Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Lathi



I love vote, but i hate boomvote


Say no for Plagiat.


Please vote, comment, and share


🌙Playlist🌙





Seorang wanita berbadan ramping baru saja turun dari taksinya. Rambutnya yang pirang berkibar tertiup angin malam. Busananya yang terbuka sama sekali tidak membuatnya mengigil di dinginnya angin malam yang berhembus malam ini.


Rebecca Bert melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan memastikan bahwa ia masih cukup waktu untuk dikatakan terlambat. Sembari mengusap poni dari keningnya, wanita itu mengayunkan kakinya. Berjalannya lengok-lengok bak seorang model, kakinya ramping seramping tongkat berjalan.


Manhattan Penthouse on Fifth Avenue tampak gagah di bawah gemerlap lampu-lampu yang menerangi bagunan bertingkat tersebut. Dengan penuh keyakinannya, Rebecca masuk bersamaan dengan lift yang membawanya ke lantai atas sampai lift itu berbunyi nyaring dia keluar dari sana.


“Senang melihatmu datang malam ini,” kata Cruz menyambut Rebecca dan mengecup punggung tangan wanita itu.


Napas Rebecca tercekat, dia mundur selangkah. Ia memegang dadanya merasakan bagaimana jantungnya berdebar keras ketika Cruz mengecup punggung tangannya. Rasanya beda saat Dominic mencumbunya. Rasanya beda saat Cruz membantunya duduk di kursi makannya.


“Aku sungguh tidak percaya kau menyewaku, Cruz. Apa kau sudah membuang jalangmu sebelumnya?” Rebecca bertanya dan dia menyilangkan kedua kakinya dengan sangat anggun.


Cruz menggaruk hidungnya dia duduk bersebrangan dengan Rebecca. “Aku benci membicarakan wanita lain saat bersamamu. Bisakah kita menghentikan pembicaraan mengenai wanita lain selain dirimu?”


Pipi Rebecca memerah. Dia tertawa pendek dan caranya tertawa pun sangat anggun bagaikan burung nuri berkicau di pagi hari. “Baiklah, jika itu maumu.”


Rebecca terpanah melihat bagaimana Cruz begitu jantan di balik kemejanya. Bibirnya teramat tipis dan sialan lembut. Rebecca siap melemparkan tubuhnya kepada Cruz malam ini apa pun konsekuensinya. Jantung Rebecca kembali berirama cepat saat ia berdiri dan menghampiri Cruz. Duduk di pangkuan pria itu dan bersandar di dada bidangnya yang lebar dan kuat. Jemari-jemarinya yang lentik bermain di kancing-kancing kemeja itu. Malam ini harus jadi miliknya bersama Cruz.


“Kau sudah menyiapkan seprai bunga?” tanya Rebecca mendonggak.


Cruz membuka sedikit kakinya, memiringkan kepalanya dengan angkuh. “Tentu, sesuai permintaanmu.”


“Maaf mengatakan ini, tetapi aku harus mengatakan bahwa kemampuanku berbeda dengan Ashley.”


Alis Cruz yang kecokelatan terangkat, tampak terkesan dengan pernyataan Rebecca mengenai kemampuannya.  “Aku terkesan mendengarnya,” kata Cruz sembari diam-diam tangannya menjalar di belakang punggungnya mengambil borgol yang sudah terikat di kursinya.


“Aku bahkan rela menolak tawaran berlibur Dominic hanya untuk malam ini, Cruz.”


“Kau mengambil pilihan yang tepat.” Cruz tersenyum dan diam-diam dia mulai menggeser tubuhnya dan mengaikatkan salah satu borgol pada pergelangan tangan Rebecca dan menguncinya.


“What the hell?” Rebecca mengumpat dan bersamaan dengan itu Cruz berdiri dan menjauh dari wanita itu.


“Sialan! Kalian menjebakku?” Rebecca memberontak.


Ashley mendorong sulur rambut ke belakang telinganya. “Menjebak adalah nama tengahku.”


“APA MAUMU, SIALAN? LEPASKAN AKU!”


“Begitukah caramu meminta tolong?” Ashley bertanya.


Cruz menyilangkan tangannya. “Well, sebenanarnya aku malas mengotori tanganku. Namun, apa boleh buat, kau satu-satunya yang kami curangi atas tewasnya Austin.”


Keterkejutan tampak jelas di mata Rebecca. Wanita itu terlihat mengerut dan berkata, “Apa yang kau bicarakan?”


“Dengar,” tukas Cruz yang kesabarannya mulai menipis. “kami tahu semuanya. Kami juga tahu bahwa kau yang meracuni Austin dengan sianida. Berhenti berpura-pura, Rebecca.”


Rebecca menelan ludah dengan susah payah. “Aku bukan pembunuh!” 


Cruz tampak segan untuk membicarakan masalah ini dengan Rebecca, apalagi wanita itu secara terang-terangan tutup mulut dan tidak mau mengakuinya.


“Berhenti membela dirimu sendiri, Rebecca. Kami tahu bahwa kau tersangka utamanya.” Ashley sedikit berjongkok untuk melihat Rebecca yang duduk dengan salah satu tangan terborgol.


Kata-kata itu nyaris menghujam Rebecca bagai sebilah tombak. Dia meradang. “Jalang, kalian menuduhku! Aku sama sekali tidak terlibat dengan masalah kalian. Aku bisa melaporkan kalian dengan pencemaran nama baik.”


“Pembelaanmu hebat juga, tetapi perempatnya hanya omong kosong karena kami punya buktinya.” Cruz mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ponsel itu berwarna silver milik Austin yang ia temukan di apartemen pria itu pekan lalu. Membuka instagram dan menunjukkan direct messenger yang berisi pesan ancaman Rebecca pada Austin.


“K-kau? Bagaimana bisa kau?” Rebecca  menatap ponsel di depannya dengan tergagap.


Alis Cruz melengkung naik. “Jangan lupakan kau berurusan dengan siapa, Rebecca Bert.  Serapat apa kau menyembunyikannya tetap saja akan tercium. Kau pantas dipenjara.”


🌙🌙🌙


Rebecca berhasil kena jebakan, tetapi dia bersih kukuh tidak mau berterus terang. Hm, bagaimana menurut kalian?


🌙🌙🌙


Info nih, ada yang buatin Didi trailer. Uch, siapa pun kamu terima kasih, ya. Kiss for you.