Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
I Have Questions




🌙🌙🌙


Please vote, comment, and share


🌙Playlist🌙



Bantu cari typo terima kasih. Tegur saja semisal menemukan typo.


Hampir lima jam Cruz meninggalkan penthouse, selama itu pula Ashley menunggu kedatangan pria itu. Ashley merasa tiba-tiba ia seolah kehilangan Cruz sadar atau tidak sadar. Membayangkan bagaimana ia berjalan di altar memakai tiara indah di atas kepalanya dan bersumpah sehidup semati bersama Cruz, itu sesuatu yang membahagiakan sampai suatu opini mengenai Cruz mencintai Grace mengusik pikirannya.


Kesunyian yang panjang membentang di ruangan kamar. Ashley memeluk tubuhnya erat, berdiri di sebuah balkon kamarnya yang dilapisi kaca yang langsung menghadap bangunan beton bertingkat bergemerlap menghasilkan cahaya-cahaya indah di tengah pekatnya malam.


“Apa yang kau pikirkan, hm?”


Sebuah tangan kekar melingkar di perut Ashley. Dengan gerakan hampir tersentak, Ashley menelengkan kepalanya ke samping merasakan bagaimana Cruz menopang kepala di pundaknya.


“Kau sudah pulang?”


Cruz bergumam dan mengambil napas panjang setelahnya. Dia mengeratkan pelukannya. “Kau ingin tahu apa yang aku temukan?”


“Apa itu?” tanya Ashley dengan pandangan lurus ke depan.


“Grace menemukan ponsel Dominic tertinggal di kamar mandi saat itu.”


Merasakan tidak ada respon apa pun dari Ashley, Cruz mengerutkan keningnya. Kernyitan membelah alisnya yang tebal dan matanya menyipit dengan intesitas tajam seolah bertanya ‘kenapa?’.


Mengambil napas dalam-dalam, Ashley meluruskan tulang ekornya. Mengigit kelembutan bibirnya yang semanis ceri. “Tidakkah kau berpikir bahwa Grace adalah pelakunya?”


Ashley sengaja merahasiakan kedatangan Dominic siang tadi.


Cruz menegang. Pelukannya melonggar dan sekali lagi kernyitan membelah alisnya. “Kenapa kau berpikir begitu?”


“Aku tidak bermaksud menuduh, Cruz. Namun, kita sama-sama tahu bahwa Grace yang menyadari pertama bahwa Luna menghilang.” Ashley berdiri dan menghadap Cruz dengan saksama.


Napas kasar mengoyak diri Cruz. Dia menggeleng, tidak seutuhnya membenarkan asumsi Ashley mengenai Grace yang tersangka dengan hilangnya Luna. Bagaimana mungkin, dia seorang kakak?


Cruz meremas matanya, memejamkannya rapat-rapat hingga keningnya melipat. Sambil menarik napas dalam-dalam dia kembali membuka matanya dan menggeleng. “Itu tidak mungkin. Grace tidak mungkin melakukannya.”


Hati Ashley tersentak. “Kenapa tidak? Setiap orang akan melakukan penyimpangan, sadar atau tidak sadar itu sebuah kejahatan."


Cruz mengusap wajahnya kasar. Membanting tubuhnya di tepi ranjang. “Aku mengenal Grace jauh sebelum kau mengenalnya. Dia tidak akan melakukan hal sekeji itu.”


Ada rasa sakit yang menusuk di hati Ashley sehingga ia hampir tidak tahu harus berbuat apa. Sebisa mungkin dia menyerap rasa sakit itu dan mengabaikan bagaimana hatinya tercabik-cabik.


“Kemarilah, Sweetheart!” Cruz bangkit berdiri. Tangan kokohnya yang kuat membingkai wajah Ashley. Matanya menyorot dalam ke dalam manik hazel wanita itu. “Jangan risau dan jangan berpikir macam-macam. Luna akan segera ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.” Cruz menarik lebih dengan Ashley dalam pelukannya dan mengecup puncak kepala wanita itu dan menariknya membawa Ashley tenggelam di ranjang bersamanya.


Ashley memeluk erat Cruz. Tidak mau melepaskan atau kehilangan. Dia merasakan detak jantung Cruz yang berirama teratur dan Ashley sedang berada di pelukan pria itu.


