Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Listen



Maaf jika ada typo, silakan tegur jika ada typo, ini nulisnya ngebut.


🌙 Playlist 🌙





🌙🌙🌙


CRUZ tidak berbohong mengenai penyakit yang diderita Grace Serene. Cruz tidak pernah berbohong pada Ashley, itu sebabnya ia percaya pada Cruz karena mereka mengenal sstu sama lain hampir seluruh hidup mereka.


Ashley bersikeras apa pun keadaannya posisinya di hati Cruz tidak akan dan tidak boleh digantikan oleh siapa pun dan apa pun. Meskipun, dia cukup sadar keanggunan Grace.


“Terima kasih, Dokter Dean. Aku cemas karena dia menolak meminum obatnya akhir-akhir ini.” Cruz berujar sembari keluar dari kamar Grace bersamaan dengan Dokter Dean—pria berambut cepak dengan bekas jahitan mengotori wajahnya.


“Bukan masalah, Cruz. Kupikir dia mungkin masih tertekan dengan realita mengenai ibu angkatnya.” Tersenyum tipis hingga menarik ujung bibirnya juga mata Dokter Dean menyipit.


Ashley yang menunggu di balik dinding kamar Grace ikut mendengarkan perbincangan dua pria di depannya.


Sebuah pertanyaan bersarang di kepalanya. Apakah Grace akan sembuh seperti di film Five Feet Apart saat mendapatkan donor paru-paru?


“Kau memikirkan sesuatu, Sweetheart?” tanya Cruz merangkul pundak Ashley hingga wanita itu mengerjap.


Ashley buru-buru menggeleng. “Tidak.”


“Kalau begitu aku pamit, pastikan dia meminum obatnya,” pesan Dokter Dean sebelum keluar dari kediaman Nyonya Sophie.


Malam-malam tepat pukul 20.00 Grace menelepon bahwa ia mendalami afeksi pada tubuhnya. Alhasil, Cruz panik, tetapi Ashley tidak akan membiarkan Grace memiliki waktu lebih banyak dengan Cruz, oleh karena itu ia ikut bersama Cruz.


Mereka—Ashley dan Cruz menemui Grace yang terbaring di ranjang dengan sweater rajut merah jambu miliknya. Dia melarikan pandangan ke jendela di mana malam tahun baru akan dimulai beberapa jam lagi sebelum kembang api menghiasi angkasa tepat jam 12 malam.


“Maaf, aku merepotkan kalian malam-malam,” kata Grace dengan senyuman kecil yang kencang di wajahnya.


“Cruz mencemaskanmu, jadi aku ikut.” Ashley tersenyum dipenuhi rasa jengkel bergemuruh di dalam hatinya.


“Cruz, apa kau akan melupakan janjimu atau menepatinya?” tanya Grace. “Ini perayaan tahun baru.”


Kernyitan membelah alis Ashley. “Tunggu ... janji?” Dia menoleh pada Cruz meminta penjelasan.


“Melihat lampion,” jawab Cruz dia menggaruk hidungnya yang mancung. “Baiklah, Ashley akan ikut juga.” Pria itu mengenggam erat tangan Ashley mencoba menyakinkan wanita itu atas segala keresahan dan kekhawatiran.


“Kita bertiga akan melihatnya.” Grace tersenyum kembali melarikan wajahnya ke jendela.


Bertiga. Ashley mengesampingkan protesnya saat melihat Grace melepas selang pernapasan yang membentang di bawah hidungnya.


“Kurasa aku tidak butuh itu,” kata Grace sembari melepas selang pernapasan tersebut.


Mereka bertiga akan melewatkan perayaan tahun baru dengan melihat lampion di bawah Bright Brooklyn. Cruz menempuhnya dengan waktu kurang dari setengah jam untuk sampai ke sana. Tepat di bawah jembatan sebuah lampion sudah mengangkasa di langit, seperti bintang dengan cahaya kuning seperti kunang-kunang.


