
🌙🌙🌙
KAMIS keempat di bulan November, Amerika Serikat akan merayakan perayaan Thanksiving. Sejumlah balon raksasa animasi kartun turut memeriahkan perayaan hari Thanksgiving di jalanan New York. Pada malam harinya, seperti biasa acara itu dilanjutkan dengan kumpul bersama keluarga di libur akhir pekan. Untuk tahun ini, Cruz tidak pergi ke California merayakan bersama keluarga, melainkan akan menemani Nyonya Sophie dan keluarga.
Sebuah gaun anggur merah gelap dengan tali spageti di antara dua bahu dan celah kaki setinggi paha membalut tubuh seksi Ashley Catalina. Rambutnya yang brunette dijepit dengan jepit berwarna krem menghiasi indah rambut panjangnya. Kalung zamrudnya bersinar melingkar di lehernya.
Ngomong-ngomong, Ashley terlihat agresif, manik hazelnya menatap Cruz, sebuah senyuman mekar di wajahnya yang sudah dirias tipis oleh make up. Oh Tuhan, Cruz ingin melihat Ashley tersenyum sepanjang malam ini. Mereka menuju ke rumah Nyonya Sophie berdua mengemudikan mobil Ferrari barunya.
“Kau yakin dengan ini, Cruz? Aku takut mengacau di sana.” Ashley mendesah.
“Tentu, Sweetheart. Aku yakin mereka akan menerimamu di sana.” Senyuman mekar di wajah rupawan Cruz. Lesung pipinya terbit di sana. Luar biasa manik dan keren dalam waktu yang bersamaan.
Cruz turun diikuti Ashley di belakangnya. Mereka sudah tiba di rumah Nyonya Sophie. Bangunan dua lantai itu terlihat segar dari sebelumnya. Beberapa lampu terlihat mewarnai rumah tersebut. Sesaat, Ashley merasa goyah dalam berdirinya.
“Atau mungkin kau saja yang masuk, Cruz.” Ashley mendorong lengan Cruz dan tersenyum tipis.
Tidak setuju dengan permintaan Ashley. Cruz pun mengerutkan keningnya. Bibirnya mengetat lurus tanpa tidak suka dengan perkataan Ashley. “Tidak. Kita harus masuk ke dalam. Aku tidak bisa tanpamu masuk ke sana.”
Keraguan tiba-tiba menguasai diri Ashley. Namun, dia sepakat dengan Cruz untuk masuk, meskipun kakinya berat untuk melangkah.
“Happy Thanksgiving!” seru Cruz lebih dulu melangkah masuk ke dalam rumah Nyonya Sophie menuju dapur.
Di sana ada Luna, Grace, dan Nyonya Sophie sudah memenuhi meja. Kalkun panggang juga terlihat menggiurkan di atas meja. Kalkun itu berisi saus kranberi, stuffing, dan juga gravy. Tidak hanya kalkun panggang, di meja juga tersaji ubi yang dilumatkan, roti, dan apple cider.
“Cruz! Kau akhirnya datang juga!” Luna berlari dan memeluk Cruz. Mencuri semua perhatian semua orang.
“Apa aku terlambat?” Cruz bertanya.
Luna menggeleng. “Tidak ... uhm, mungkin satu atau tiga detik. Kau tahu? Aku yang memanggang kalkun ini.” Suaranya lembut juga berapi-api karena semangatnya.
“Cruz, duduklah, aku akan mengambilkan pie.” Nyonya Sophie terlihat sibuk, tetapi itu tidak mengurangi kadar semangatnya menyambut tamunya.
Cruz mengambil duduk di depan Grace setelah menyapa wanita yang memakai gaun berenda berwarna ungu. Sekilas Grace terlihat anggun seperti anggrek. “Astaga! Aku melewatkan seseorang. Aku membawa seseorang untuk merayakan Thanksgiving Day bersama kalian.”
Piring porselen putih berisi pie dihidangkan Nyonya Sophie. Lantas, setelah mengambil duduk wanita itu bertanya, “Siapa? Kenapa tidak kau ajak masuk?”
“Tunggu!” Cruz bangkit dari kursinya mencari keberadaan Ashley yang berhenti di depan perapian mengamati foto-foto Austin yang berjajar rapi di atas sana.
“Catalina.” Cruz melingkarkan lengannya di seputar bahu wanita itu. “kami sudah menunggumu.”
Manik hazel Ashley mencari kesejukan di manik hijau Cruz. Dia mengangguk dan berjalan beriringan bersama Cruz menuju meja makan.
“Wow, kau membawa wanita? Kenalkan pada kami siapa dia!” Nyonya Sophie tersenyum hangat sebelum memotong pienya.
Bibir sensual itu tersenyum. “Namaku Ashley Catalina.”
Sesaat pikiran Nyonya Sophie melayang pada Austin. Tentu saja nama Ashley mengingatkannya pada pembunuh. Namun, nama Ashley di Amerika tidak hanya satu. Sembari menelan pahit-pahit ingatannya, Nyonya Sophie bertanya, “Dia bukan Ashley mantan Austin, bukan begitu, Cruz?”
