Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Worry about Me



οΏΌ


πŸŒ™πŸŒ™πŸŒ™


Instagram : itsnotdein


******* : deedein


Email : itsnotdein@gmail.com


πŸŒ™ PlaylistπŸŒ™


οΏΌ


πŸŒ™πŸŒ™πŸŒ™


Ribuan bintang menabur angkasa, seolah malam tidak akan pernah kehilangan sinarnya. Langit melukis sekumpulan awan gelap, kepulan asap kendaraan dibelah begitu saja oleh kendaraan sport milik Cruz membelah jalanan yang tampak tiada sepinya.


Cruz dengan keras kepala menerima tantangan pria berkumis melintang itu. Datang tepat tengah malam ke sebuah kasino yang terletak di sudut New York.


Jutaan manusia berkumpul di sana, bahkan sangat ramai untuk sebuah tengah malam saat ini. Cruz mengedarkan pandangannya. Dia datang bersama Ashley dan Sony. Sampai sebuah pria bersetelan tiga lapis menguatkan instingnya mengayunkan kakinya mendekat ke arah sudut kasino. Pria itu tidak sendiri. Bersama Rebecca yang duduk di pangkuannya mengenakan busana tanpa lengan dengan potongan dada yang rendah.


"Kau datang tepat waktu." Pria itu memainkan kumisnya dan tersenyum miring ke arah Cruz.


Cruz mengambil langkah maju. Sesaat napas yang Ashley hirup terasa berat, seperti ikut mencekik di setiap tarikan yang wanita itu buat.


"Aku Cruz Marquez, aku tidak mungkin bersilat lidah dan berdusta terhadap ucapanku sendiri."


Mereka-Cruz dan pria setelan tiga lapis sama-sama angkuh.


Dengan mengudarakan tangannya, pria dengan kumis melintang di bawah hidungnya berujar, "Panggil aku Dominic Aquest."


Geez! Dominic Aquest, salah satu pria paling berpengaruh. Dia seorang wali kota. Sekilas dilihat dari penampilannya, itu sudah jelas bahwa dia termasuk orang politik.


Tidak mau berbasa-basi, Cruz menepis tangan Dominic dan mengambil kursi di depan pria itu bersama Ashley sedangkan Sony berdiri di belakang mereka.


"Simpan omong kosongmu, Dom. Aku ke sini bukan untuk bir dan semacamnya, aku menginginkan Ferrari itu." Alis Cruz yang gelap melengkung karena permintaannya yang angkuh itu.


Dominic Aquest memiringkan kepalanya ke kiri, memberi senyuman miring. "Well, well, well, ternyata ayahmu Jack Marquez tidak mengajari putranya sopan santun."


Dengan mendengkus, Cruz menyilangkan kedua kakinya. "Jika kelakuanku buruk jangan libatkan keluargaku. Aku hanya menanggung beban karena marga di belakang namaku."


"Wow, Ashley, kau benar-benar hebat. Setelah mendapatkan Austin kau juga mendapatkan Cruz. Katakan padaku bagaimana caranya kau merayu?" Rebecca mengolok-olok.


"Tutup mulutmu, Nona. Aku bisa membayar setiap kata yang kau keluarkan saat itu juga." Cruz memperingati dengan wajahnya yang masih kelewat santai.


Dominic tertawa pendek. Lalu, membenarkan jasnya. "Kau mau memulainya sekarang atau mau segelas wine dulu?" tawarnya kelewat ramah.


"Kita bisa memulainya lebih awal."


"Baiklah, aku hanya menurut saja." Dominic mengedikkan bahunya. Dia memberi kode ke arah sudut kanan dan semenit muncullah wanita bergaun luar biasa ketat berwarna ungu.


Wanita itu bernama Flower. Wanita itu melengkung seksi seperti tangkai, indah seperti bunga, dan berduri seperti mawar. Flower mengambil kursi di tengah. Dia berperan sebagai dealer.


Jemari lentiknya itu mulai mengocok kartu domino yang berjumlah 28 buah kartu. Sesaat atmosfer di sekitar Ashley terasa menipis saat Flower mulai membagikan tiga kartu secara acak pada Cruz juga Dominic.


"Menangkan Ferarri itu untukku." Rebecca berujar kepada Dominic dan mereka bercumbu untuk sesaat sebelum pria setelan tiga lapis itu membuka kartunya.


Ashley mendekat. "Apa kabar baiknya?"


"Aku tidak tahu harus berkata apa." Cruz menggaruk alisnya.


J9, J0, J1, J2, J3 adalah kartu keberuntungan. Namun, J5 ... terlalu ambigu.


Dominic mengintip dari atas kartunya. "Menyerahlah mulai sekarang, Cruz," katanya.


Bibir Cruz sedikit melengkung. "Sudah terlanjur melompat ke air, maka harus basah sekalian."


