Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Good in Goodbye




🌙🌙🌙


Please vote, comment, and share


I love vote, but i hate boomvote


Say no to Plagiat


🌙 Playlist 🌙



🌙🌙🌙


To be curious, one must go directly to the scene of the case.


Dengan sedikit gemetar Ashley mencengkeram erat saku piamanya yang di mana sebuah senjata api tersimpan di sana, pemberian Rebecca Bert.


Manik hazelnya melirik rear view mirror melihat sopir taksi tersebut. Malam ini keringat dingin mengucur di kulit Ashley. Dia melirik ponsel yang menunjukkan jam satu dini hari. Ada keraguan menyelinap hatinya, tetapi sekali lagi dia meneguhkan hati bahwa semua harus dimulai dari dirinya sendiri jika ia ingin mengakhiri kegilaan misteri ini.


Ashley mendekatkan diri pada sopir tersebut. Berkata pelan jika tujuan pulangnya bukan ke arah penthouse melainkan ke arah rumah Nyonya Sophie. Setelah mendapatkan persetujuan, taksi itu memutar arah dan berbelok ke arah kiri.


Sesaat pasokan oksigen terasa berkurang, dia menarik napas, paru-parunya mengembang bersamaan dengan naiknya dadanya mengambil napas saat ia turun di depan rumah Nyonya Sophie.


Saat ia harus menentukan pilihan. Maju atau mundur,  Ashley mulai goyah dan dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Namun, langkahnya sudah sejauh ini, alhasil dia akan memilih maju.


Dia berlari masuk, tetapi bukan melalui pintu, melainkan melalui gerbang belakang. Memanjat naik melalui pohon di sana dan mendarat di tanah. Tanpa bersusah payah, dia masuk ke dalam pintu belakang yang memang sengaja tidak dikunci entah kenapa Ashley merasa ini sebuah kebetulan yang menyenangkan.


Namun, langkah Ashley harus berhenti ketika Cruz mengirimnya pesan singkat.


Ashley, kau harus pulang atau aku akan menjemputmu sekarang.


Ashley mengabaikan pesan itu, tidak heran jika dalam pesa tersebut ada kata ‘menjemput’ karena ponsel mereka saling berhubungan dan bisa melacak lokasi satu sama lain.


Dia berjalan melewati dapur. Mulanya, sama sekali tidak ada apa-apa yang mencurigakan di sana, tetapi ketika melihat dari dalam sana memiliki penerangan, Ashley berjalan mengendap-endap hampir menyerupai maling. Debaran jantungnya menggila ketika melihat siluet seseorang dari salah satu tirai dapur.


“Dia sudah mengetahui rencana kita semua. Apa yang harus kita lakukan?”


Ashley mengintip dari balik tirai, matanya membelalak tidak percaya melihat Grace di sana. Grace disekap dengan mulut disumpal kain dan dia duduk di salah satu kursi makan. Seseorang mendekapnya.


“Membunuhnya?”


“Are you crazy? Kau sudah membunuh Austin, lalu Luna, sekarang kau ingin membunuh Grace? Aku sudah membayar banyak polisi untuk menutup kasus Luna. Dan itu sangat tidak murah.”


“Sial, Dom, kau yang tidak pecus waktu membawa Luna. Kau seharusnya membawa kabur gadis itu sebelum Grace menemukannya. Kau malah menyembunyikannya di loteng.” 


Ashley benar-benar tidak menduga saat seseorang pria berbalik badan dan ternyata itu Dominic Aquest. Asumsinya selama ini mengenai Grace adalah dalangnya adalah salah.


“Kau ibu yang buruk, Soph.”


Dominic tidak sendiri dalam aksinya. Nyonya Sophie juga ikut terlibat di dalamnya.


“Untung saja, Cruz tidak curiga mengenai e-mail mengenai pizza.” Dominic terkekeh pelan.