“Kupikir iya. Dia Ashley Catalina. Dia kekasihku.” Cruz dengan bangga mengenalkan wanita porselen di sisinya.
Nyonya Sophie tersentak oleh rasa sakit di dalam dadanya. Dia mengencangkan tenggorokannya. “Kau pembunuh!” tudingnya ke arah Ashley dengan mata berkobar murka.
Grace mencegah. “Ibu, tenanglah.”
Ashley menarik napas dalam-dalam, mencoba yang terbaik untuk mengendalikan rasa sakit yang menyobek hatinya. “Aku bukan pembunuh.” Wanita itu menggeleng.
“Kau pembunuh putraku! Kau pembunuh!” suara Nyonya Sophie sarat akan emosi.
Air mata memenuhi kelopak mata Ashley. Dia bergetar di atas heelsnya. Bibirnya terkatup rapat, rasa sakit mengguncangnya dengan intensitas yang tajam. “Aku bukan pembunuh.”
Lengan Nyonya Sophie terangkat, sebuah pisau pie ia arahkan kepada Ashley. “Pembunuh!” serunya bersamaan dengan mata pisau yang menggores lengan mulus Ashley.
Cruz segera menggeser Ashley. Sebuah darah mengalir di lengan Ashley. “Kau baik-baik saja?” tanya Cruz sembari menahan cucuran darah yang keluar dari lengan Ashley menggunakan kemejanya yang baru saja ia sobek.
Kata ‘baik-baik saja’ sepertinya tidak cukup benar menggambarkan bagaimana kacau perasaan Ashley saat dituduh sebagai pembunuh. Rasa sakit yang kencang dan indah di dadanya mengancam untuk memakannya. Lantas, Ashley pun berlari dari rumah Nyonya Sophie mengabaikan seruan Cruz di belakangnya. Bersamaan dengan itu, Nyonya Sophie yang terkuras emosi pun pingsan.
“Kenapa kau belum memberitahunya, Grace?” tanya Cruz meredam amarah yang bergejolak dalam hatinya.
“Cruz, maaf, aku hanya tidak ingin ibu mengingat Austin lagi.” Air mata melintasi wajah Grace dengan amat deras.
Bibir Cruz yang berwarna merah muda membentuk garis kekecewaan. “Grace, Nyonya Sophie harus tahu bahwa Austin keracunan. Dengan menjadikan Ashley sebagai pembunuh justru membuatnya berpandangan buruk mengenai Ashley.”
Wajah Grace benar-benar pucat, semua darah tampaknya hilang dari seluruh tubuhnya. “Maaf.” Bibirnya bergetar.

Cruz pergi ke pintu tanpa sepatah kata mengejar Ashley. Dia tidak berbalik meski Luna memanggil namanya berulang kali. Ini begitu buruk. Semua udara sepertinya tersedot keluar dari ruangan kecil ini dan Grace mendapati dirinya kacau dan terengah-engah saat tangisnya mulai pecah bersamaan perginya Cruz dari pandangannya. Ini adalah Thanksgiving Day terburuk baginya.
Sial! Untuk kesekian kalinya, Cruz berhasil membuat Ashley terluka. Pria itu mencari ke mana pun di beranda rumah Nyonya Sophie, tetapi Ashley tidak ada di sana. Dia telah pergi lebih cepat dari yang Cruz kira.
Secepat yang Cruz bisa dia segera masuk ke mobilnya dan melesat cepat di jalan raya. Pikirannya berkelana kacau takut sesuatu yang buruk terjadi pada Ashley.
“Catalina!” seru Cruz ketika pria itu memasuki apartemennya.
Pria itu berlari mencari Ashley. Dia yakin Ashley ada di sana melihat sepatu kaca wanita itu tergeletak di lantai marmernya.
“Apa yang kau lakukan?!” Cruz berteriak dan mengambil pisau kecil dari tangan Ashley. Melemparnya jauh ke sembarang arah.
Semenit saja Cruz telat, maka yang tersisa hanyalah jasad Ashley di dapurnya. Wanita itu kacau lebih kacau melebihi dirinya. Dia baru saja berniat melukai dirinya. Gangguan psikisnya kambuh. Untung saja, sebelum mata pisau itu menggores pergelangan tangan wanita itu, Cruz secepatnya merampas.
“Aku pembunuh, Cruz.” Napas Ashley terengah-engah, kepalanya pening bukan main.
“Kau kekasihku, kau bukan pembunuh.” Cruz membawa Ashley ke dalam pelukannya. Ashley menghirup dalam-dalam aroma diri Cruz yang mengingatkannya pada cinta, keluarga, dan keamanan.
Cruz membingkai wajah Ashley menatap dalam manik hazelnya. “Aku mencintaimu. Jangan pernah berniat melukai dirimu sendiri.” Selanjutnya, Cruz mengecup bibir merah Ashley, meredam tangisan wanitanya.
🌙🌙🌙
Jangan lupa jaga kesehatan, gaes. Cuci tangan jangan lupa, budakan hidup bersih.
Kecup basah from Didi.💖💖💖