
Manhattan bukanlah sesuatu yang baru bagi seorang wanita berambut brunette yang kini turun dari limusin dilengkapi dengan heels tujuh senti dan dress merah menyala. Ini akan sangat mudah seperti biasa jika saja klien yang menyewanya bukanlah Cruz Aaron Marquez.
Jantungnya mengetuk dengan keras, berdebar-debar di area dada dan hal itu sukses membuat Ashley Catalina membusungkan dadanya ketika wanita itu turun dari limusin mahal yang mengantarkannya di tempat Manhattan Penthouse on Fifth Avenue. Mendadak tungkai kakinya merasa lemas ketika berhadapan pada sebuah bangunan megah di hadapannya, padahal Ashley sudah merias wajahnya sebaik mungkin. Anting mutiara, lipstik merah mawar, dan juga sedikit polesan blush on gelap di sekitar tulang pipinya. Namun, kenyataannya itu semua tidak membantu, berdiri di atas heels tujuh sentinya Ashley gemetar mengayunkan kakinya menuju lobi.
Gaun merahnya terlalu ketat, namun itu saran dari Madam Amedee untuknya. Sembari lift meluncur ke atas, Ashley mencoba menenangkan dirinya ketika pikirannya berkelana memikirkan betapa jantannya Cruz Aaron Marquez. Masalah terbesarnya adalah Cruz Marquez, laki-laki itu bukanlah klien biasa yang seperti laki-laki normal lainnya yang menjadi kliennya pada malam-malam sebelumnya. Reputasi Cruz terkenal dengan laki-laki yang tidak pernah muncul dengan wanita, bahkan kabarnya dia diisukan seorang gay.
Ashley menggeleng keras, membayangkan betapa mengerikannya berita pagi hari yang melibatkannya pada laki-laki penuh misteri tersebut. Itu mungkin yang menjadi pertanyaan kenapa Cruz menyewanya untuk malam ini.
Ketika lift berbunyi, Ashley melangkah dan keluar dari lift tersebut, sialan gila saat ia berada di koridor teratas dan sepi tanpa penghuni di sana, namun mata hazelnya berhasil menangkap sebuah kamar berangka 325, itu kamar Cruz sesuai apa yang dikatakan sopir limusin tadi.
Dia—Ashley melihat seorang laki-laki tinggi berdiri di sana dan memberinya celah untuk masuk dengan gaya formalnya. Ashley tidak sempat mengucapkan terima kasih karena laki-laki itu segera menutupnya. Masuklah Ashley di tempat Cruz Marquez, ruangan di sekitarnya gelap gulita, hanya ada pencahayaan di atas meja yang tersaji penuh masakan lezat di sana dengan beberapa lilin beraroma lavender. Terpaksa berjalan ke sana, Ashley duduk di depan meja yang tersedia hanya dua kursi saja.
Tidak ada Cruz, pikir Ashley melihat sekitar yang begitu gelap tanpa pencahayaan. Lalu detik selanjutnya, Ashley merasa seseorang mencengkeram bahunya dengan amat lembut dan panas. Dia berbisik dengan sensual, “Selamat datang, Ashley.”
Suara Cruz berhasil membuat pembuluh darah Ashley berdesir, itu terlalu berat, menggairahkan, dan sensual. Cruz berjalan dan duduk di kursinya. Ashley pikir Cruz akan memakai setelan tiga lapis untuk malam ini, tetapi kenyataannya laki-laki itu hanya memakai kemeja warna putih bersih yang sangat bertolak belakang dengan hidupnya yang penuh misteri.
Ini adalah kegilaan pertama, sialan terkutuk Cruz karena laki-laki itu begitu jantan dengan kemeja yang tipis dengan sengaja memamerkan otot-ototnya di sekitar perutnya. Ada delapan kotak karena Ashley sempat menghitung sickpacknya.
“Ashley. Apa namamu hanya Ashley? Apa nama belakangmu?” Cruz bertanya, dan itu terdengar begitu luar biasa merdu di telinga Ashley ketika Cruz menyebut namanya dengan luar biasa.
Ashley tidak pernah menyebutkan marganya, karena itu terlalu pribadi untuknya. Lantas dia pun menggeleng. “Hanya Ashley.” Menarik senyuman tipis senormal mungkin agar tidak terlihat gugup.
Desahan lolos begitu saja dari bibir segar Cruz. Laki-laki itu menuangkan koktail di gelasnya begitu di gelas Ashley. Dia teramat manis, namun juga berbahaya dalam waktu yang bersamaan. Cruz meminum koktailnya tanpa melepas pandangan dari wanita bergaun merah di depannya. “Aku begitu suka mendengarmu memperkenalkan diri sebelum kita memulai kencan malam kita.”
Ini tidak dapat disebut dengan kencan malam bagi Ashley, baginya ini terkesan seperti masuk ke dalam rumah hantu di sebuah pasar malam. Sejujurnya, penthouse ini menyediakan fasilitas yang menjanjikan untuk kencan malam, tapi sepertinya Cruz lebih suka hal yang aneh dengan memilih kencan di dalam penthousenya yang gelap.
“Namaku Ashley. Berumur 23 tahun dan aku masih lajang,” kata Ashley sembari meraih gelas koktailnya karena ia perlu membasahi kerongkongannya yang kering.
“Itu usia yang terlalu muda untuk menikah, Nona.” Cruz mulai menyiapkan alas makannya. “Buatlah dirimu senyaman mungkin untuk dinner malam ini. Kau begitu menyala dan merah. Teramat seksi dan berani.”
“Terima kasih.” Ashley tersenyum meski pipinya memerah seperti demam tinggi.
Cruz sudah siap dengan garpunya, tetapi dia mendongak menatap Ashley. “Apa kau suka daging? Maaf aku hanya menyiapkan daging malam ini.”
