Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Too Sad to Cry




.


.


.


🌙Playlist🌙



Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah kiranya peribahasa yang tepat menggambarkan keadaan keluarga Nyonya Sophie.


Mengalami peristiwa buruk sangat membuat Nyonya Sophie terpuruk. Dejavu, saat Cruz kembali melangkahkan kaki di pemakaman. Pria itu dapat melihat kerapuhan mengisi jiwa Nyonya Sophie. Campuran antara air mata dan riasan wajah menuruni pipinya. Kemudian, dia menenggelamkan wajahnya di dada Dominic. Cruz hanya berharap bahwa Dominic tidak ada niat untuk menikahi Nyonya Sophie.


Butuh beberapa menit sebelum Nyonya Sophie memilih beranjak dari makam Luna—putrinya. Menekan kesedihan dalam dadanya, wanita itu menarik senyumnya. “Kurasa aku ingin pulang,” katanya. Wajahnya menampilkan senyuman, tetapi di matanya ada kesedihan yang tajam.


Selanjutnya, Nyonya Sophie, Dominic, dan juga Grace berada dalam satu mobil dengan Dominic kembali pulang ke rumahnya.


Di sela-sela menyetirnya, Cruz berada satu mobil dengan Ashley dengan kecepatan normal. Cruz merasa bingung mengenai kasus tewasnya Luna. Tidak tahu siapa yang pantas disalahkan dalam kejadian tersebut.


Akhirnya, Cruz sampai lebih cepat dari Dominic tiga menit. Mereka berkumpul di ruang tengah tanpa Luna. Tidak ada si kecil Luna yang akan menari balet, tidak ada si kecil Luna yang akan membuat masakan di dapur bersama Nyonya Sophie, semua berubah seiring berjalannya waktu. Sadar tidak sadar kenangan bersama orang yang telah pergi baru terasa saat orang itu pergi untuk selamanya. Ironisnya, manusia masih suka menyia-nyiakan waktu.


“Maaf, aku terlalu banyak merepotkanmu, Cruz.” Nyonya Sophie berusaha tersenyum.


Cruz tersenyum. "Tidak masalah," ujarnya.


“Aku benar-benar merasa ganjil mengenai tewasnya Luna.” Grace bersuara.


Dominic buru-buru menoleh ke arah Grace, siap menyanggah ucapannya, dia berkata, “Apa yang kau cemaskan? Jelas, dia terimpit ranjang.”


Rahang kukuh Cruz menegang. Dia menarik diri ke depan. “Kurasa ini ada sangkut pautnya dengan Rebecca.”


“Maksudmu, Rebecca mantan kekasih Austin?” tanya Grace mengerutkan keningnya.


“Ya. Kurasa dia dalang di antara semua kekacauan ini.” Cruz menatap Grace dengan saksama dan matanya terpancar teguh dan yakin pada ucapannya.


Dominic menarik sebelah alisnya. “Kenapa kau berpikir begitu? Bukankah kau yang membawanya ke penjara?”


Mata hijau Cruz menatap Dominic tajam. “Dia kabur. Aku tidak tahu kau memang pura-pura tidak tahu atau sudah tahu, tetapi yang jelas dia sudah kabur.”


“Cruz, kupikir kau terlalu cepat menyimpulkan.” Ashley berkata. “oh, aku tidak bermaksud membela Rebecca, Cruz. Namun, posisinya kita tidak memiliki bukti apa pun.”


“Ashley benar.” Dominic membenarkan. Dia mengangguk setuju.


Nyonya Sophie meremas matanya rapat-rapat, dia menggeleng. “Aku benci membahas wanita itu lagi.” Dia menggaruk rambutnya yang terasa gatal dan membuka kembali matanya menampilkan iris birunya.


Grace tiba-tiba terbatuk keras. Wajahnya pucat. Kecemasan mengotori wajah Cruz.


“Grace, kau baik-baik saja?” tanya Cruz.


Nyonya Sophie mengelus lengan Grace. “Dia tidak pernah meminum obatnya akhir-akhir ini, juga tidak pernah memeriksa ke Dokter Dean.”


Bibir Grace tersungging tipis. “Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.”


“Tidak, kau harus istirahat, Grace.” Nyonya Sophie menarik Grace untuk berdiri membawa wanita itu menaiki tangga menuju kamarnya.


Akhirnya, hanya ada Dominic, Cruz, dan Ashley. Kesunyian mengisi ruangan saat lepasnya Nyonya Sophie mengantar Grace. Tidak ada obrolan dengan Dominic, jika pun ada Cruz tidak ingin bersikap ramah dengan wali kota yang satu itu. Namun, mengingat Rebecca mengharuskan Cruz harus bertindak sebaliknya.


“Katakan sejujurnya, Dom. Bahwa kau yang membantu Rebecca kabur, bukan begitu?” tanya Cruz tanpa basa-basi.


Hati Dominic tersentak, dia selanjutnya tertawa dan memainkan kumisnya. “Aku? Kau menuduhku? Itu sangat tidak sopan, Cruz. Aku bisa menuntutmu atas pencemaran nama baik, tetapi aku terlalu baik untuk melakukan padamu.”


Rahang Cruz mengatup rapat. “Berhenti berkata omong kosong, Dom.”


“Well, aku sama sekali tidak akan melakukan hal kotor itu, Cruz. Kau pikir aku seorang pengangguran yang melakukan itu? New York tanggung jawab besarku. Lagi pula, jika aku ingin membebaskan Rebecca aku masih punya banyak uang untuk melakukan banding di pengadilan. Dominic tersenyum miring dan mengedipkan mata ke arah Ashley. “lagi pula, aku sudah bosan dengan Rebecca.”


“Berhenti menatap kekasihku lebih dari lima detik atau kau akan berjalan tanpa kaki besok.” Cruz meraung marah.


Kemudian sebuah pesan masuk dengan nomor tidak dikenal membuat pandangan mereka terfokus pada ponsel Cruz.


Kau tahu jumlah anak tangga di rumah Nyonya Sophie? Tidak, bukan begitu? Kau hanya melihat apa yang kau lihat setiap hari, tetapi tidak pernah memperhatikannya. Sama halnya kau harus mencari pelakunya dengan memperhatikannya bukan hanya melihatnya saja.


“Pesan teror lagi.” Ashley bergumam rendah.


Dominic mengerutkan keningnya. “Kau selalu mendapat pesan teror semacam itu?”


“Ya.”


“Sejak kapan?”


Bibir Cruz mengetat. “Satu hari sebelum hilangnya Luna.”


“Geez! Dia pelakunya.”