Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
No Lie




🌙🌙🌙


Please vote, comment, and share


🌙 Playlist🌙



🌙🌙🌙


Ashley mengerjap, diameter pupilnya melebar menampilkan iris hazelnya yang dibingkai oleh bulu mata yang lentik.


Seratus dolar untuk satu informasi? Are you kidding me?


Ashley melihat mata Rebecca berkilat atas kemenangannya, bibirnya yang sensual tersungging miring. Dia benar-benar licik.  Ashley menyesal bertanya pada Rebecca.


“Jadi, bagaimana, Ashley? Seratus dolar atau tidak sama sekali?”


Menggigit keras kelembutan bibirnya, Ashley menggeram tertahan. “Tidak akan pernah!” serunya menolak.


“Bukan masalah.” Rebecca mengangkat tinggi dagunya, lantas mengambil beberapa lembar uang yang pernah dipinjamnya pada Ashley bersamaan dengan lipstik.


“Sekali penjahat tidak akan pernah menjadi malaikat. Aku menyesal telah membantumu, Rebecca,” desis Ashley.


“Ashley!”


Menoleh melewati bahunya, Ashley terlonjak ketika suara bariton itu menyerang sarafnya membuatnya terbujur kaku dalam berdirinya. Cruz di sana berdiri tiga kaki dari tempatnya dengan rahang mengatup rapat dan kening berkerut.



Mendongakkan kepalanya, Ashley membelalak. “C-cruz?” Ashley yakin dia tergagap saat ini.


Mengayunkan kakinya untuk mendekat, Cruz menatap Ashley dan Rebecca saling bergantian dengan tatapan menyelidik tentunya.


Alis Cruz bertaut. “Kau bekerja sama dengan Rebecca selama ini?” Suaranya nyaris dingin.


“Tidak akan pernah! Ini bukan seperti apa yang kau pikirkan. Sungguh!” Ashley menggeleng cepat.


Ashley tidak menemukan tanda-tanda Cruz mempercayai ucapannya. Dia menghela napas kasar dan berdecak.


“Cruz, percayalah! Kau pikir aku berbohong? But I think we should trust each other.”


“Lalu kenapa Rebecca memberimu uang? Kalian menyembunyikan sesuatu dariku.”


“Fine! Maafkan aku, aku tidak memberitahumu sebelumnya, jika Rebecca waktu itu menemuiku. Aku membantunya, memberinya uang untuk bertahan hidup.” Ashley bergetar dalam bicaranya. “Aku membantunya bukan karena aku berkerja sama dengannya, Cruz. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud begitu. Dia memberitahuku bahwa misteri pembunuhan ini tidak ada sangkut pautnya dengannya dengan mengirimmu pesan terror. Jika kau tidak percaya, tanyakan saja padanya.”


Kernyitan membelah alis Cruz. Manik hijaunya menatap saksama Rebecca.


“Apa? Aku tidak tahu apa-apa. Ashley, jangan mengarang cerita, kita tidak pernah bertemu kecuali hari ini. Aku tidak ingin terlibat dengan kalian!” Rebecca memutar bola matanya jengah.


“Demi Tuhan, Cruz! Aku tidak mungkin berbohong padamu!” Ashley berteriak saat hanya ada mereka berdua dalam satu ruangan.


Cruz berdiri jauh dari dekapannya, dingin seolah tidak tersentuh. Ashley ingin menangis keras saat ini ketika satu-satunya orang yang paling ia cintainya mencurigainya.


Cruz menarik napas, antisipasi menghias wajahnya. “Aku tidak percaya kau melakukan ini. Jadi, kau memintaku mencabut tuntutan Rebecca karena kalian bekerja sama?” Rasa kecewa dalam dadanya tidak kunjung mereda.


“Karena dia memang bukan pembunuhnya, Cruz! Dia yang memberitahuku.”


“Dan kau percaya pada orang yang selama ini membencimu?”


Ashley tersentak. Menarik lidahnya kembali dalam mulutnya. Dia sempat percaya pada Rebecca. Namun, apakah itu salah? 


“Aku yakin dia tidak berbohong untuk yang satu ini. Kita bisa mencari tahu bahwa Rebecca bukan pembuhunya. Kau bilang pelakunya mempunyai kutu rambut, bukan begitu?


Yang awalnya dekat seolah menjadi jauh yang mulanya nyaman seolah menjadi bimbang. Tanpa bersua sepanjang perjalanan menuju rumah bordil dengan di temani Sony di belakang setirnya, Cruz terlalu dingin untuk disentuh saat ini.


Ashley memantapkan hatinya, jika Cruz akan kembali seperti Cruz yang selalu mencintainya saat ia keluar dari rumah bordil nanti. Meyakinkan pria itu setelah mendapat informasi dari Madam Ademee.


Mereka tidak banyak bicara selama perjalanan.


“Apa kau meminta informasi mengenai Rebeca Bert?” Madam Ademee bertanya dengan melipat keningnya.


“Jadi begini, Madam Ademee, kami menduga bahwa Rebecca telah melakukan pembunuhan berencana terhadap keluarga Nyonya Sophie. Dimulai dari Austin dan Luna. Namun, kami juga tidak memiliki bukti yang kuat untuk menuduh Rebecca, tetapi Dokter Dean mengatakan bahwa pembunuhnya memiliki kutu di rambutnya. Kurasa kau bisa membantu untuk yang satu ini.” Ashley menggigit kelembutan bibirnya.


Sesaat atmosfer di sekitar terasa begitu menggelisahkan bagi Ashley.


“Kau  berpikir bahwa Rebecca mempunyai kutu rambut?” tanya Madam Ademee.


Cruz mengangguk kecil. “Kurasa begitu.”


“Kau pernah melihatnya sebelumnya?”


“Aku tidak yakin untuk yang satu ini.”


Menjentikkan ibu jarinya, Madam Ademee tersenyum. “Bagaimana bisa kau berpikir begitu, Marquez?”


“Aku tidak suka kau menyebut margaku.” Cruz berdecak kesal.


“Baiklah, aku jelaskan padamu. Aku pemilik rumah bordil tidak pernah sama sekali memberi pelayanan bagi klienku untuk menikmati wanita yang kotor dalam artian bau badan atau kutu semacamnya, aku membayar mereka memberinya fasilitas untuk ke salon dan memastikan mereka tetap memesona dan tentunya tanpa kutu rambut.”


Ashley menyahut, “Itu benar.”


“Kau mendapatkan sumber dari ahli sumber, Cruz. Aku tidak berbohong dan aku benar-benar menjamin wanita di rumah bordilku terbebas dari kutu rambut. Jadi, dapat kupastikan Rebecca bukan pelakunya.”


🌙🌙🌙



(Setelah Cruz dan Ashley tamat. Didi ada rencana buat cerita Historial Romance. Jangan lupa dibaca, ya, nanti. Xoxo.)