"Keras kepala!" Dominic tertawa dan menyambar gelas winenya.


Cruz mengambil satu kartu lagi setelah itu Dominic. Sesaat Cruz melirik Dominic. Dia melihat keempat kartunya. Mulai menghitung penjumlahan terhadap satu kartu yang lainnya.


Diam-diam saat mengambil kartu keempat, Dominic mengambil dua kartu secara bersamaan mengambil salah satu dan memilih salah satu di antara keduanya.


Bibir Dominic tersungging miring. "Bersiap untuk kalah?" tanyanya setelah menempatkan salah satu kartu yang menghasilkan sembilan.


"Menyerahlah, Dom. Kau kalah!" Cruz melempar kartunya ke atas meja. Menampilkan dia mendapatkan hasil sembilan.


Dominic tanpa sepengetahuan Cruz menyimpan salah satu kartunya di bawah meja. Pria itu tersenyum angkuh dan menghirup cerutunya. "Astaga!" Dominic mengeluh. "sayang sekali aku harus mengatakan bahwa kita seri."


"APA?!" Ashley hampir saja berteriak mengetahui hasil keduanya sembilan sama.


Dengan kebijaksanaan Flower, wanita itu melihat kartu masing-masing kedua player. Cruz memiliki kartu (3,0 - 5,0) dengan (2,1 - 6,0) dan kartu Dominic (2,0 - 4,2) dengan (3,1 - 3,2). Jika dijumlahkan hasil mereka seri.


"Di sini aku umumkan pemenangnya adalah player pertama." Flower berkata dan memberikan tepuk tangan pada Cruz.


Di sini Cruz memiliki nilai high card 6, sedangkan Dominic memiliki nilai high card 5. Jadi, di sini pemenang domino qiu qiu adalah Cruz.


Dengan jantannya, Cruz berdiri meraih kunci mobil Ferarri yang Flower berikan padanya. Dia berkata, "Thank you, Flo." Merampas kunci itu dan segera menarik Ashley ikut berdiri.


"Tunggu, Cruz!" Dominic berseru di belakangnya.


Dominic menghirup cerutunya dan berdiri. "Melihat keberanianmu, aku tertarik untuk mengundangmu pesta bersamaku."


Bagi Ashley itu tawaran yang ramah dan bersahabat, sayang sekali dengan keangkuhannya, Cruz mengangkat dagu dan memainkan kunci mobil Ferrari itu. "Simpan saja tawaranmu untuk lain waktu."


Tanpa mengindahkan ucapan Dominic, Cruz segera menarik pinggul Ashley membawa mereka keluar dari kasino. Cruz berkata seraya menyugarkan rambutnya ke belakang. "Ambil, Sony. Kau yang bawa malam ini," katanya melempar kunci mobil sportnya pada Sony sementara dirinya dan Ashley akan membawa mobil Ferarri barunya.


"See, im winner." Cruz merangkul pundak Ashley.


Sebelum Ashley sempat mengucapkan kata 'terima kasih' Cruz menyela. "Simpan kata terima kasihmu." Pria itu semakin mempercepat langkahnya. Kebahagiaan jelas terpatri di wajahnya.


Mereka-Cruz dan Ashley dengan perasaan bahagia membawa Ferarrinya menuju jembatan Brooklyn. Ashley sempat dibuar bertanya ketika Cruz membawanya ke sana. Kenangan pahit berhasil membuat Ashley bernostalgia saat di mana peluru menembus dadanya melesat jauh ke dalam dan menyerang jiwanya menghasilkan reaksi tidak terduga.


"Cruz?" Ashley mengernyit saat pria itu membukakan pintunya dan meraih pergelangan tangan Ashley untuk duduk di dak mobil.


Sesaat semua terasa dejavu. Malam kian pekat, udara semakin dingin, dan bintang dan bulan tetap setia bersinar di angkasa.


Cruz berdehem. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Aku ingin menghapus kenangan buruk itu saat di sini. Aku ingin membuatmu melupakan saat di mana aku melukaimu, Catalina." Sorot manik hijaunya bersinar terang di bawah sinar rembulan.


Bibir Ashley terasa kaku untuk bersua. Lantas, dia pun menunduk.


"Katakan sesuatu, Catalina." Cruz memutar bahu Ashley untuk berhadapan dengannya. "apa dadamu masih sakit? Izinkan aku menyembuhkan lukanya."


Ashley memegang dadanya, di mana peluru itu pernah menembusnya. "Aku sudah memaafkan jauh sebelum kau meminta maaf, Cruz." Wanita itu tersenyum tipis. "simpan kata maafmu Cruz Marquez," kata Ashley mencuri kata-kata Cruz.


πŸŒ™πŸŒ™πŸŒ™