Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
You Belong with Me



🌙 I love vote, but i hate boomvote🌙


🌙Say no to Plagiat🌙


🌙Playlist🌙





🌙🌙🌙


ACARA perayaan pernikahan berlangsung sampai senja menjelang sebelum langit jingga melukis cakrawala. Malamnya pun mereka habiskan untuk berkumpul bersama keluarga seperti saat ini.


Ashley berdiri di depan cermin memasang anting permatanya. Cruz sudah di bawah sejak 10 menit yang lalu. Meskipun, acara makan malam ini hanya dihadiri beberapa orang saja, tetapi Ashley rasa tidak ada salahnya untuk tampil sedikit … ugh, tampil berlebihan. Dengan sentuhan terakhir, jemari lentik Ashley mengoles lipstik nude pada bagian bibirnya.


Dirasanya selesai dengan penampilannya, Ashley keluar  dengan memakai slip dress cokelat susu.


“Ashley.”


Ashley memutar tubuhnya, menemukan Crystal—ibu Cruz berdiri di daun pintu kamarnya.


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” katanya membuat Ashley tidak dapat menahan keningnya berkerut.


Awalnya, Ashley merasa ragu untuk masuk ke dalam, tetapi Crystal kembali menegurnya untuk mengizinkan wanita itu masuk.


“Duduklah di sebelahku.” Crystal menawarkan ruang kosong di sebelahnya. Wanita berambut pirang itu duduk di tepi ranjangnya dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuannya.


Crystal tersenyum. “Aku senang kalian kembali dipertemukan. Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu.” Tangannya sehalus sutra mendarat di lengan Ashley.


Laci nakas di sebelahnya ditarik. Sebuah kotak beludru berwarna biru tua ditarik dari sana. “Aku ingin kau membukanya.” Crystal menyerahkan kotak itu pada Ashley.


“Apa ini?” tanya Ashley.


“Buka saja.”


Tanpa banyak bertanya, Ashley menurut membuka kotak beludru tersebut. Sebuah tiara berkilau berhasil menyilaukan pandangannya ketika kotak itu terbuka. Tiara dengan hiasan berlian terpampang nyata di sana. Rasanya, Ashley bergetar harus membawa tiara tersebut. Alih-alih membuatnya lecet.


Ashley menoleh cepat hingga ekor kudanya bergoyang ke samping.


“Itu tiara yang sama yang aku gunakan saat pernikahan. Aku ingin kau juga memakainya saat hari itu datang.”


Helaan napas Ashley meluncur dengan cepat. “A-aku tidak tahu. Namun, kurasa aku tidak pantas.”


Bibir Crystal terulas senyuman. “Apa maksudmu? Sebentar lagi kau akan menjadi bagian dari kami. Aku tidak ingin mendengar penolakan lebih banyak darimu.” Crystal berdiri dari duduknya. “ayo, mereka sudah menunggu kita di bawah.”


“Apa kau tahu mengenai Dominic Aquest, Dad?” tanya Cruz kepada ayahnya. Bersamaan dengan itu Ashley dan Crystal tiba dan duduk berhadapan.


“Antingmu keren.” Charolette bersuara dan mengerling ke arah Ashley.


“Kalau aku tidak salah mengingat, bukankah dia seorang walikota New York?” Jack Marquez menerima winenya dari maidnya.


“Aku mendapatkan undangan pesta darinya.”


Crystal tersedak dengan steaknya. “Kau bergurau?”


“Tidak, Mom. Dia sungguh-sungguh mengundangku dengan Ashley ke pestanya.”


Ujung bibir Jack tertarik. “Menarik. Kau bisa datang ke pestanya dan menemukan sesuatu pengalaman, Son. Dia memiliki gigi emas di balik kumis tebalnya, dia juga menyimpan tusuk gigi di balik jasnya. Dia suka ke restoran pizza setiap ujung minggu.”


Cruz mengangga dan tersenyum kagum pada ayahnya. “Aku tidak tahu kau sepaham itu.”


“Kau tidak tahu? Daddy suka melihat berita politik hampir setiap hari. Aku bahkan kecewa ketika Daddy menuntuk chanel kesukaanku karena sekarang tidak menampilkan berita politik lagi. Aku lebih suka serial drama daripada berita tikus berdasi.” Charlotte memutar bola matanya jengah.


Tawa meledak ketika Charlotte mulai berdecak dan menggrutu.


“Jika aku jadi kau, aku akan menerima tawaran pestanya.” Jack berujar sembari melirik ke arah putranya—Cruz Marquez.


Sebuah kilatan muncul di mata Crystal. “Tidak. Jangan bermain api jika kau tidak ingin terbakar. Ingat pepatah itu?” Kecemasan mengotori wajahnya.


Semua terdiam, Cruz pun hanya mengedikkan bahunya menimbang keputusannya.


“Wine, Tuan Muda?” Sony berdiri di sebelah Cruz menawarkan botol anggur besar padanya.


Ashley tahu sejak berakhirnya makan malam, Cruz terlihat lebih banyak diam dan menyendiri. Dia memutuskan untuk menemui Cruz di balkon kamarnya. Menyentuh bahu pria itu dengan pelan, tetapi Cruz justru terkejut. Padahal itu hanya sentuhan kecil ringan.


“Kemarilah, Catalina.” Cruz menarik Ashley dalam pelukannya. Menghirup dalam-dalam aroma lavender dari rambut brunette wanita itu.


Ashley menyentuh lengan Cruz, dia bergumam, “Kau tidak ingin menceritakan apa pun?”


Kepala Cruz menggeleng, dia mengecup ringan puncak kepala Ashley. “Lihat! Rumahmu sekarang dihuni oleh ibu lima anak perempuan sekarang.” Dia menunjuk sebuah rumah berwarna cokelat muda di seberang jalan.


Rumah itu milik Ashley dulu sebelum ia dan keluarnyanya pidah ke Inggris. Rumah itu bagunannya tetap sama, hanya saja warna catnya yang bermula dari warna krem menjadk cokelat muda.


“Itu bukan milikku lagi.”


Seluruh wajah Cruz menjala karena senyuman. “Ya, karena sekarang kau memiliki rumah yang jauh lebih besar.”


Ashley tertawa pendek. “Kau benar. Aku bersyukur memiliki apa yang kumiliki sekarang. Aku tinggal di rumah besar dan lebih dari itu aku bersamamu.”


🌙🌙🌙


Satu emoticon untuk part ini?