Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Crying in The Club




🌙🌙🌙


Please vote, comment, and share


I love vote, but i hate boomvote


Say no to Plagiat


🌙 Playlist 🌙



🌙🌙🌙


D


DENGAN kepala mulai berdenyut Ashley menenggak whiskey ketiganya. Saat kepalanya mulai memberat, dia menyandarkannya di meja bar. Napasnya memberat dan suara dentuman musik dari Martin Garrix memekakkan telinga membuatnya semakin ingin terlelap di sana untuk beberapa saat, sebelum Rebecca menampar pipinya pelan.


“Come on, *****! Kau buruk sekali.” Rebecca terkekeh sembari menyilangkan kakinya yang jenjang hingga menumpu dalam satu kaki. Slutty dress merah membalut tubuhnya yang ramping, ditambah dengan polesan lipstik mawar.


Ashley menghela napas dan dia mengangkat sedikit kepalanya. “Aku bukan ****** sepertimu.”


Dengan satu alis yang terangkat, Rebecca tertawa meremehkan. “Begitukah? Oh, ya, *****, kau benar-benar sudah seperti Harley Quinn yang diputus Joker.” Dia memainkan jari-jari lentiknya.


“Kau hanya tidak tahu betapa pentingnya Cruz bagiku. Saat kepercayaan dia goyah, kurasa aku tidak memiliki kesempatan untuk menjadi kekasihnya lagi.”


Rebecca mengedarkan padangan di penjuru club, banyak pria yang menggodanya, tetapi mereka hanya bercumbu dan tidak ada lanjutan dari kegiatan mereka selain Rebecca meminta pria itu pergi.


“Dan kau memang payah saat kau malah melarikan dirimu ke club.” Rebecca memesan koktail pada bertender.


Ashley berdedak. “Kau seharusnya membantuku waktu itu, saat Cruz berpikir kita bekerja sama.”


“Ashley, beberapa kali kukatakan padamu, aku tidak ingin terlibat dengan kalian ... terima kasih.” Rebecca mengedipkan sebelah matanya pada bertender saat pesanannya di hadapannya.


“Kau hanya perlu menujukan jalan padaku, Rebecca. Mana yang harus kulalui untuk semua kegilaan kematian ini. Kau tahu, tetapi kau diam.” Ashley terduduk tegap dan menatap Rebecca dengan murka.


Rebecca tersenyum, meletakkan gelas koktailnya di meja. “Kau tidak tahu jika aku membocorkan ini semua, konsekuensinya juga berdampak padaku, *****.”


“Memangnya seberapa banyak yang kau tahu?”


“Semuanya.” Rebecca mengedikkan bahunya acuh tak acuh.


Ashley tertawa kembali pada dirinya yang penuh emosi. “Oh, sialan.”


“Sampai kapan kau di sini?” Rebecca melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Cruz, pasti mencemaskanmu. Aku tahu kau kesayangannya.”


“Tidak, sebelum kau memberitahuku.”


Rebecca berdecak. “Keras kepala sekali.” Dia tertawa. “Kau memakai piamamu bermotif ke club dan kau pulang di atas tengah malam. Kau Cinderella yang buruk. Uhm, semacam Harley Quinn yang menjadi Cinderella. Itu sangat lucu, bukan?”


“Apa kau akan pergi ke hotel setelah ini?” tanya Ashley mengacuhkan ucapan Rebecca sebelumnya.


“Tentu, itu caraku mendapatkan uang.” Rebecca tertawa miris.


Prihatin terhadap hidup yang selama ini ia jalankan. Pergi ke hotel, bermalam dengan pria asing, semua berjalan sama sepanjang malamnya. Lain halnya dengan Ashley waktu bekerja di rumah bordil, wanita itu hanya melayani kencan, dan menemani para pria hidung belang makan malam.


“Sekarang pergilah.” Rebecca menatap Ashley lekat-lekat tanpa ekspresi.


Ashley menggeleng keras. “Aku tidak akan pergi dengan tangan kosong, Rebecca. Setidaknya beritahu aku sedikit yang kau tahu.”


Ashley mendengar jelas Rebecca berdecak di balik tawanya.


“Baiklah, baiklah. Mendekatlah ke sini.” Rebecca melambai.


Tanpa babibu, Ashley mendekatkan diri pada wanita itu. Jaraknya sekitar 30 senti. Rebecca menyunggingkan senyuman kecil di bibir sensualnya yang terpoles lipstik mawar yang menambah kesan menggoda. Jemarinya yang panjang nan lentik merogoh hand bag putihnya meraih sesuatu dari sana tanpa melepas pandangan dari manik hazel Ashley.


“What the **** are you doing?” Ashley membelalak terkejut dan suaranya hampir saja berteriak.


Rebecca berdecak kesal. “Come on, kau tidak perlu berlebihan seperti tadi.” Dia memutar bola matanya jengah.


“Apa maksudmu dengan pistol sialan ini?”


Bagaimana Ashley tidak terkejut ketika bukan informasi yang dia dapat melainkan sebuah senjata api buatan Austria dimasukkan ke dalam saku piamanya.  Glock Meyer 22, sebuah senjata api yang digunakan penegak hukum di seluruh dunia, termasuk Amerika.


Rebecca mengedikkan bahunya. “Untuk jaga-jaga, kurasa kau membutuhkannya.”


Kedua alis Ashley saling bertautan. “Dari mana kau mendapatkannya?” tanyanya.


“Saat aku di penjara. Aku menggoda salah satu petugas di sana. Singkatnya, aku berhasil kabur dan mendapatkan benda itu.” Rebecca berkata seolah tidak ada beban. Dia tersenyum miring dan berkata, “Jangan takut.”


“Kau ingin menjebakku dengan pistol ini, ya?”


“Apa? Tidak, tentu saja. Percayalah, Ashley, kau akan membutuhkannya. Sekarang pergilah aku akan memesankan taksi untukmu.” Rebecca meraih hand bagnya.


“Tidak.” Ashley mencegah. “Aku bisa sendiri.”


“Baiklah, itu kabar baik karena aku tidak perlu repot-repot melakukannya.”


Setelah mengucapkan terima kasih, Ashley bergegas pergi dari club yang musiknya luar biasa keras. Dia bersyukur tidak banyak pria yang menyentuhnya karena busananya. Piama membantu menyembunyikan lekuk tubuhnya. Berhasil dengan cepat keluar dari club, Ashley segera memesan taksi online.



🌙🌙🌙


Hua, akhirnya selesai nulis bab ini dalam beberapa jam di tengah kesibukan aku revisi naskah dan buat cover.


Jangan lupa komen yang banyak.😥😥😥