

🌙🌙🌙
Instagram : itsnotdein
******* : deedein
Email : itsnotdein@gmail.com
🌙Playlist🌙

🌙🌙🌙
Cuaca sedang hangat, jadi jalanan sedang penuh dengan anak-anak kuliah dan keluarga yang menghabiskan aktivitas di luar ruangan untuk menikmati hari yang cerah. Begitu pun dengan Ashley yang kini ikut keluar karena dokter sudah mengizinkannya pulang, meski dengan sedikit paksaan.
Ashley menoleh mendapati Cruz menyetir mobil di sebelahnya sembari menautkan jari-jarinya ke tangan Ashley. Gagasan mengenai Cruz Aaron Marquez itu guy tidak benar, pria itu hanya sengaja membiarkan berita hoax itu karena sedari dulu Cruz hanya menjaga hatinya untuk Ashley. Itu yang Cruz katakan ketika perjalanan pulang dari rumah sakit.
Ada banyak alasan kenapa Ashley berada satu mobil dengan Cruz. Untuk pertama kalinya, Ashley merasa senang akhirnya mereka bisa sedekat nadi seperti dulu. Meskipun, Madam Ademee sempat menolak keras Ashley tinggal bersama Cruz, tetapi ketika Ashley memohon dengan kesungguhan hati, akhirnya wanita Perancis itu mengizinkannya.
“Sebentar lagi kita akan sampai.” Cruz melempar senyum. Untuk kesekian kalinya, hati Ashley bergetar mendamba senyuman itu.
Ashley ingin memiliki perjalanan berjuta mil bersama Cruz, tetapi dengan kondisinya yang belum stabil tidak memungkinkan untuk perjalanan tersebut. Ia tidak akan menyalahkan rasa sakit itu karena Cruz. Tidak akan.
Kesekian kalinya, Ashley menancapkan heelsnya di lantai marmer penthouse Cruz. Itu masih sama mendebarkannya saat melihat bangunan beton yang menjulang tinggi berdiri perkasa di depannya.
Cruz memperlakukan Ashley seperti princess, pria itu mengendongnya bridal style naik ke lift sampai meluncur ke tujuan.
“Welcome to home, Sweetheart!” seru Cruz menjatuhkan tubuh keduanya di sofa panjang.
Kedekatan mereka, Ashley berharap akan tetap seperti ini untuk masa yang akan datang dan selamanya. Ashley mengamati seluruh ruangan sampai pandangannya jatuh pada bibir segar Cruz.
Ashley mengecupnya sekilas. “Thank you, Prince Charming.”
“Kau yakin ingin mendengarnya? Itu mungkin memerlukan waktu berjam-jam.”
“Tentu, aku akan menjadi pendengar yang baik.” Cruz mendorong sulur rambut Ashley ke belakang telinga wanita itu. Dia meraih pergelangan tangan Ashley, tetapi pandangannya berubah bingung. Ekspresi bingung mengotori ekspresi wajahnya. “kau masih melukai dirimu sendiri, Catalina?”
Menarik tangannya, Ashley pun menggeleng. “Aku tidak ingin menceritakan itu.”
“Oh, come on!” Cruz menarik Ashley lebih dekat. “kau masih melukai dirimu sendiri?”
Pergelangan tangan Ashley yang cantik menjadi pemandangan buruk di mata Cruz saat sebuah bekas sayatan terpampang di sana. Kebiasaan Ashley dulu ternyata masih berlaku sampai wanita itu dewasa.
Self injury adalah gangguan psikolog di mana seseorang berniat melukai dirinya sendiri dengan benda tajam atau tumpul untuk meluapkan emosinya. Bisa juga cara untuk mengalihkan perhatian dan pikiran yang mengganggu. Cruz tidak ingin hal itu terjadi pada Ashley Catalina.
“Katakan sesuatu, Catalina!” Cruz membingkai wajah Ashley, menatap penuh emosi pada wanita itu.
Tubuh Ashley bergetar, bibirnya terkatup rapat. “Forgive me, Cruz.” Matanya berair.
Lantas, melihat kerapuhan Ashley, Cruz pun mencumbu Ashley. Itu berlangsung lama hingga Ashley hampir kehabisan pasokan udara. “Forgive me, Cruz,” katanya lagi sembari bergetar.
Rasa sakit dan kesedihan yang familier menggenang di dalam hati Cruz. Dia pun menarik Ashley ke dalam pelukan hangatnya. “Berhenti menyakiti dirimu sendiri. Kumohon, Sweetheart. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Cruz mengurai pelukannya, manik hijaunya menatap lekat manik hazel Ashley. “katakan, apa yang membuatmu begini?”
"Aku melakukannya karena Austin selalu memaksa untuk berhubungan badan, Cruz. Syukurlah, aku selalu berhasil tidak melakukannya dengannya. Aku tidak akan melakukannya kecuali dengan orang yang kucintai." Campuran air mata dan riasan wajah menuruni pipi Ashley. Dia bergetar dalam pelukan Cruz.
Ashley selalu menjadi seseorang yang penakut untuk kehilangan Cruz.
“Ashley, aku bersumpah akan selalu ada untukmu. Berjanjilah padaku kau tidak akan melukai dirimu untuk kedua, ketiga, dan seterusnya.”
Keyakinan terpancar murni di manik hijau Cruz. Kesungguhannya berjanji untuk selalu ada membuat hati Ashley menghangat. Senyuman mekar di wajahnya. “Aku berjanji, Cruz. Asalkan, kau tidak melanggar janjimu.”
🌙🌙🌙
Menurut kalian perkataan laki-laki bisa dipegang tidak?