

🌙🌙🌙
Instagram : itsnotdein
******* : deedein
Email : itsnotdein@gmail.com
🌙Playlist🌙

🌙🌙🌙
AKHIRNYA, Cruz Aaron Marquez dan Ashley Catalina berhasil melakukan dinner di sebuah penthouse megah milik pria itu. Alunan mesra tembang milik Beyonce mengalun merdu setiap sudut ruangan.
Lampu kristal di bawah mereka menjadi penerangan paling utama di ruangan makan tersebut. Sebuah hidangan bistik menjadi menu utama buatan Ashley. Itu terlihat lezat dan menggugah selera, tentunya karena buatan tangan Ashley.
“Kau tidak makan, Sweetheart?” tanya Cruz mendongakkan wajahnya dari bistik sapinya.
“Aku akan makan kentang saja, Cruz,” balas Ashley sembari menuangkan segelas jus jeruk untuk Cruz.
Alis tebal Cruz melengkung. “Kenapa?”
“Aku sedang diet. Aku harus menghindar dari daging sementara waktu.”
Kernyitan muncul di wajah Cruz, mengotori wajahnya yang rupawan. “Ayolah, Catalina. Memakan bistik sekali saja tidak akan membuatmu gemuk.” Cruz dengan keras kepalanya memotongkan bistik sapi itu ke piring Ashley.
“Cruz!” Ashley menegur.
“Tidak, Catalina. Kau harus makan bistik ini, ini dinner kita. Lihat tubuhmu sudah kurus seperti tiang kau masih akan diet? Come on!”
Ashley goyah sesaat, saat manik hijau itu menatap saksama iris hazelnya. “Kau pemaksa yang sialan aku jatuh cinta.” Dia pun tertawa.
Senyuman hangat Cruz benar-benar sehangat mentari pagi yang muncul di sela-sela jendela. Ashley benar-benar merasakan bahwa hidupnya sesempurna ini hanya bersama Cruz.
I look and stare so deep in your eyes
I touch on you more and more every time
When you leave, I'm begging you not to go
Alunan lagu milik Beyonce benar-benar mengisi ruang. Sampai dering ponsel Cruz menarik perhatian keduanya. Namun, siapa sangka reaksi Cruz hanya menggeser tombol merah membuat Ashley bertanya-tanya.
“Kenapa? Bisa saja itu penting.”
Cruz mengedikkan bahunya, sembari mengunyah bistiknya dan berkata, “Makan malam ini lebih penting daripada konferensi pers.”
Menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menyipitkan matanya, Ashley berkata, “Kau sudah tidak waras. Itu konferensi pers, Cruz.”
“Ashley Catalina, aku hanya ingin dinner. Biarkan aku menikmati dinner ini dengan damai.” Cruz menarik pergelangan tangan Ashley dan mengelusnya dengan sensasi yang luar biasa lembut.
Sampai kembali ponsel Cruz berdering. Ashley sempat mendengar Cruz menggeram saat pria itu mengecek nama si penelepon dari ponselnya. Alih-alih menggeser tombol merah seperti beberapa detik lalu, Cruz justru menggeser tombol hijau dan mengangkat telepon itu.
“Aku akan ke sana.”
Itu ucapan Cruz pada seseorang dari seberang sana yang menelepon. Ashley tidak tahu bagaimana keningnya berkerut saat melihat Cruz meraih jaketnya. Dia berbalik ke arah Ashley.
Ashley berdiri menghampiri Cruz. Sesuatu yang berat memukulnya ketika Cruz lebih mementingkan sesuatu yang lain daripada dirinya. Well, itu terdengar egois, tetapi apa Ashley salah meminta waktu dinner sekali saja setelah bertahun-tahun berpisah dengan Cruz?
“Siapa Luna?”
Tangan Cruz meraih puncak kepala Ashley. Mengecupnya di sana, tetapi tetap saja itu tidak dapat menenangkan hati Ashley ketika mendengar nama wanita lain dari bibir Cruz saat berdua. “Dia adik Austin. Aku harus menjemputnya.” Pria itu melirik arlojinya. “dia baru pulang dari kelas baletnya.”
Ashley memaksakan senyumnya. Sedikit lega bahwa itu adik Austin. “Hati-hati, Cruz.”
Setelah itu Cruz melangkah keluar dari penthousenya, menyisakan Ashley sendirian di meja makan bersama bistiknya.
🌙🌙🌙
“Senang melihatmu, Luna.” Cruz menyapa ketika gadis kecil itu membuka pintu mobilnya.
Luna sangat mengemaskan dengan kedua rambutnya yang dikepang dua memakai gaun berwarna merah muda.
“Hai, Cruz.” Luna tersenyum dan membersihkan debu dari gaunnya.
Cruz mulai memutar setirnya ketika Luna sudah memasang seatbealtnya.
Untung saja, perkiraan cuaca dari televisi itu salah, malam ini tidak hujan hanya saja langit sedang tidak cerah dan awan hitam hanya berkumpul di sana.
“Bagaimana? Ada sesuatu yang menggembirakan?” Cruz menoleh sesekali di sela-sela aktivitas menyetirnya.
“Tidak ada, sangat menjengkelkan.” Luna menekuk bibirnya yang mungil. “seseorang menumpahkan susunya di sepatuku. Ewh, menjijikkan.”
Memutar setirnya ke belokan pertama. Cruz tertawa. “Berapa banyak sepatu balet yang kau butuhkan? Aku akan membelinya.”
Senyuman mekar di wajah menggemaskan Luna. Matanya berbinar. “Sungguh?”
Cruz mengangguk. “Tentu. Katakan berapa yang kau butuhkan? Sony akan mengirimkannya besok.”
Terlihat Luna sedang berpikir sebelum bibirnya yang merah muda itu berkata, “Aku ingin satu lusin dan itu berwarna merah muda semua.”
“Dikabulkan.” Cruz tertawa bersamaan dengan itu ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Nyonya Sophie.
Di sana Grace sudah berdiri di ambang pintu memakai sweater polosnya berwarna jingga dengan jeans. Kali ini selang terlihat melintang di bawah hidungnya. Cruz sedikit prihatin melihat Grace akhir-akhir ini melihat penyakitnya datang dan pergi.
“Terima kasih, Cruz.” Grace tersenyum setelah memeluk Luna—adiknya.
Cruz mengaguk sebagai jawaban. Di tersenyum lebar ke arah Luna saat gadis kecil itu memberinya kiss bye sembari berlari masuk ke dalam rumah.
“Semua baik-baik saja, Grace?” Cruz menyentuh kedua pundak Grace, meneliti setiap inci wajah wanita itu.
“Bagaimana Ashleymu?” tanya Grace mengalihkan pertanyaan Cruz.
Cruz menggaruk hidungnya. “Kabar baiknya kami memutuskan tinggal bersama.”
“Oh, bagus.” Grace menarik kedua ujung bibirnya. “lusa, ibu ingin mengajakmu bergabung bersama kami saat thanksgiving.”
“Tentu. Ada kabar mengenai kasus sianida itu?” tanya Cruz pelan-pelan takut Nyonya Sophie akan mendengar.
Dengan berat hati, Grace menggeleng. “Belum.”
🌙🌙🌙
Adegan romantisnya udahan dulu, ya. Kita kembali ke Austin dan sianida dulu, ehe. Kasus ini harus diselesaikan.