. Dia kembali menutupi kepalanya dengan kupluk hoodienya.
“Tunggu, di mana kau tinggal?” tanya Ashley sebelum Rebecca mengayunkan kakinya.
Bibir Rebecca tersungging miring. “Rahasia.”
Ashley memutar bola matanya. “Aku bukan gadis 12 tahun lagi yang akan membocorkannya. Oh, baik kau memang tidak pantas dijadikan teman, tetapi hati-hati di jalan.”
“Terima kasih, Ashley. Kuharap kau tidak memberitahu Cruz soal ini.”