
New York dihebohkan dengan berita hilangnya anak kecil berusia tujuh tahun dan berambut pirang. Papan reklame akan menyapa di setiap sudut kota dengan hilangnya Luna—putri Nyonya Sophie. Beberapa acara televisi juga menyiarkan berita yang sedang hangat saat ini. Pasalnya, menghilangnya Luna sangat misterius.
Rumah milik Nyonya Sophie juga dipasang garis polisi, selama satu hari penuh kemarin Nyonya Sophie tidak mengizinkan awak media dan beberapa orang asing untuk masuk, selain polisi. Namun, untuk hari kedua setelah hilangnya Luna, Nyonya Sophie membuka pintu rumahnya dan beberapa awak media berbondong-bondong haus mencari informasi.
Luna memiliki ciri-ciri rambut pirang, mata biru esnya, dan berumur tujuh tahun. Nyonya Sophie menjelaskan hal itu di televisi. Seperti sekarang, Nyonya Sophie sedang diwawancarai di atas kasur terakhir Luna terlihat. Tepatnya di kamar Luna.
“Ini salahku. Seharusnya, aku tidak membiarkan dia di kamar sendiri.” Nyonya Sophie menghela napas.
Selanjutnya, dari salah satu wartawan menanyakan kronologi hilanya Luna, Nyonya Sophie menjawab, “Terakhir kali Grace anak angkatku yang menyadari hilangnya Luna. Dia benar-benar menghilang seolah piring terbang alien menyedotnya. Kasurnya rapi, tidak ada tanda-tanda pemberontakan atau perlawanan.”
“Apa kau mencurigai salah satu orang terdekatmu atau musuh misalnya?” tanya seorang wartawan laki-laki.
“Kalau boleh jujur sebenarnya aku tidak memiliki banyak teman, aku jarang bergaul, juga aku tidak pernah cek-cok dengan orang lain sebelumnya. Aku benar-benar tidak tahu apa motif dari penculikan ini.” Nyonya Sophie terlihat putus asa.
Simpati memenuhi mata wartawan laki-laki yang bertanya tadi.
Ashley menutup acara televisinya dan berjalan menemui Cruz yang memerah menyesap brendinya. Dia terlihat kacau bahkan buruk. Ashley menyetuh pundak pria itu hingga menoleh.
“Sialan! Dari berjuta penduduk New York sama sekali tidak ada kabar atau melihat Luna.” Cruz mengerutkan kening karena rasa sakit dalam suaranya. Pertama Austin, sekarang Luna. Cruz benar-benar tidak bisa kehilangan lebih banyak orang terdekatnya.
Sedikit keraguan, Ashley berkata, “Kurasa kau lebih baik mengunjungi Nyonya Sophie—“
Dering ponsel Cruz bergetar di atas meja. Tertera nama Grace memenuhi ponsel pria itu, sesaat Ashley mengerutkan keningnya. Cruz segera menyambar ponsel itu saat dering kedua. Menjawab dan bertanya kabar mengenai Luna. Selang beberapa saat, Cruz meraih jaket yang di gantungan di balik pintu.
“Aku harus ke rumah Nyonya Sophie,” katanya berbalik menghadap Ashley.
Ashley menggosok pelipisnya dan tersenyum ragu. “Itu lebih baik. Hati-hati di jalan.”
Cruz berbalik pergi menghilang dari balik pintu. Ashley merasakan bahwa Cruz sangat menyayangi keluarga Austin. Selang beberapa menit, bel penthousenya berbunyi. Cruz kembali, pikir Ashley sembari berjalan seribu ke arah pintu sembari berteriak, “Apa barangmu tertinggal Cruz—“ Suara Ashley tertelan saat ia membuka pintu dan menemukan bukan Cruz Aaron Marquez yang memencet bel.
“Dominic.”
“Selamat pagi ... maksudku, ini terlalu siang untuk dikatakan selamat pagi.” Pria setelan tiga lapis itu berdiri di ambang pintu bersama dua asistennya di belakangnya.
“Maaf, kurasa kehadiranmu tidak aku inginkan, Sir.” Ashley akan menutup pintunya, tetapi Dominic menahan dengan kakinya yang besar.
“Aku ingin bertemu Cruz,” kata Dominic Aquest.
Sangat penting untuk Ashley mundur karena ia mulai merasakan takut merambat di kulitnya. “Maaf, dia sedang keluar di rumah Nyonya Sophie setelah mengangkat telepon dari Grace.”
“Tunggu sebentar, Grace meneleponnya?”
“Ya, dia menelepon.”
Dominic tertawa dan kumisnya ikut bergoyang. “Grace yang manis dan anggun. Tidakkah kau berpikir bahwa sebenarnya Grace mencintai Cruz begitu juga sebaliknya?”
Kernyitan mengotori wajah Ashley. “Apa maksudmu, Sir?”
“Begini ...” Dominic memberi jeda. “... kurasa mereka saling mencintai, ditambah Cruz memiliki tanggung jawab besar pada keluarga itu.”
Dominic ada benarnya. Namun, Ashley sebisa mungkin menahan kakinya yang mulai layu untuk tidak terjatuh. Untuk sesaat Ashley membeku dan rasa takut memenuhi hatinya.
“Oh, well, aku harus kembali ke kantor.” Dominic melirik arlojinya. “katakan pada Cruz bahwa papan reklame tidak membantu, itu hanya membuang-buang uang.” Dominic pamit undur diri.
Saat pintu tertutup, Ashley merasa bahwa Dominic ada benarnya. Ashley luruh di atas lantai dan dia menekuk lututnya.
Cruz hanya mencintainya.
Cruz hanya miliknya.
Cruz tidak akan meninggalkannya.
Cruz tidak akan mengingkari janjinya.