Love Scenario

Love Scenario
Bab 9: Kunjungan Feng Lun Gege



Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Xiao Shen Shen dan Fu Ling Tian benar-benar berkeliling kota Beijing bersama. Keduanya menghabiskan banyak waktu untuk singgah di beberapa tempat wisata terkenal hanya untuk sekedar melihat-lihat atau berbelanja barang-barang dan juga beberapa makanan.


Seperti saat ini, keduanya berada di Ghost Street; tempat yang menjual banyak hidangan laut maupun jajanan lokal yang membuat Shen Shen begitu antusias. Menatap sekeliling dengan binar cerah, Xiao Shen Shen tiba-tiba tertarik pada satu kios pedagang yang terlihat sibuk membakar chuan'r; potongan-potongan kecil daging yang ditusuk jadi satu bersama sayuran seperti sate—di atas bara api yang menyala.


Melangkahkan kakinya mendekat ke arah kios tersebut, Shen Shen berniat membeli satu tusuk chuan'r yang berukuran cukup besar, itu benar-benar terlihat sangat enak dimakan dan Shen Shen merasa tertarik untuk membelinya.


Namun, ketika dia baru akan berbicara pada penjual chuan'r, Ling Tian tiba-tiba berbicara dan membeli dua tusuk chuan'r kemudian memberikan keduanya pada Shen Shen dengan raut wajah yang datar. Hal itu membuat Shen Shen terkejut dengan mata yang membulat lebar, kini tepat di depannya, ada dua tusuk chuan'r yang disodorkan oleh Ling Tian tanpa mengatakan apa pun padanya.


"Untukmu." ucap Ling Tian singkat pada akhirnya.


Mengedipkan matanya beberapa kali, Shen Shen berucap dengan gugup. "A-ah, terima kasih."


Ini sungguh di luar dugaan, Shen Shen tak pernah tahu bahwa seorang Fu Ling Tian ternyata memperhatikan seseorang yang sedang bersamanya. Gadis cantik berambut hitam pekat itu merasa bahwa kedua pipinya menghangat dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, apa dia sedang sakit jantung? Haruskah Shen Shen memeriksakan jantungnya ke dokter?


Dalam hati Shen Shen berteriak frustasi, perasaan aneh macam apa yang dia rasakan saat ini?! Mereka berdua berjalan berdampingan berkeliling di area Ghost Street, Shen Shen memakan chuan'r-nya dalam diam, sesekali matanya tanpa sengaja melirik ke arah Ling Tian yang ada di sampingnya.


Sang sutradara terlihat begitu cocok dengan gambaran tokoh utama pria yang saat ini sedang dibuat oleh Shen Shen, karakternya yang tajam dan dingin membuat Ling Tian sangat pantas disebut sebagai Zhuo Yi Qing.


"Sutradara Fu, kamu benar-benar tidak mau satu?" Xiao Shen Shen menyodorkan satu tusuk chuan'r yang belum dia makan pada Ling Tian.


Ling Tian menoleh sebentar pada Shen Shen sebelum kembali memandang ke arah depan, "Tidak. Untuk kamu saja."


"Baiklah."


Tidak hanya berkeliling di area Ghost Street, Ling Tian membawa Shen Shen ke tempat-tempat wisata terkenal di Beijing. Dari pagi hingga sore hari, Shen Shen dan Ling Tian menghabiskan waktu bebas mereka dengan bermain dan berjalan-jalan seperti pasangan kekasih. Walaupun canggung di beberapa hal, namun keduanya terlihat menikmati waktu yang mereka habiskan bersama.


Saat ini keduanya tengah berada di dalam mobil, mereka berencana untuk kembali pulang ke apartemen dan beristirahat di unit masing-masing. Diam kembali menyelimuti mereka ketika Shen Shen dan Ling Tian berada di dalam lift hanya berdua, sekalipun telah menghabiskan cukup banyak waktu bersama sejak pagi tadi, untuk membuat mereka menjadi akrab bukan hal yang mudah.


"Uhm, Sutradara Fu, apa aku boleh menjadikanmu sebagai tokoh utama priaku?"


