
DENGAN secangkir koktail di tangan, Cruz menggeser kursinya mencari posisi duduk ternyaman, menghadap laptop bukan untuk menyelesaikan investasi perusahaan ayahnya—Jack Marquez, melainkan mencari data-data mengenai Ashley.
Cruz harus mencari tahu siapa sebenarnya Ashley yang biasanya ia ajak dinner. Tidak mungkin wanita itu Ashley Catalina, tidak mungkin. Terakhir kali Cruz berpisah dengan Ashley dikarenakan ayah Ashley menikah dengan wanita Inggris dan pada akhirnya keluarga mereka terpaksa pindah ke Inggris. Itu artinya, Ashley seharusnya berada di Inggris bukan Manhattan.
Namun, tiga tahun terakhir Cruz mencoba mencari Ashley, seolah ditelan bumi wanita itu menghilang. Tanpa kabar. Tanpa sebab. Hilang.
Pintu ruang kerja Cruz terbuka. Sony melangkah dengan setelan kemejanya. Manik mata Cruz menatap penuh ke arah Sony. Tidak ada apa-apa di tangan pria itu, Cruz mengernyit.
“Apa yang kau dapatkan?”
Sony menggeleng. Ada rasa sakit di hati Cruz sehingga dia hampir tidak tahu harus berbuat apa. Batu yang menekan dadanya semakin berat.
“Ah, sial!” Cruz menggeram mengepalkan jari-jari tangannya di atas meja.
Bagaimana bisa Ashley yang biasa kencan buta dengannya tertutup itu, bahkan Sony tidak dapat menemukan riwayat hidupnya.
Cruz tersentak pada rasa sakit dan kemarahan suram menyinari matanya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menenggak habis koktail dalam gelas kacanya.
“Bagaimana keadaannya?” Ekspresi cemas mengotori wajah Cruz.
Sony berdiri tegap di ujung meja. “Kondisinya belum stabil, Tuan Muda. Kabar buruk lainnya, Madam Ademee sudah mengetahui insiden tersebut dan dia bersumpah akan menuntut Anda.”
Tuntutan Madam Ademee tidak membuat Cruz takut, justru keadaan Ashley yang membuatnya cemas bukan main.
Tidak ada Ashley adalah kalimat mengerikan.
Tidak ada Ashley adalah kalimat yang menggambarkan kesedihan dalam hati Cruz.
“Tunggu, Madam Ademee mungkin tahu mengenai Ashley.” Cruz mendongak dengan mata yang berbinar menatap Sony.
Hari berikutnya, Cruz menemui Madam Ademee langsung ke rumah bordil. Persetan dengan paparazi dan semacamnya.
Madam Ademee adalah definisi wanita Perancis bertubuh agak berisi. Make up tebalnya berhasil menyembunyikan kerutan di wajahnya.
Cruz masuk ke dalam ruang kerja Madam Ademee. Air muka wanita itu terlihat marah.
“Sialan kau, ********! Jangan mengandalkan margamu untuk melakukan hal di luar batas normal.” Madam Ademee meremas lengan Cruz dan memukul bertubi-tubuh dada bidang pria itu. Emosinya meluap. Berapi-api dan membara.
“Tolong tenang, Madam. Kupikir itu sangat tidak sopan ketika berbicara dengan klien.” Sony menarik Madam Ademee.
Madam Ademee mundur selangkah. Menatap Cruz dengan tatapan elangnya. “Aku bersumpah akan menuntutmu jika Catalina tidak selamat!” Wanita itu berteriak nyaris menangis.
“Kau pikir siapa? Dia Catalina gadis malang yang kutemukan saat berlibur di Inggris dengan tulang kecilnya berhasil menyelamatkan dompetku dari pencuri.” Air mata bercucuran di wajah Madam Ademee mengingat tiga tahun lalu Ashley menyelamatkan dompetnya.
Cruz menggelengkan kepalanya, bingung akan intensitas emosi dalam hatinya. Lalu, ada keheningan yang kental yang bergema dengan sejuta pertanyaan.
“Bisa kau jelaskan secara jelas, Madam.” Sony angkat bicara.
Suara serak Madam Ademee berkata, “Kau benar-benar telah menghancurkannya! Dia wanita malang hasil perceraian ayah dan ibu tirinya. Ayahnya memilih mempertahankan istri barunya dan memilih menelantarkan anaknya. Dia hanya wanita malang yang terpaksa bekerja di sini.” Air mata dan riasan wajah bercampur menjadi satu mengalir di pipinya.
Rasa sakit yang kencang mengancam untuk memakan Cruz. Ia telah melukai cinta masa kecilnya.
“Kuharap, kau benar-benar menghilang dari hadapannya!” Madam Ademee terisak.
Kata ‘menghilang’ seolah laju panah yang berisi racun yang berhasil menembus rongga dada Cruz Aaron Marquez.
Berbalik keluar diikuti dengan Sony setelah mendapat informasi cukup mengenai Ashley. Tidak peduli beberapa umpatan kasar keluar dari belakang punggungnya.
Cruz benar-benar tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi hal buruk pada sahabatnya, cinta masa kecilnya, dan jantung hatinya.
Ashley Catalina bukan pembunuh Austin Alexander.
Cruz meraba langit-langit kamarnya dengan manik hijaunya. Informasi dari Madam Ademee cukup menjelaskan bahwa Ashley yang biasa kencan buta padanya adalah Ashley yang sama saat Cruz memberinya sebuah mobil kuno kesukaan wanita itu.
Hujan mengetuk keras jendela, Cruz bisa mencium aroma dingin hujan. Dia mengayunkan kaki panjangnya dan duduk pada bangku yang dibuat mengelilingi jendela. Dia melihat keluar air hujan yang jatuh ke bumi.
Hujan runtuh dan Cruz berada di kamarnya yang nyaman dan hangat, sedangkan Ashley terbaring lemah di rumah sakit dengan aroma menyengat obat-obatan sedang berjuang melawan rasa sakitnya.
Hal terburuk telah Cruz lakukan, yaitu melukai seseorang yang dicintainya.
******** macam apa Cruz ini?
🌙🌙🌙
Jawab pertanyaan ini :
APA YANG KAMU LAKUKAN SAAT ORANG YANG KAMU KASIH MENYAKITIMU?
BERTAHAN/MAAFKAN/LUPAKAN?