Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Beautiful Soul



Seseorang di atas panggung sana menakjubkan dengan balutan crop top berlengan panjang, juga dilengkapi rok furing serba merah. Rambutnya yang brunette sengaja digerai sepanjang melewati bahu, sedikit bergelombang di bagian bawah. Dia teramat piawai membawakan tembang tahun 90an di atas sana, menghipnotis pengunjung bar malam ini.


Suaranya yang easy listening, belum lagi bibir dengan lipstik mawarnya terlihat menawan di depan mic. Mata hazelnya begitu indah, belum lagi rambut brunettenya, sialan cantik untuk wanita penyanyi tersebut.


Lagunya mengalun mesra di penjuru sudut, itu benar-benar merdu dan indah. Tiap bait-bait lagu yang dibawakan juga menarik meski lembut. Dia benar-benar cantik, maksudnya selain suara dan wajah, wanita itu memiliki lekuk tubuh teramat sialan untuk dibawa ke atas ranjang. Astaga, pikiran mengenai tubuh dan suara itu mengacau di kepala Cruz.


“Teramat sialan cantik untuk seorang pembunuh.” Cruz mencengkeram kuat-kuat gelas kaca koktailnya.


Sony—asisten Cruz menoleh, menatap majikannya yang masih tertangkap basah melihat Ashley bernyanyi di atas panggung sana. Laki-laki berusia 30 tahun itu berkata, “Apa Anda baru saja memujinya, Tuan Muda?”


Jantung Cruz berdetak keras di balik kemeja putihnya, selanjutnya ia mendengar bibirnya mendesah. Dia menggeleng keras. “Aku menarik ucapanku.”


Teramat menarik menemukan Ashley sebagai sosok bidadari pembunuh yang malah memakai pakaian tidak terbuka, wanita brunette itu untuk kedua kalinya, Cruz menyadari bahwa Ashley lebih suka memakai busana lengan panjang. Padahal, dia bisa saja memakai bikini atau semacamnya yang menampilkan pantat atau perutnya.


“Anda ingin saya melakukan apa, Tuan Muda?” Sony bertanya.


Mata hijau Cruz masih terfokus di depan sana, belum menjawab pertanyaan Sony sampai Ashley berhasil menyelesaikan satu tembang lagunya. Suara tepuk tangan selanjutnya terdengar saat Ashley pamit undur diri ke belakang.


Cruz menegakkan duduknya, dia menoleh. “Bawakan bunga dan selipkan note di dalam sana. Aku ingin melihatnya besok malam.” Cruz menyesap koktailnya membiarkan rum menjalar di kerongkongannya.


Selesai dengan membawakan satu tembang lagu adalah hal yang biasa, itu pekerjaannya, dan Ashley menyukainya. Selanjutnya, dia berjalan ke meja rias melihat penampilannya. Ini hari Sabtu, jadi pengunjung bar ramai bahkan Ashley menerka banyak uang tip malam ini.


Sampai ia menemukan buket mawar merah di depan meja riasnya. Seorang pengagum rahasia, eh? Ashley membatin sembari menghirup dalam-dalam aroma mawar itu. Dia mengernyit menemukan note di dalam sana, menarik sebuah kertas berwarna gold.


Minggu malam aku ingin mengundangmu makan malam, mungkin itu minggu yang indah untuk menghabiskan akhir pekan bersamamu. Temui aku pukul 8 malam di penthouseku, Sony akan menjemputmu seperti biasa.


Tertanda : Cruz Aaron Marquez.


Itu manis. Ashley memerah, pipinya memanas seperti demam tinggi membaca kalimat itu. Minggu malam yang indah untuk seorang wanita lajang seperti Ashley. Cukup gila, jika Cruz mengundangnya makan malam. Cruz Aaron Marquez adalah satu-satunya laki-laki yang diinginkan Ashley untuk tidur bersama di bawah rembulan dan di bawah selimut yang sama. Come on! Itu terdengar cukup kotor dan nakal.


Dan Ashley tidak sabar untuk Minggu malam besok.


•••


Ashley menegakkan badannya, cukup percaya diri. Dia mengikat rambut brunettenya ke belakang. Memakai dress tanpa belahan dada atau punggung yang terbuka. Itu hanya skimming dress dengan pattern yang ceria.


Seperti biasa, seseorang pria tinggi sudah berada di depan pintu, mengantarnya masuk dan membawanya pada Cruz Marquez. Pria itu tidak banyak bicara, dan Ashley juga tidak cukup ramah hanya untuk sekedar basa-basi.


Kegelapan menguasai, Ashley berjalan pasti, heelsnya menancap lantai marmer tersebut, namun rasanya ia seperti melayang tatkala melihat laki-laki dalam balutan fisik sempurna itu duduk di balkon yang dilengkapi lilin-lilin lavender.


Dia menoleh ke arah Ashley ketika Ashley mencapai pintu balkon, Cruz si pemilik netra hijau tersenyum melihat korannya dan menghampiri Ashley. “Aku sudah menduga kau akan tampil luar biasa malam ini.” Cruz mencapai tangan Ashley dan mengecup punggung tangan tersebut, selanjutnya membawa Ashley duduk di depannya.


Ini lebih baik daripada makan malam sebelumnya. Pemandangan Manhattan terlihat jelas dengan gemerlap lampu-lampu kota, menunjukkan bahwa New York memiliki Manhattan yang bisa dibanggakan. Itu mungkin bukan satu-satunya yang membuat Ashley menarik senyumnya, salah satunya adalah Cruz yang memiliki mata hijau dan rambut cokelat hampir hitam.


“Apa kau suka salmon?” Cruz bertanya sembari mengelap garpunya.


Ashley mengangguk samar sembari meraih segelas anggur. “Itu lebih baik daripada gurita.”


“Oh, kau tidak suka seafood?”


Sembari mengedikkan bahunya, Ashley berkata, “Tidak semua. Hanya gurita dan kepiting aku tidak suka.” Dia tertawa pendek.


Tidak ada tanggapan dari Cruz selain anggukan dari kepalanya. Mungkin itu artinya ia hanya ingin menikmati hidangannya dalam damai. Ashley pun mengikuti Cruz untuk memotong salmonnya.


“Uh, berita yang cukup menarik aku baca di koran.” Cruz mendesah dan menatap manik hazel lawan bicaranya.


Merasa tertarik, Ashley pun bertanya, “Apa semenarik itu? Apa itu tentang orang politik?”


Cruz menekuk bibirnya sebelum berbicara, “Tidak. Aku membaca berita bahwa Austin Alexander seorang pembalap baru saja dinyatakan tiada.”


“Aku sudah mendengarnya. Kudengar dia overdosis.” Ashley meraih anggurnya, dan Cruz tidak menemukan ekspresi wajah sedih darinya.


“Sebenarnya semua tidak murni karena overdosis, ada penyebab lainnya. Kau tahu? Dia baru saja patah hati karena kekasihnya memutuskan hubungan mereka. Astaga! Wanita.” Cruz mengusap wajahnya frustrasi.