Fillet Mignon, itu tidak masalah meski terlalu berlemak. Olahan daging tidak akan membuat Ashley gemuk karena memakannya malam ini, bukan?
“Ini hanya steak.” Ashley tersenyum dan mulai memotong dagingnya.
Tidak ada suara selain denting garpu dan pisau yang saling bersahutan satu sama lain. Cruz pun terlihat sibuk dengan dagingnya, sedangkan Ashley terlalu sibuk dengan pikirannya. Ini luar biasa gila, dan Ashley ingin segera keluar dari suasana yang aneh ini. Menembus dinding menggunakan alat dari Doraemon, misalnya.
“Kudengar kau bekerja di sebuah bar malam sebagai penyanyi,” Cruz meraih gelas koktailnya.
“Aku ingin mendengarmu bernyanyi setelah makan malam ini.” Cruz menatap lekat-lekat manik hazel Ashley. Mata hijaunya begitu tajam dan menusuk.
Ashley tertawa pendek. “Itu mungkin ide yang buruk, jika kau ingin mendengarkan nada sumbangku, Sir.”
Tawa rendah Cruz terdengar. Dia selesai dengan Fillet Mignonnya, selanjutnya dia mengambil buah persik digigitnya dan dia berujar, “Aku bukan penilai seni. Jangan khawatir aku tidak akan menilai atau mengkritikmu untuk itu. Aku hanya ingin mendengarnya. Oh, jangan khawatir, aku akan membayar untuk itu.”
Itu adalah sebuah paksaan tanpa kekerasan yang begitu luar biasanya Ashley terpana. Ashley menimang-nimang sebelum akhirnya, wanita itu menggeleng. “Tidak, jika kau masih menyayangi gendang telingamu.”
Merenggangkan otot-ototnya, Cruz tersenyum miring, sebelum kemudian tangannya menuangkan koktail ke gelasnya lagi, selanjutnya ke gelas Ashley yang langsung ditolak Ashley, dia memekik, “Oh, jangan.”
“Kau tidak menyetir, bukan? Tidak ada salahnya untuk satu gelas lagi, bukan?” Cruz menawarkan. Well, itu adalah paksaan termanis yang Ashley dengar.
Oh, baik, Ashley menyerah. Dia pun mengangguk membiarkan Cruz menuangkan koktail ke gelasnya, Ashley untuk itu mengagumi kejantanan Cruz Aaron Marquez.
Laki-laki itu tidak akan pernah puas dengan koktail dan minuman alkohol lainnya. Cruz kembali menghabiskan koktailnya jadi setengah gelas. Manik hijaunya yang terang mengamati Ashley lekat-lekat, dan itu rasanya seperti Cruz tengah menelanjangi Ashley dengan sorot matanya yang tajam. Keparat!
“Kau benar-benar menolak untuk menyanyi, Nona Ashley?” Cruz bertanya.
Ternyata dia tipikal laki-laki pemaksa, batin Ashley. Wanita itu pun baru menuntaskan dagingnya dan mengelap sudut bibirnya dengan tisu dengan hati-hati agar terlihat anggun.
“Aku dibayar tidak untuk itu.” Ashley tersenyum miring dan itu terkesan nakal seolah menggoda.
Cruz mendekat, bertopang dagu di atas meja. “Aku akan membayar untuk itu, kau tahu?”
Benar-benar di luar dugaan. Bahwa malam ini akan dihabiskan dengan makan malam penuh kegelapan di sekitar mereka. Ashley pikir, Cruz akan membawanya di atas ranjang putih mahalnya dengan beberapa lilin bunga dan mawar di atas ranjang mereka. Ayolah! Pikiran nakal itu mulai terbesit di kepala Ashley. Tapi, itu mungkin alasan Ashley dapat membenarkan asumsi masyarakat mengenai Cruz seorang gay. Mungkin dia lebih tertarik pada laki-laki, bukan begitu?
“Mungkin lain kali.”
“Apa itu artinya kau dengan sengaja menginginkan aku menyewamu lagi?” Cruz menaikkan sebelah alisnya yang tebal.
Ashley tertawa pendek. “Tidak ... ah, maksudku mungkin iya.” Dia menopangkan dagu dengan sebelah tangannya.
Untuk pertama kali Cruz tertawa di depan Ashley. Ashley benar-benar terpana melihat bagaimana laki-laki misterius itu mendapatkan lesung di pipinya. “Baiklah, mungkin satu jam di lain malam lagi, Nona Ashley.” Cruz bangkit di kursinya dan meraih tangan Ashley. Mengecup di sana, laki-laki itu mendongak tersenyum tipis. “Kita akan bertemu lagi.” Dia—Cruz menuntun Ashley berdiri.
Malam ini benar-benar satu jam yang luar biasa bagi Ashley Catalina. Meskipun, Cruz hanya mengantarnya sampai ujung pintu, itu bukan masalah. Setelah mengucapkan ‘selamat malam’ Ashley kembali dijemput limusin hitam di depan lobby.
Cruz Aaron Marquez benar-benar tidak lagi Cruz di sepuluh tahun yang lalu. Laki-laki itu banyak berubah dari penampilan dan sifat. Ashley tahu perubahan yang mendasar dari fisik Cruz, yakni, lensa hijau yang laki-laki itu dapat karena kecelakaan balapan tiga tahun lalu, membuat Cruz berhenti menjadi pembalap dan mulai menjalankan bisnis sang ayah—Jack Marquez di Manhattan. Lucunya, semesta memang sedang bercanda dengan mempertemukan Cruz dan Ashley kembali. Sayangnya, Cruz tidak lagi bocah belasan tahun yang mungkin akan mengenali Ashley.