Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Bad Girl




🌙🌙🌙


Please vote, comment, and share.


🌙 Playlist 🌙



🌙🌙🌙


PEKAN minggu pertama di awal bulan seharusnya rencana yang baik untuk mencicipi tiramisu terbaik di New York, tetapi sayangnya sayap-sayap harapan itu harus patah saat Ashley Catalina terbagun menemukan Cruz Aaron Marquez tidak ada di sebelah ranjangnya.


Sebuah catatan kecil dengan kertas putih tanpa garis tergeletak di sebuah meja makan. Cruz sudah memesankan pizza untuk Ashley makan dan juga catatan di atasnya.


Maaf, aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku pergi menjemput Grace dari rumah sakit tanpa menganggu tidurmu.


Tertanda Cruz.


Entah menggapa pizza sama sekali tidak membantu menyenangkan hati Ashley ketika mengetahui bahwa Cruz menjemput Grace. Seseuatu bergelora dalam hatinya, tetapi itu bukan perasaan marah, melainkan cemburu.


Cruz pergi 20 menit sebelum Ashley bangun. Pria itu membantu Grace berkemas sendirian karena Nyonya Sophie menunggu di rumah. Dokter Dean—pria berambut cepak dengan bekas jahitan di wajahnya berdiri di ambang pintu, lantas tanpa instruksi Cruz mendekat.


“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.” Dokter Dean menghela napas. “ini penting dan harus empat mata.”


Tatapan Dokter Dean melintas di bahu Cruz menatap Grace sebelum akhirnya Cruz paham bahwa Dokter Dean tidak ingin melibatkan Grace untuk obrolan pentingnya.


“Jadi, ada satu hal yang ingin kukatakan padamu.” Dokter Dean menatap Cruz dengan saksama.


“Well, aku mendengarkanmu.”


“Aku benci mengatakan ini, tetapi kondisi hatinya benar-benar jauh dari kata ‘baik’ aku harus mengatakan bahwa mungkin dia akan bertahan beberapa bulan di bumi.”



(Hidung biasa aja dong, kayak seluncuran anak TK)


Cruz merasa goyah dalam berdirinya, pernyatannya benar-benar membenturnya luar biasa keras.


“Aku berharap dia akan selalu di dekatmu sebelum waktu itu tiba.” Dokter Dean menepuk bahu Cruz sebelum akhirnya pergi.


Napas Cruz memberat mengetahui itu mungkin tidak lama lagi dan ia tidak siap kehilangan untuk ketiga kalinya. Austin, Luna, juga Grace.


Dia membantu Grace dengan mendorong kursi rodanya membantunya masuk ke mobil Ferarrinya yang biasa Cruz gunakan jika bersama Ashley. Itu mobil kesukaan Ashley. Omong-omong mengenai Ashley, Cruz kembali berpikir bahwa caranya berpamitan mungkin buruk, ia berjanji bahwa setelah pulang akan membawakan tiramisu untuknya.


Dia membawa laju mobilnya di jalanan New York.


“Dokter Dean mengatakan sesuatu, Cruz?” tanya Grace menoleh ke arah samping.


“Hanya mengatakan bahwa kau harus rajin meminum obatmu.” Cruz melayangkan senyumannya, mencoba menutupi apa yang sebenarnya Dokter Dean mengenai usia Grace tidak lama lagi. Itu mungkin akan meluruhkan semangatnya untuk sembuh.


“Cruz, apa aku boleh meminta satu hal padamu?”


“Apa pun, Grace.”


Grace tidak langsung menjawab, sebuah lagu Bruno Mars mengalun indah di udara.


Wanita itu memandang tepian rok biru mudanya. Dia berujar, “Aku ingin melihat lampion saat malam tahun baru. Bisakah kita melihatnya bersama? Kau bisa mengajak Ashley.” Bibirnya melengkung luar biasa manis marena senyuman mengukir wajahnya yang pucat pasi.


Sebenarnya, saat malam tahun baru Cruz berencana untuk membawa Ashley ke Morning Abby. Namun, perkataan Dokter Dean berdengung kembali di kepala.


“Baiklah.”


Grace tidak berjingkat, tetapi senyumannya menjelaskan bahwa jawaban Cruz benar-benar sebuah penantian.


Streett ....


Cruz menginjak remnya, mereka terjungkal ke depan jikalau seatbelt tidak terpasang di depan dada mereka. Seorang wanita baru saja melintas di depan mobil mereka. Dia berteriak karena hampir saja tubuhnya terhuyung ke jalan aspal. Wanita itu menunduk memeluk tubuhnya dan mengigil.


Cruz keluar dan menghampiri wanita itu. “Kau baik-baik saja, Nona?” tanyanya membantu wanita itu berdiri.


“Aku ... Cruz!” Rebecca melotot menemukan Cruz di depannya. Wajahnya seperti ketakutan melihat film horor.