E-mail? Pizza? Cruz? Apa lagi ini? Apa ini alasan mengapa Rebecca takut membeberkan semua ini karena dalangnya adalah Dominic seorang wali kota New York? Well, mengenai pesta barbeque di mana Nyonya Sophie mengundang Dominic ternyata ada sangkut pautnya dengan tewasnya Luna. Lalu Austin?


Ponsel Ashley berdering hal itu menimbulkan kegaduhan yang membuat Dominic dan Nyonya Sophie menghentikan obrolannya.


“Shit,” gumam Ashley merutuki ponselnya yang tiba-tiba berdering dan nama Cruz terpampang di sana.


Namun, setelah itu ....


“Ashley!” pekik Dominic.


Sontak Ashley pun berdiri tegang. Dia refleks meraih pistol pemberian Rebecca dan menodongnya di depan Dominic dengan keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya. “Diam kalian di sana!” teriaknya menatap nyalang ke arah Dominic dan Nyonya Sophie.


Dominic tersenyum tipis. Wajahnya luar biasa tenang. “Berhati-hatilah dengan senjata itu, Girl. Itu bukan alat kosmetik.”


“Turunkan, Ashley!” Nyonya Sophie berseru.


“Kalian semua licik! Aku mendengar semuanya. Kalian ternyata yang membuat permainan gila ini dan kalian juga ikut bermain di dalamnya. Ini gila!” Ashley berteriak. “Kau! Kau seorang ibu! Bagaimana bisa kau tega membunuh darah dagingmu sendiri. Kalian semua psychopat.”  Dia mengarahkan pistol ke arah Dominic dan Nyonya Sophie secara bergantian.


“Aku, aku, bukan pembunuh! Dia yang melibatkan aku!” Nyonya Sophie berteriak  histeris dan sontak dia meraih pisau di dapur.


Dominic menatap tajam Nyonya Sophie. “Aku? Kau lupa? Kau yang menawarkan sendiri putrimu Luna untuk kujual dan saat Austin mengetahui rencanamu kau meracuninya.”


“APA?!” Ashley berteriak keras dan Grace juga melebarkan pupil matanya saat mengetahui ibu angkatnya adalah pembunuh.


“Tidak, bukan!” Nyonya Sophie menggeleng keras dan lengannya terayun menancapkan pisau di perut Dominic tanpa diduga.


Dominic membelalak merasakan pisau itu melukai perutnya. Pria setelan tiga lapis itu tumbang di lantai dengan rasa sakit luar biasa di tubuhnya. Ashley lantas berlari ke arah Dominic dan dia mencabut pisau itu dari perut sang wali kota. Tangannya di penuhi darah dan saat dia melihat Nyonya Sophie menghampiri Grace refleks Ashley meraih pistolnya takut Grace mengalami nasib yang sama dengan Dominic.


Ashley menarik pelatuknya dan peluru melesat cepat melewati kaki Nyonya Sophie sampai wanita pirang itu terjatuh di lantai.


“ASHLEY, APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Cruz yang tiba-tiba muncul dari dalam sana bersama Sony.


Tubuh Ashley menegang. Mendapati darah berlumuran di kedua tangannya.


Sesuatu seolah menampar hatinya, Cruz berkata, “Kau membunuh,” katanya dengan suara parau nyaris tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang.


Man, it’s like treasom how you treated me.


Ashley tidak tahu bagaimana harus bereaksi, dia bergetar hebat dan menjatuhkan pistolnya. Kakinya lemas seperti jeli, terpelosot di lantai dengan tangan penuh darah. “Aku bukan pembunuh,” lirihnya dengan suara pelan hampir menyerupai bisikan dan menangkup wajahnya dengan tangan berlumur darah.


🌙🌙🌙



Halo! Bagaimana, masih mau nunggu kelanjutan nasib Ashley setelah ini?


Komen yang banyak dan tulisan reaksimu setelah membaca part ini? 😆😆😆