Manhattan'S Sweetheart

Manhattan'S Sweetheart
Nobody Knows




🌙Playlist🌙



🌙🌙🌙


LIMA belas menit sebelum makan malam, Cruz Aaron Marquez menepati ucapannya akan pulang sebelum makan malam di mulai. Dia tiba dengan keadaan basah di rambut cokelatnya yang gelap, juga busananya yang bernasib serupa dengan rambutnya.


Sebuah sup bawang tersaji di meja, beberapa irisan roti dan parutan keju terlihat menggiurkan untuk disantap setelah hujan reda seperti saat ini. Cruz sudah memasukkan sendok pertama ke mulutnya. Sambil bersikap tenang, seolah kejadian di mana Rebecca datang tidak pernah terjadi, Ashley diam-diam mengamati Cruz. Tiba-tiba ingatan Ashley kembali berputar saat Rebecca mengatakan dia bukan tersangka utama tewasnya Austin maupun Luna.


"Em, Cruz." Ashley menumpukan kedua tangannya di bawah dagunya, iris hazelnya menatap lekat-lekat Cruz hingga pria itu mendongak.


"Ya." Cruz bergumam meletakkan sendoknya. Bibirnya kokoh, lebar, nan tipis, tetapi merah muda.


Ashley diam sebentar, sambil memandang Cruz. Dia mencoba untuk berbicara, tetapi lidahnya terasa kelu, sampai beberapa detik keheningan mengudara di ruangan mereka. "Bagaimana keadaan Grace?”


Cruz mendongak memamerkan manik hijaunya sedikit meredup. “Dokter Dean mengatakan bahwa Grace harus memakai selang untuk akhir-akhir ini.”


“Tidakkah kau berpikir bahwa Rebecca tidak ada sangkut pautnya dengan kekacauan ini, Cruz?” Ashley menggigit kelembutan bibirnya.


Merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Ashley, Cruz melipat keningnya meninggalkan sendok makanannya. “Apa maksudmu?”


“Tidak, tidak, aku hanya bertanya.”


Desahan lolos dari bibir segar Cruz. Dia meluruskan tulang ekornya. “Aku akan mengirim pesan ke Sony untuk mencari wanita itu.” Pria itu meraih ponselnya dari saku celananya.


“Jangan.”


Dengan pandangan yang menyapu wajah Ashley, Cruz bertanya, “Kenapa jangan? Sesuatu telah terjadi padamu?”


Ashley berdebar-debar mendapati sorot tajam dari manik hijau di depannya. “Maksudku jangan karena lebih baik kau menghabiskan supmu. Kupikir ini terlalu malam untuk menelepon seseorang, Cruz.”


“Kurasa kita perlu mencabut tuntutannya, Cruz.” Dengan berani Ashley berterus terang mengenai opininya.


Kernyitan di wajah Cruz menandakan bahwa tidak sepenuhnya ia sependapat pada kekasihnya. “Tidak. Dia telah membuat kekacauan ini dan dia juga harus yang bertanggung jawab atas kesalahannya,” tolak Cruz tegas tidak ingin dibantah sedikit pun.


“Aku tiba-tiba merasa tidak yakin jika Rebecca adalah pelakunya, Cruz. Jujur, aku merasa jika Rebecca hanya kambing hitam dari segala kekacauan ini.” Ashley menarik napas. “apa kau punya bukti lain untuk membenarkan asumsimu? Maaf, Cruz, aku tidak bermaksud lancang.”


“Tidak, Catalina. Aku tetap akan mempertahankannya gugatanku. Aku tidak ingin membiarkan penjahat berkeliaran.” Rahang Cruz mengeras. “Pelakunya memiliki kutu rambut,” tambah Cruz dengan suaranya yang rendah.


“Nah, kau yakin Rebecca memilikinya? Kita belum memeriksanya saat kita menjebaknya, bukan begitu?” Alis Ashley tersungging naik.


Cruz berdeming, Ashley dapat menangkap sesuatu perubahan dalam ekspresi pria itu saat ini.


“Kau benar,” kata Cruz kemudian.


Masih dengan kening berkerut Cruz bertanya, “Sesuatu telah terjadi hari ini?”


Cepat-cepat Ashley menggeleng. Enggan memberitahu Cruz bahwa Rebecca telah ke penthousenya saat pria itu keluar. Bukan maksud tidak ingin berterus terang, tetapi Rebecca telah memberinya amanah untuk tidak merahasiakan kedatangannya. Meskipun, Rebecca dan Ashley bukan kawan baik, tetapi tidak ada salahnya dengan membantu seseorang.


“Tidak ada.”


Cruz mengedikkan bahunya dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Sesuap sup dari sendok masuk ke dalam mulut pria itu. “Aku benar-benar semakin bingung dengan kejadian semua ini. Bermula dari Austin, lalu Luna.”


Jemari Ashley mendarat di punggung tangan Cruz, mengusapnya pelan seperti mengusap pipi anak bayi. Dia tersenyum hingga ekor matanya ikut menyipit karenanya. “Jangan khawatir, kita akan menyelesaikan semua ini. Namun, aku hanya ingin kau mencabut tuntutannya.”


Demi Tuhan, Cruz bersyukur dipertemukan kembali dengan Ashley Catalina. Memiliki wanita itu seperti memiliki harta yang incar manusia seluruh dunia.


🌙🌙🌙


Maaf, updatenya telat seharusnya kemarin hari Jumat.


Hehehe, besok gak udate dulu, ya?😀