
💎I love vote, but i hate boomvote💎
💎Please vote, comment, and share💎
💎Follow ig @marquezstory and @itsnotdein💎
🌙Playlist🌙

Tidak bisa benar-benar mengabaikan keberadaan Dominic Aquest. Sialan! Untuk kesekian kalinya Cruz benar-benar memakai wali kota itu yang sejak awal mencoba menjadi akrab dengannya. Tiada hentinya, ia melontarkan berbagai ucapan-ucapan tidak menariknya pada Cruz yang sibuk memanggang sosisnya. Sedangkan Grace dan Ashley sedang mengoles mentega pada permukaan jagung, Nyonya Sophie sibuk memotong daging ****.
“Aku sudah tahu bahwa kau menjebloskan Rebecca ke penjara.” Dominic Aquest menghirup dalam-dalam cerutunya dan bermain dengan kumis tebalnya.
Itu benar-benar bukan obrolan yang mengasyikan bagi Cruz. Namun, untuk kali pertama dalam 39 kali ucapan Dominic, Cruz mengubris yang satu ini dengan mendengkus tanpa berniat mengalihkan perhatiannya pada sosis.
Dominic tertawa. Cruz tidak tahu apa yang mendasari pria kumis tebal itu tertawa, tetapi Cruz mengabaikannya dan melihat memang benar Dominic memiliki gigi emas sesuai kata ayahnya—Jack Marquez. Namun, itu bukan sesuatu yang menarik untuk dipikirkan.
“Kau tahu, Cruz? Sebenarnya, dengan sekedip mata aku dapat membebaskan kekasih seksiku itu."
Menatap malas ke arah Dominic, Cruz berkata, “Dan kenapa kau tidak melakukannya?”
Sekali lagi, Dominic tertawa konyol dan berlebihan. “Untuk apa? Kalau aku bisa mendapatkan wanita baru, Ashley kekasihmu misalnya. Dia memiliki kaki yang jenjang, kulit sutra, bibir mawar, dada—”
“Sialan! Tutup mulutmu.” Rahang Cruz terkatup rapat dan tangannya mengepal kuat.
Ya Tuhan, Cruz bersumpah bahwa ia satu-satunya pria yang akan berada di altar bersama Ashley suatu saat nanti. Mendengar bagaimana Dominic serakus itu tatapannya pada Ashley rasanya Cruz ingin menghajar pria itu, jika bukan dia seorang orang berpengaruh di New York.
“Oh, tenangkan dirimu.” Dominic menyeringai puas.
“Hentikan imajinasi liarmu, Dom. Aku benar-benar akan mengambil tulang keringmu jika kau berkata demikian.”
Dominic membuka bahunya lebar-lebar dan menghirup cerutunya. “Kau tahu? Itu sangat tidak menyenangkan.”
“Cruz, sosismu hangus.” Nyonya Sophie datang membawa piring besar.
“Astaga!” Cruz memekik melihat sosis-sosisnya hangus karena perdebatannya dengan Dominic.
“Tidak apa, Cruz. Setidaknya hanya sisi bawahnya saja yang hangus.” Nyonya Sophie tersenyum sembari mengambil sosis-sosis itu ke piring besarnya.
“Kemarilah! Ada yang mau jus jeruk segar?” Grace berteriak mengalihkan sosis hangus.
Dominic menyahut. “Sisakan satu untukku, Manis,” katanya menghampiri Grace dan mengambil satu gelas di sana.
Sesaat setelahnya Nyonya Sophie dan Cruz menyusul dengam sosis hangus mereka. Itu hanya hangus sebagian, setidaknya masih layak dikonsumsi.
Ashley memberikan satu gelas jus jeruk pada Cruz yang langsung diterimanya dan duduk di samping wanita itu. “Terima kasih,” katanya setelah mendapatkan minumannya.
“Maaf, aku izin ke kamar kecil.” Dominic berdiri berpamitan setelah Cruz menempatkan duduknya berhadapan dengan pria itu.
Dengan antusisnya, Grace menyalin beberapa sosis ke piring porselen. “Aku akan membawakan ini untuk Luna. Dia terjebak bersama essaynya.”
“Jus jeruk ini sekalian.” Nyonya Sophie menyodorkan satu gelas.
Grace masuk ke dalam rumahnya menuju kamar Luna yang terletak di lantai dua. Dengan susah payah dia membuka pintu kamar Luna dengan kedua tangannya yang penuh dengan sosis dan jus. Setidaknya, sosis dan jus itu ide baik untuk menemani gadis itu mengerjakan essaynya.