Cruz mengecup puncak kepala Ashley. Menghirup dalam-dalam aroma lavender yang menyeruak di hidungnya. Ashley dibuat mendonggak, berkata, “Cruz, apa suatu hari nanti jika kau mengetahui bahwa aku bukalah Ashley Catalina yang kau kenal sekarang, apa kau akan meninggalkanku?” Untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya dia bertanya.


Menenggelamkan kepalanya di dada Cruz, Ashley menghirup dalam-dalam aroma pria itu. “Jika boleh egois, aku hanya ingin melihatmu sepanjang hariku disaat aku terbagun di bawah selimut dan kau tersenyum kepadaku mengucapkan selamat pagi.”


Jari-jari Cruz merambat ke punggung Ashley. Menggosoknya dan menghadap ke bawah. “Aku akan melakukannya untukmu, Sweetheart.”


“Apa kau akan menikahiku, Cruz?”


“Tentu saja.”


“Apa aku boleh tahu kapan hal itu terjadi?” Ashley mendonggak menatap saksama pria itu.


Cruz bergeser melonggarkan pelukannya. “Jika kasus-kasus misterius ini selesai tentunya," katanya mengedikkan bahu.


Ashley memberi senyuman kecil yang sangat ketat di bibirnya. “Kenapa kau serepot itu, Cruz?”


“Austin sangat berjasa untukku. Dia teman sekaligus kakak terbaikku. Dia mengajariku tentang mesin mobil juga balapan. Kau tahu darimana aku mendapatkan mata hijau? Ini semua karenanya. Dia membantuku mendapatkan donor mata saat aku kecelakan. Aku benar-benar tidak akan pernah melupakan kebaikannya.” Cruz menatap langit-langit menerawang jauh kejadian di masa lalu yang berputar di ingatannya seperti potongan film.


“Kapan terakhir kali kau tidur nyenyak?” tanya Ashley.


“Aku tidak tahu pasti. Namun, sejak kepergian Austin aku benar-benar seolah mempunyai tanggung jawab untuk berjaga," katanya dan membawa Ashley untuk tidur bersamanya.


Terbagun dari tidurnya, Cruz melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan tengah malam. Dia menemukan Ashley terlelap di sebelahnya dengan damai dan bagaikan seorang putri tidur. Tiba-tiba Cruz teringat ponsel Dominic. Dia mencari ponsel itu di laci nakas dan menghidupkan daya ponsel itu. Sebuah e-mail masuk tengah malam membuat Cruz mengernyit.


Pasta, burger, dan juga pizza terlihat yummy.


Kernyitan membelah alisnya membaca isi e-mail tersebut. Namun, ia tidak mau memikirkan terlalu banyak dan memilih mengambil minuman di dapur. Menuangkan segelas wine ke gelasnya dan bersandar di tepi meja.


“Yummy?” Cruz bergumam ketika kembali mengingat isi e-mail itu.  Dia mengoyang-goyangkan gelas kacanya dan berpikir mengenai isi e-mail makanan.


Apakah Dominic memesan makanan yang harus diantar malam hari?


Cruz hampir saja terlonjak saat bel penthousenya berbunyi di tengah malam. Dia meninggalkan wine di atas meja dan mengayunkan kakinya menuju pintu. Pria itu keluar dengan ekspresi yang aneh saat membuka pintu tidak menemukan siapa-siapa. Menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi koridor kosong.


“Apa ini? Permintaan sumbangan?” Cruz bermonolog saat menemukan sebuah surat persegi panjang di bawah kakinya.


Sekali lagi, Cruz menoleh ke kanan dan kiri mencoba mencari penggirimnya, tetapi nihil menjadi hasilnya.


Jadilah detektif yang lebih pandai dan cepatlah melompat seperti tupai untuk menemukan apa yang kau inginkan.


Dahi Cruz mengernyit membaca isi surat itu. “Omong kosong apa ini?” Dia melempar kertas itu ke tempat sampah dan memilih masuk ke dalam menuju kamarnya.


Jarinya bergerak lincah di ponsel Dominic saat tiba di kamar. Selama dia pergi mengambil minum di dapur seseorang dengan nomor tanpa nama menghubungi Dominic sebanyak jari tangan manusia pada umumnya.


Apakah itu bawah Dominic? Apakah Dominic juga bertugas di malam hari?


🌙🌙🌙


Tanya dong, menurut kalian Cruz dan Ashley cocoknya update hari apa dan apa? Satu minggu update 2X, ya. Pilih harinya.


Senin/Selasa/Rabu/Kamis/Jumat/Sabtu/Minggu.


Jawaban kalian menentukan. Muach.💋💋💋