
Please vote, comment, and share.
🌙 Playlist 🌙

🌙🌙🌙
Sudah satu bulan sejak insiden di mana misteri tewasnya Austin dan Luna terkuak, berita mengenai Dominic pun masih menjadi perbincangan hangat di New York, termasuk dunia politik. Kasus jual-beli anak yang bermarkas di kedai pizza terkenal dan terbesar di New York yang melibatkan seorang wali kota dan jajarannya.
Dengan membawa popcorn yang baru saja Ashley angkat dari oven dia berjalan mendekati Cruz yang menonton acara televisi di mana gempar-gemparnya nama Dominic Aquest menjadi bahan pembicaraan.
“Kemari, Sweetheart.” Cruz menepuk sofa yang kosong di sebelahnya setelah menyadari keberadaan Ashley.
Ashley payah dalam membuat berondong jagung. Ini percobaan kelima kalinya yang berhasil. Dia hanya berharap rasanya tidak begitu payah ketika Cruz memakannya.
“Cruz, kau bilang setelah kasus ini kau akan menikahiku.”
Sesaat mata mereka bertemu dan saling beradu. Udara berderak di sekitar Ashley saat Cruz terdian selama 10 detik. “Tentu saja.” Cruz tertawa. “Kau akan menjadi Ashley Marquez.”
Ashley menyungingkan senyumannya, tetapi hal itu tidak mencapai matanya. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa. Belum sempat dua detik punggungnya bersandar, Cruz menarik dalam pelukannya. Aroma citrus menjadi hal yang paling Ashley sukai.
Mereka terdiam. Menikmati berita di televisi. Ashley dengan pikirannya. Memikirkan bagaimana suatu hari nanti memakai gaun putih berjalan di altar dan memakai tiara keluarga Marquez. Namanya bukan Ashley Catalina lagi, mungkin sangat disayangkan, tetapi Ashley Marquez adalah nama yang paling ia inginkan saat ini.
Mungkin inilah rasanya obsesi.
Ashley senang menikmati lebih banyak waktu bersama Cruz setelah misteri kematian dan teror itu sudah berakhir. Hanya ada dia dan Cruz.
Di tengah kalutnya pikiran, ponsel Cruz berdering di atas meja. Ternyata itu dari Dokter Dean.
Kuharap kau tidak lupa, ini jadwal Grace harus check up.
Cruz mengusap jarinya di pipi Ashley, kemudian bergerak berdiri meninggalkan sofa yang empuk nan nyaman.
“Kau akan ke mana?” tanya Ashley.
Cruz mengecup bibir Ashley sekilas.
“Aku harus mengantar Grace check up.”
“Kau akan pulang sebelum makan malam, bukan begitu?”
“Tentu. Aku akan pulang sebelum makan malam. Bagaimana bisa aku melewatkan sup lezatmu.” Cruz terkekeh dan sekali lagi mengecup ujung bibir Ashley sebelum pergi meraih jaket dan kunci mobilnya dan menghilang di balik pintu.
Ternyata pilihan menolak Grace Serene tinggal bersama juga bukan pilihan bagus. Cruz banyak keluar menjemput Grace untuk check up. Sebagian hati Ashley merasa bahwa Grace tidak pantas mendapatkan sebagian dari perhatian Cruz. Yeah, wanita itu tidak pantas mendapatkannya.
Ashley mengenggam kalung pemberian Cruz yang masih ia pakai. Dia percaya bahwa Cruz hanya akan kembali padanya sejauh apa orang lain akan merebut darinya.
Sambil menunggu Cruz pulang. Ashley memasak sup bawang. Dia mendengkus jengkel. Apa seharusnya Grace tinggal bersama mereka, jadi Ashley dapat memantaunya sendiri dengan dekat?
Supnya selesai lebih cepat lima menit dari biasanya. Atmosfer di luar sana dingin dan mungkin hujan akan turun sebentar lagi. Ashley melirik jam. Sepuluh menit lagi tiba waktunya makan malam. Ia berharap Cruz akan cepat pulang sebelum hujan benar-benar mengguyur bumi.
Ashley menunggu lebih dari 10 menit. Hujan pun mulai mengetuk jendela dengan brutal. Dia menunggu Cruz di sofa dan sesekali melirik ponselnya. Tidak ada panggilan maupun pesan dari Cruz. Pria itu terlambat pulang. Ashley tidak akan makan sendiri tanpa Cruz.
Namun, menunggu lebih dari sepuluh menit akan membuat supnya dingin.
Itu hanya sup, Ashley. Kau bisa memanasinya lagi, batin Ashley setelah hampir setengah jam menunggu Cruz pulang. Dia hampir putus asa menunggu, tetapi saat bel penthouse berbunyi dia berlari membuka pintu itu.
“Kau terlambat dan kau tidak mengabariku.”
Cruz terlihat basah. Dia melepas sepatunya. “Maaf, kau tidak seharusnya menunggu. Kau sudah makan?”
Ashley merengut. “Aku menunggumu.”
“Maaf, Ashley. Baik kita akan makan.”
“Kenapa kau terlambat?”
Cruz mengaruk hidungnya yang mancung. “Aku menemani Grace makan. Dia tidak bisa memasak, kau tahu.”
Dengan menarik napas panjang, Ashley mendesah. “Kau sudah makan malam bersama Grace? Tanpaku? Sedangkan aku di sini menunggumu.” Kekecewaan bersinar di manik matanya.
“Maafkan aku, baik kita akan makan bersama.” Cruz menyentuh lengan Ashley yang langsung di tepis cepat oleh wanita itu.
“Aku menunggumu, Cruz. Kau membuat kesalahan. Pertama kau terlambat, kedua kau sudah makan tanpaku.”
“Kumohon, Catalina. Jangan seperti ini.” Cruz memeluk Ashley saat mata wanita itu basah.
“Aku akan makan lagi. Kali ini denganmu. Kumohon, jangan perbesar masalah sepele ini.” Cruz mengusap punggungnya. Menenangkannya.
Ashley menghela napas. Akhir-akhir ini ia terlalu emosional dan sesitif.
“Kau tidak perlu cemburu dengan Grace, Catalina. Aku hanya milikmu. Kau percaya padaku?”
“Aku mengenalmu hampir seumur hidupku, Cruz. Aku hanya takut jika aku tidak memilikimu.”
Cruz terkekeh dan mengecup puncak kepala Ashley. “Kau harus tahu bahwa aku melakukan semua ini karena Grace mengalami penyakit yang serius dan juga hidupnya di bumi tidak lama lagi.”
“Kau yang benar?”
🌙🌙🌙
TBC
Jangan lupa tinggalkan komentar yang banyak.