Kamar itu kosong. Luna tidak ada di dalam sana. Grace meletakkan piring dan gelasnya mencoba mengecek keberadaan Luna, baik di bawah tempat tidur ataupun meja belajar. Namun, hanya ada kertas essay di sana. Grace sempat panik, tetapi dia berusaha tenang untuk turun dan memberitahu semuanya jika Luna hilang.
“LUNA MENGHILANG!”
Bulu di seluruh tubuh Grace menegang, sementaranya jantungnya berpacu cepat.
“Apa? Kau sudah mencarinya di kamarnya?” tanya Nyonya Sophie mendekati Grace.
Grace gelagapan. Wajahnya panik bukan main. “Aku sudah mencarinya di kamar. Namun, Luna tidak ada. Dia hilang.”
“Ya Tuhan!” Nyonya Sophie hampir pingsan kalau saja Cruz tidak buru-buru menangkapnya dan membawa wanita itu duduk di bangku panjang.
“Ada apa? Aku mendengar teriakan dan apa yang sebenarnya terjadi?” Dominic tiba setelah dari kamar mandi. Dia menatap Grace dan Nyonya Sophie secara bergantian.
“Putri kecilku hilang, Dom. Ya Tuhan.” Nyonya Sophie mengibas-ibaskan tangannya ke depan wajahnya membutuhkan banyak pasokan udara.
“Aku akan menelepon polisi.” Grace merogoh ponselnya dari saku jeansnya yang kemudian ditahan Dominic.
“Kupikir jangan dulu. Bisa saja dia pergi keluar. Kita bisa mencarinya di seluruh kompleks atau bertanya pada satpam.” Dominic menjelaskan dan itu ada benarnya juga.
Grace mengangguk dan menurut. “Aku akan mengetuk setiap rumah dan meminta bantuan satpam.”
“Aku ikut denganmu, Grace.” Cruz berdiri menawarkan dirinya. “Ashley, kau di sini bersama Nyonya Sophie. Aku akan kembali secepat mungkin.”
“Sementara aku akan memeriksa di dalam. Siapa tahu dia berada di sesuatu tempat.” Dominic undur diri bersamaan dengan Cruz dan Grace pergi melaju secepat torpedo.
“Tenanglah, kita pasti akan menemukannya.” Ashley mengusap lengan Nyonya Sophie dan dibalas angukan kilat wanita itu.
Setelah hampir satu jam berkeliling kompleks dan bertanya pada petugas satpam yang berjaga. Grace dan Cruz tiba. Wajahnya masih sama tidak baiknya dari beberapa jam lalu.
“Tidak ada yang melihat Luna. Kami sudah mengelilingi kompleks ini,” kata Grace ketika tiba di hadapan Nyonya Sophie.
Dominic menjejalkan tangannya ke saku celananya. “Aku juga tidak menemukannya di dalam rumah.”
Menarik napas berat dan menghela dengan kasar, Grace berkata, “Aku akan menelepon polisi.” Wanita itu meraih ponselnya dan menekan nomor polisi.
“Aku akan memasang papan reklame di setiap sudut kota.” Cruz menambahkan dan dia menatap Nyonya Sophie seolah meminta persetujuan pada yang bersangkutan.
“Menurutku itu terlalu berlebihan, Cruz, Luna hanyalah seorang anak kecil dia tidak mungkin pergi sejauh itu, kecuali dia diculik,” kata Dominic sembari mengedikkan bahunya acuh tak acuh.
Bibir Cruz mengetat. "Jelas-jelas di depan mata ini penculikan."
"Namun, siapa yang peduli dengan bocah tujuh tahun?" Dominic menatap Cruz dan beralih pada Nyonya Sophie.
Nyonya Sophie menggeleng lemah. “Dia benar, Dom. Papan reklame bisa membantu. Ini salahku, seharusnya aku memeriksa kamarnya setiap sepuluh menit sekali.”
Tak berlangsung lama, mobil polisi datang dan beberapa tetangga juga berkumpul di rumah Nyonya Sophie berusaha untuk menghibur wanita itu. Dua polisi datang berbadan tinggi tegap dan salah satu di antara mereka meminta kronologi kejadiannya pada Grace dan Nyonya Sophie.
🌙🌙🌙
Besok Didi UTS sampai tanggal 17 doain bisa mengerjakan, ya, gaes. 😇😇😇😇😇😇😇
(Picture Nyonya Sophie)