Ling Tian dengan cepat menoleh ke arah Shen Shen, "Apa?"


Kedua mata Xiao Shen Shen terbelalak lebar, kepalanya tertunduk ke bawah dan satu tangannya dengan cepat menutup mulutnya. Ini gawat! Sepertinya dia tak sengaja mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan, bahkan Shen Shen tidak sadar telah berbicara lewat bibirnya bukan hanya sekedar suara dalam hati.


"B-bukan apa-apa!" sahut Shen Shen dengan cepat.


Shen Shen memejamkan matanya erat penuh penyesalan, diam-diam dia meringis malu. "Hanya ... aku melihat kamu memiliki kemiripan dengan karakter utama yang aku buat untuk novel baruku, karena itu...."


"Ah, aku mengerti." Ling Tian menjawab dengan pelan, tanpa sadar kedua telinganya memerah.


Begitu pintu lift terbuka, Shen Shen berjalan cepat menuju unit apartemennya tanpa menoleh ke belakang. Perasaan malu mulai menyelimuti dirinya membuat Shen Shen merasa tidak memiliki muka untuk sekedar menatap Ling Tian yang ada di belakangnya. Menekan tombol password secepat mungkin, Shen Shen buru-buru membuka pintu apartemennya dan berniat masuk untuk meredam rasa malunya pada Ling Tian.


Namun, baru saja dia akan melangkahkan kakinya ke dalam apartemen miliknya, Shen Shen dikejutkan dengan penampakan seorang pria muda yang merentangkan kedua tangannya sembari menyambutnya dengan nada suara yang hangat.


"Selamat datang, Shen Mei!"


"Oh, Gege! Mengapa kamu tidak mengatakan padaku jika akan berkunjung?" Shen Shen dengan cepat berlari ke arah Xiao Feng Lun dan memeluknya dengan erat.


Feng Lun terkekeh senang, pandangannya terlihat begitu lembut dan hangat. "Adik kecil! Katakan padaku, apa kamu merindukanku?"


Melepaskan pelukannya, Shen Shen menatap Feng Lun dengan kedua pipi yang menggembung cemberut. "Gege, apa kamu bercanda? Tentu saja aku merindukanmu!"


"Apa kamu sudah makan? Aku sudah memasak beberapa makanan kesukaanmu, makanlah jika kamu lapar."


"Kalau begitu, Gege, bagaimana jika kita memakannya bersama?"


Feng Lun tersenyum, satu tangannya bergerak mengusap kepala Shen Shen dengan lembut. "Tentu, seperti yang kamu inginkan."


Keduanya berjalan memasuki apartemen sembari saling bercanda, membiarkan pintu apartemen yang menutup dengan sendirinya dan sosok kehadiran Ling Tian yang ternyata masih berada di depan pintu apartemen miliknya sembari memandang ke arah apartemen Shen Shen dengan mata hang berkilat penasaran.


"Gege?" Ling Tian bergumam pelan dengan sorot mata yang dingin.


Berbeda dengan Ling Tian yang sepertinya akan salah paham, Shen Shen dan Feng Lun menghabiskan waktu mereka dengan membuat kue bersama. Saat ini keduanya berada di dapur dengan banyak bahan kue yang diletakkan di atas meja dapur.


Sudah cukup lama dia dan kakaknya menghabiskan waktu bersama seperti ini, terakhir kali Shen Shen bertemu Feng Lun adalah dua hari yang lalu saat dia mendapat ajakan makan siang bersama oleh Feng Lun. Ditambah lagi kesibukan Feng Lun sebagai CEO di perusahaan mereka, Lianhua Group membuat waktu kebersamaan mereka semakin singkat.


Seperti mengingat sesuatu yang sempat terlupa, Shen Shen menepuk dahinya pelan. Gadis itu lupa bahwa seharusnya dia berterima kasih pada Ling Tian karena telah membawanya berkeliling hampir seharian ini, ini semua karena rasa malunya yang menguap keluar hingga Shen Shen tak bisa menatap Ling Tian sama sekali.