

🌙🌙🌙
Please vote, comment, and share
🌙 Playlist 🌙

🌙🌙🌙
Bantu cari typo, yups. Nulisnya ngebut ini, ehe.
🌙🌙🌙
Awak media berbondong-bondong memenuhi rumah Nyonya Sophie, seakan haus akan informasi mengenai berita hilangnya Luna, gadis pirang yang menghebohkan masyarakat New York karena beberapa papan reklame memenuhi sudut kota.
Awan hitam yang memenuhi cakrawala membuat Sabtu sore terasa seperti malam. Beberapa mobil polisi terlihat terboyong-boyong memenuhi rumah depan milik Nyonya Sophie. Bukan karena kasus Luna kali ini, melainkan ditemukan tewasnya anak di belakang rumahnya sendiri dengan keadaan tubuh tergantung di pagar rumahnya sendiri.
Beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini semakin membuat beberapa awak media yang mulanya memenuhi Nyonya Sophie berpaling ke tetangga depannya. Targetnya masih sama anak kecil.
Ferarri Cruz terpakir rapi di depan rumah milik Nyonya Sophie. Dia mengayunkan kakinya bersama Ashley masuk ke dalam.
“Ya Tuhan! Aku benar-benar takut bagaimana hal yang sama terjadi pada Luna,” kata Nyonya Sophie dengan sebelah tangan yang memegang dada.
“Kau mendapatkan kabar menyenangkan atas hasil papan reklame itu, Cruz?” tanya Grace yang baru saja gabung bersama mereka di ruang tengah.
Mengidap penyakit cystic fibrosis kadang membuatnya harus memakai selang di bawah hidungnya. Wajahnya yang jelita, terpaksa minus karena selang di bawah hidung. Rasa simpati menyeruak hati Ashley, tetapi meski begitu Grace masuk dalam daftar merah Ashley sebagai tersangka hilangnya Luna sore lalu.
“Beberapa nomor tidak dikenal meneleponku, tetapi itu bukan Luna. Hanya anak kecil yang tidak sengaja memiliki ciri-ciri yang sama.” Cruz mengeluh.
“Terima kasih untuk kamar mandinya.” Dominic dari belakang. Pria setelan tiga lapis itu tidak ada tanda-tanda akan mencukur kumis hitamnya yang tebal.
Kernyitan mengotori wajah Cruz, dia berseru, “Dom, kau juga di sini? Namun, aku tidak melihat mobilmu.”
Dominic tertawa seraya membenarkan kemejanya dan ikut duduk di hadapan Cruz, sementara kakinya menyilang. “Aku memarkirnya di depan rumah orang. Memangnya apa salahnya? Aku seorang wali kota.” Dagunya terangkat angkuh.
Cruz mendengkus. “Aku menemukan ponselmu.” Pria itu mengeluarkan benda pipih dari dalam kantung celananya.
Seolah mendapatkan emas, Dominic langsung merampas ponsel itu dengan gerakan kilat. “Kau menemukannya atau mencurinya?”
“Ternyata kebiasaan cerobohmu sejak sekolah dasar tidak tertinggal sampai sekarang, Dom.” Nyonya Sophie menyahut dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia—Dominic membuat gerakan putus asa. “Mungkin itu sebuah ciri khasku.” Pria itu mengelus hidungnya. “aku benci mengatakan ini, tetapi Cruz terima kasih, kau jangan besar kepala karena seorang wali kota mengatakan ucapan terima kasihnya.”
Cruz menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Dominic dan berkata, “Aku tidak bermaksud lancang membuka ponselmu waktu itu. Apa kau juga memesan makanan di tengah malam melalui e-mail?”
“Kenapa itu menjadi urusanmu, Marquez? Setiap jam aku bekerja untuk New York, aku membutuhkan makanan seperti pizza misalnya, bahkan di waktu malam,” kata Dominic tidak dipungkiri rasa ketidak sukaan terasa di setiap kalimatnya.
Dominic bangkit berdiri dan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku harus pergi. Aku harap Luna segera ditemukan. Aku harus meeting malam nanti,” katanya berpamitan.
Setelah itu Cruz dan Ashley menyusul berdiri ikut berpamitan karena awan semakin gelap, tetapi hujan tidak kunjung jatuh ke bumi.
Saat mereka keluar Dominic seperti menelepon seseorang dengan hikmat, tetapi Cruz tidak mau basa-basi menyapa pria itu. Sedangkan, depan rumah Nyonya Sophie masih ramai dengan banyak orang karena kasus pembunuhan yang terjadi hari ini yang melibatkan anak kecil.
“Cruz, apa itu di depan mobil.” Ashley menarik sebuah kertas putih yang terselempit di depan kaca mobil.
Kernyitan membelah alis Cruz. Sebuah kalimat teka-teki memenuhi kertas putih bersih itu dengan tinta hitam.
Kau tidak perlu mencari noda hitam di kertas orang lain, lihat dulu kertasmu dan kau akan menemukan noda hitam di sana.
Cruz menggeram membaca kalimat itu. Shit. Cruz sama sekali tidak menyukai teka-teki gila ini.
“Apa maksudnya, Cruz?” tanya Ashley menatap bingung.
“Aku tidak tahu. Jangan pikirkan lebih banyak, ayo kita pulang.” Cruz menarik Ashley untuk masuk ke dalam mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Cruz benar-benar tidak dapat menampik pertanyaan yang memenuhi pikirannya memgenai pesan-pesan misterius yang akhir-akhir inj datang seolah memberitahu sesuatu saat pikirannya sibuk memikirkan kasus-kasusnya.
“Cruz, aku akan mampir di supermarket, kau bisa menunggu di mobil saja.”
Cruz mengangguk meski tidak sepenuhnya mendengar apa yang Ashley katakan padanya, tetapi setidaknya garis besarnya adalah supermarket.
Sebelum mencapai perempatan, Cruz membelok mobilnya di depan supermarket. Ashley keluar dari sana dan Cruz menetap di mobil dengan pikiran rumitnya. Lantas, untuk mencari udara segar dia membuka jendela mobilnya merasakan udara masuk dan menyapu lembut wajahnya.
Melalui kaca mobilnya, Cruz melihat seseorang dari kejauhan menatapnya datar, sangat datar dan itu jelas mengarah ke arahnya. Lantas, Cruz segera menoleh ke belakang, tetapi nihil menjadi hasilnya.
“Cruz, kau mencari siapa?” tanya Ashley yang baru saja membuka pintu mobilnya dengan sekantung belanjaan di tangannya.
Apa tadi hanya halusinasi? Cruz mengusap wajahnya kasar dan menggeleng keras.