Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
On My Way



๏ฟผ


๐ŸŒ™๐ŸŒ™๐ŸŒ™


I love vote, but i hate boomvote


Say no to Plagiat


Instagram : itsnotdein


๐ŸŒ™Playlist๐ŸŒ™


๏ฟผ


ADA yang ganjil dari tewasnya pembalap Internasional, yakni Austin Alexander. Sayangnya, kematiannya serba tertutup dan terhindar jauh dari publik dan awak media. Pasalnya, semua bermula dari racun sianida.


Bilah-bilah awan mengangkasa, matahari tepat berada di atas kepala, terik yang memanas laksana membakar bumi, seolah menghardik manusia yang serakah yang tak akan puas dengan apa yang mereka punya. Cruz menyesap rokoknya, melirik jam yang berada di ruang kantornya. Ini waktu makan siang, Cruz memiliki satu jam untuk pergi keluar.


Mengayunkan kaki panjangnya, Cruz dengan keteguhan hatinya sudah berada di belakang setir mobil sportnya. Pria itu menancapkan gasnya, menyusuri jalanan Manhattan yang padat. Jika ia ingin tahu, maka ia harus ke tempat terjadinya perkara. Pria itu ke apartemen milik Austin yang kini dijual, tetapi tidak kunjung terjual, mungkin alasan tewasnya Austin membuat orang berpikir ulang untuk membelinya.


Hawa agak pengap saat Cruz memasuki apartemen tersebut. Lampu-lampu dinaikkan sakelarnya untuk penerangan. Menyusuri setiap ruang dengan dinding-dinding yang bersih tanpa ada figura atau lukisan satu pun. Cruz memasuki kamar Austin. Sepi dan gelap. Tidak ada rasa takut di matanya meskipun langkahnya determinan memasuki kamar tersebut.


โ€œAku tidak berpikir kau akan pergi secepat ini, Austin,โ€ gumam Cruz mendekat ke arah ranjang.


Menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, Cruz menyusuri setiap sudut ruangan. Kamar ini bersih hanya ada debu. Namun, tidak lagi ketika Cruz menemukan selembar kertas di bawah lemari buku. Ditariknya kertas yang mulai usang tersebut.


Biadab, kau harus mati.


Tulisan itu benar-benar sebuah ancaman mengerikan. Ditulis dengan tulisan tangan yang latin dengan spidol berwarna merah. Cruz mulai tertarik dengan misinya setelah menemukan tandanya.


Pikirannya hanya satu. Austin memiliki musuh. Namun, selama ia berteman dengan Austin, pria itu sama sekali tidak pernah menceritakan mengenai musuh atau pertikaiannya dengan orang lain. Cruz mulai berdiri, membongkar jajaran buku ilmiah yang tertata rapi, tetapi tidak ada hasilnya. Terlalu dini untuk menyerah, Cruz berjalan ke bawah ranjang, tidak ada apa-apa di sana. Membalikkan ranjang sampai penemuannya membuahkan hasil lagi.


Ponsel. Mungkin itu akan membuat pertanyaan di kepala Cruz terjawab. Dia membuka kunci pada ponsel tersebut. Pertama, wallpaper dalam ponsel tersebut adalah foto Ashley dan Austin. Sesaat hati Cruz merasa diperas. Dengan jemari panjangnya Cruz membuka setiap kotak masuk di dalamnya, isinya hanya ada dari Nyonya Sophie, Grace, dan Luna. Selanjutnya, Cruz membuka instagram, direct messengernya penuh, tetapi salah satu dari ratusan pesan, nama Rebecca ada di sana dengan username Rebecca_Bert, Cruz tertarik dan membukanya.


Pesan pertama berisi, kita bertemu pada Sabtu malam.


Pesan kedua berisi, kenapa kau harus mencemaskan Ashley?


Pesan ketiga berisi, aku membencimu! Kau pantas mati!


Pesan ketiga membuat Cruz mengernyit.


๐ŸŒ™๐ŸŒ™๐ŸŒ™


Lost in a fairytale


Can you hold my hands and be my guide?


Tembang lagu milik Byonce mengalun mesra di setiap penjuru ruangan. Ashley lebih baik dari sebelumnya. Cruz senang menemukan Ashley memasak di dapurnya dengan sesekali bersandung ria mengikuti lirik tiap lirik dari lagu Beyonce.


โ€œApa yang kau masak, Sweetheart?โ€ Cruz melingkarkan tangannya di setiap pinggang Ashley. Memeluk wanita itu dari belakang dan menghirup dalam-dalam aroma lavender wanita itu yang begitu memabukkan seperti rum.


Ashley tersenyum, tetapi tangannya fokus pada masakannya. Itu lezat, dari aromanya yang begitu menggugah selera. โ€œKuah kerang, kupikir itu cocok untuk makan malam kita.โ€ jawabnya.


Kalung zamrud pemberian Cruz terlihat bersinar dan itu menarik perhatiannya. โ€œKau pandai memasak mengingatkanku pada keluargaku.โ€


โ€œKita bisa berkunjung akhir pekan, Cruz. Itu jika kau mau.โ€


Cruz terlihat berpikir. Namun, kasus tewasnya Austin Alexander belum terpecahkan.


Cruz melonggarkan pelukannya dan pria itu berdiri di sebelah Ashley. โ€œItu ide bagus, aku akan mempertimbangkannya.โ€


Merasakan keresahan dalam diri Cruz membuat Ashley khawatir. Dia memiringkan kepalanya. โ€œKau memikirkan sesuatu yang mengganjal pikiranmu?โ€


Manik hazelnya kembali terfokus pada kuah kerang yang mendidih dan terlihat sangat lezat. โ€œApa itu karena aku kemarin?โ€ Takut-takut Ashley melirik Cruz.


Pria jantan itu menggeleng. Memperhatikan Ashley yang sibuk pada masakannya, wanita itu mengambil sendok dan mencicipi kuahnya. โ€œLalu?โ€ Ashley kembali bertanya setelah mematikan kompornya. Tatapannya fokus pada manik hijau Cruz.


โ€œKau ingat, Sweetheart, mengenai Rebecca dan Dominic?โ€


Ashley mengangguk masih memperhatikan.


โ€œOh, tidak, maksudku ini sepenuhnya mengenai Rebecca. Kau bilang dia selingkuhan Austin?โ€


Manik mata Ashley bersinar di balik bulu matanya, kernyitan mengotori wajahnya ketika Cruz menyebut wanita lain. Bibirnya terkatup rapat masih setia mendengarkan dan dia mengangguk saat Cruz bertanya.


โ€œAku menemukan surat ancaman di apartemen Austin. Aku menemukan ponselnya dan aku pikir Rebecca adalah pelakunya. Maksudku, dia pembunuhnya.โ€


๐ŸŒ™๐ŸŒ™๐ŸŒ™