“Mau menaiki perahu?” tanya Cruz ketika melihat penyewaan perahu di ujung barat.


Dia—Cruz membawa Ashley dan Grace untuk menyewa perahu.


“Maaf, tetapi perahunya hanya muat dua orang,” kata pria tua si pemilik penyewaan perahu.


Ashley menyayangkan hal itu. Namun, saat melihat antusias Grace melihat lampion membuatnya terpaksa harus berbagai Cruz pada Grace untuk kesekian kalinya. Akhirnya, Ashley mengalah. Membiarkan Grace dan Cruz yang menaiki perahu, sedangkan dia akan menunggu di mobil.


“Aku tidak tahan udara dingin.” Ashley mengosokkan tangannya pada kemejanya. “Mungkin aku akan menunggu di mobil saja.”


“Aku tidak bisa.”


Cruz menggeram dan mengusap wajahnya kasar dia menarik Ashley untuk menjauh dari Grace.


“Ada apa denganmu, Catalina?”


“Cruz, aku tidak bisa. Perahunya hanya muat dua orang, sedangkan kita bertiga. Mau tidak mau salah satu di antara kita harus menggalah.”


Cruz menggeram. “Kalau begitu kita semua tidak akan menaikinya. Itu adil.”


“Tidak, Cruz. Kumohon, kau sudah membuat janji dengan Grace. Aku tidak apa-apa harus di mobil. Percayalah, aku tidak apa-apa.” Ashley tersenyum dan mengusap lengan Cruz menenangkan pria itu.


“Aku tidak bisa, Catalina! Tidak! Sial!” Cruz menggeleng keras.


“CRUZ! PERGILAH KUMOHON. Aku tidak apa-apa.”


Melihat kesungguhan di mata Ashley, Cruz pun memeluk wanita itu. Mengecup puncak kepalanya dan berjanji bahwa ia akan kembali secepat mungkin.


Jantung Ashley tersentak oleh rasa sakit yang luar biasa melihat kekasihnya bersama orang lain. Dia tersenyum ketika perahu itu mulai mengapung di atas air. Dia tahu bahwa berbagai tidak selamanya indah.


Beberapa kumpulan lampion di angkasa terbang bebas, seperti burung. Langit dipenuhi demgan cahaya keemasan. Suasana memang romatis, tetapi tidak dengan kecanggungan antara Cruz dan Grace.


“Apa yang kau harapkan untuk tahun depan, Cruz?”


Memecah kecanggungan, Grace bertanya.


“Menikah dan memiliki keluarga bersama Catalina.”


Selama beberapa detik yang berharga, pasokan di sekitar Grace terasa menipis. “Itu harapan yang bagus.”


“Kau sendiri?”


Sesaat Grace terdiam. Melihat pantulan air yang menampilkan cahaya lampion di sekitar mereka. “Apa aku bisa sembuh? Untuk apa aku berharap?”


“Kau harus sembuh apa pun masalahnya.” Kesungguhan terpancar di iris hijau Cruz.


“Tidak ada yang harus aku dapatkan ketika sembuh. Semua orang pergi perlahan, termasuk keluarga dan juga kau.” Grace menarik napas. “Kau juga akan pergi meninggalkanku. Kau akan pergi menikah dengan kekasihmu.”


“Kau akan menemukan kekasihmu, yang menjagamu, dan yang mencintaimu.”


Mata Garce berkaca-kaca. “Aku akan mendapatkannya, tetapi aku tidak akan memberikan itu pada orang lain.” Rasa sakit bergulir-gulir dalam nadinya. “Karena aku hanya akan memberikannya padamu.”


Keterkejutan melesat melewati saraf Cruz Aaron Marquez. “Apa maksudmu, Grace?”


“Aku mencintaimu, Cruz.”


Kata-kata itu teredam dalam sebuah cahaya lampion yang terbang melewati mereka.


🌙🌙🌙


Dua part lagi tamat, ya. Tetap tunggu kelanjutan kisah ini.


Menurut kalian Cruz akan pilih Ashley atau Grace?