Cruz tersentak saat Rebecca mengambil ancang-ancang untuk lari. Namun, Cruz mencekal pergelangan tangannya hingga mengurungkan niat wanita itu untuk kabur.


“Tidak akan.” Cruz semakin mempererat pegangannya saat Rebecca membrontak.


“Ashley, help me!” serunya menoleh ke arah mobil. Dikira di dalam sana Ashley yang berada di sebelah setir, tetapi itu Grace.


Dibuat bingung saat Rebecca meneriakkan nama Ashley untuk meminta tolong padahal yang Cruz tahu mereka bukan teman baik.


Cruz meringis keluar dari pikirannya saat Rebecca mengigit tangannya. “Fuck!”


Selanjutnya, Rebecca berlari sekencang torpedo menggunakan kesempatan yang ada.


Sesaat, Cruz merasa khawatir mengenai Ashley saat Rebecca berlari ke arah penthousenya. Pria itu pun mengambil ponsel dari sakunya menekan nomor Sony dan di dering pertama asistennya menjawab dari sebrang sana.


“Aku ingin kau ke penthouseku. Aku mengkhawatirkan kekasihku sendirian di sana.”


Bagaikan komando, Sony menurut saat Cruz memerintah. Cruz bersyukur setidaknya jika Rebecca berniat mencelakai Ashley ada Sony di sana.


🌙🌙🌙


Ashley berjingkat cepat dari Netflix saat mendengar bel penthouse berbunyi. Meninggalkan film romansanya hanya untuk menyambut kepulangan Cruz.


“Sony!”


Harapannya pupus, menemukan Sony di balik pintu penthousenya. Berdiri di sana setelah menyapanya.


“Pagi, Miss Ashley, maaf menganggumu. Tuan Muda memintaku untuk mengecek keadaanmu.”


Ashley tersenyum. Bibirnya melengkung, tetapi tidak dengan matanya. “Oh, kenapa harus kau? Di mana dia?”


“Mengantar Miss Grace.”


Memutar manik matanya, Ashlely memutar tubuhnya masuk kembali ke dalam. “Masuklah, Sony.”


“Tidak, saya akan menunggu di luar,” kata Sony dan Ashley mengangguk.


Dia berjalan malas kembali ke kamarnya, melanjutkan filmnya dengan tidak bersemangat. Melihat gumpalan awan yang menghitam memenuhi angkasa. Sebentar lagi akan turun hujan.


“Tunggu dulu.” Ashley menyipitkan matanya melihat Rebecca baru saja menyeberang dan berjalan ke arah lobby.


Rebecca akan menemuinya dan Sony di luar. Jika mereka bertemu, oh tidak, Ashley harus bertindak cepat. Dia keluar dari penthouse saat Sony menyapanya kembali.


“Aku akan ke supermarket. Kau mau menitip sesuatu?”


Sony menggeleng sebagai jawaban. Ashley tanpa babibu dia segera berjalan lebar menyusuri lorong dan menunggu Rebecca di belokan menuju lift menunggu Rebecca keluar dari lift itu.


Ting! Saat lift berbunyi Ashley pikir itu Rebecca, tetapi itu bukan. Seorang remaja putri bersama kekasihnya keluar dari sana.


Saat lift kedua berbunyi, Ashley melihat Rebecca keluar dan dengan segera dia menarik Rebecca bersembunyi bersamanya sebelum Sony melihat.


Well, Rebecca mengalami perubahan dalam penampilan. Dress selutut dengan lengan panjang, itu lebih baik dari busana sebelumnya.


“Hei, kau ini kenapa? Aku tahu Cruz tidak ada di dalam kenapa kita harus di sini?” tanya Rebecca memprotes.


“Ada Sony di sana. Dia asisten Cruz. Jadi, apa maumu kembali ke sini? Mau merampok lebih banyak dariku?” Alis Ashley tersunging.


Rebecca tertawa sinis. “Maaf, aku sudah berhasil mengait pria kaya, tetapi itu bukan Dominic. Aku mendapat ratusan dollar atas serviceku.” Dia mengibaskan rambutnya dengan angkuh.


Baik, dia menyombongkan diri. Ashley menggeram dan hanya memutar bola matanya jengah.


“Aku ke sini hanya untuk mengembalikan uangmu dan lipstikmu.”


Ashley membelalak. “Hanya itu?”


“Ya, memangnya kau minta lebih apa dariku?”


“Beritahu aku apa yang kau ketahui mengenai kasus kematian ini.” Ashley menuntut.


“Kau pikun atau bagaimana, aku sudah memberitahumu jika aku tidak ingin terlibat dengan kalian. Cari sendiri dan jangan libatkan aku!” Rebecca menolak keras.


Ashley berdecap. “Kupikir kita teman karena aku membantumu waktu itu.”


“Aku tidak memiliki teman sebelumnya, tetapi jika kau menganggapku begitu baiklah terserah, tetapi aku akan mematok tarif seratus dollar untuk satu informasi.” Rebecca tersenyum miring.