
Revan menyesali setiap ucapan yang dilontarkan beberapa saat yang lalu pada Khiren.
"Aku harus mengejarnya dan meminta maaf atas apa yang aku katakan barusan." Revan berlari keluar dengan cepat dan berharap dia bisa mencegah Khiren pergi. Namun, sayang langkahnya tidak secepat Khiren, dia sudah mencari ke segala arah tapi khiren tetap tidak terlihat.
"Bagaimana ini? Pasti dia sangat marah karena ucapanku yang ngasal tadi. Sekarang aku harus mencari dia dimana?"
Revan putus asa karena dia tidak tau keberadaan khiren.
***
Beberapa saat setelah Khiren keluar dari restoran itu, dia berhenti sambil menangis, dia mencoba menguatkan hati dengan berkata.
"Kamu masih punya banyak yang selalu mencintai kamu, kamu harus kuat! Kuat! Lupakan **** itu! Harus move on! Kenapa air mata ini gak mau berhenti mengalir buat orang risih aja" Ucapkan dengan sedikit tersedak-sedak.
Saat dia mencoba untuk kuat dan kembali ke rumah, ada beberapa orang pria menyergap dia dari belakang dan kesadaran Khiren mulai menghilang. Ketika dia tersadar, dia sudah berada di ruang dengan warna dominan putih dengan bunga biru yang sangat indah. Semua dinding dan juga Langit-langit kamar itu di penuhi dengan lukisan bunga yang indah.
"Dimana ini? Sial, kenapa aku bisa selenggah itu? Ini semua karena Revan s*t'n itu!!! Awas aja kalau ketemu bakalan aku habisi dia."
Saat Khiren mencoba bangun tubuhnya terasa lemah, tapi dia tidak suka memanjakan tubuhnya, dia memaksakan tubuhnya untuk bergerak, dengan perlahan dia menggapai jendela yang di tutup tirai berwarna biru muda. Matanya menelusuri setiap tempat yang mampu dia jangkau lewat jendela kaca.
"Dimana sih ni? Apa-apaan mereka, kenapa banyak penjaga di sekitar rumah ini?" Khiren kesal melihat banyak pengawal yang menjaga tempat itu dan tubuhnya tidak bisa digunakan untuk bertarung saat ini.
"Aku harus segera mengaktifkan semua alat pelacak yang ada di tubuhku." Khiren memeriksa tubuhnya dan dia kehilangan kalung, cincin bahkan gelang dan benda-benda itu memiliki alat pelacak. Tapi untungnya anting dan jepit rambut Khiren tidak hilang hingga dia bisa memberitahu pada kakaknya lokasi tempat dia di sekap saat ini.
"Sial, sesuai dugaan ternyata di luar ada beberapa penjaga yang menjaga pintu kamar ini. Kalau kayak gini aku bakalan susah buat kabur! Kak Dimas, aku cuma bisa bergantung pada kamu!" Pikiran Khiren yang kesadaran mulai menghilang saat seorang Suster menyuntikkan obat pada Khiren.
Disaat yang sama Dimas dan yang lain masih kesulitan mencari jejak Khiren, dan terpaksa mereka mencoba minta bantuan Revan untuk mempercepat proses pencarian sebelum Khiren benar-benar hilang ingat seperti sebelumnya.
"Dim, gimana ni gua cuma bisa dapat sinyal dari kalung Khiren yang ternyata di buang tidak jauh dari butik milik kakak ipar khiren? " Aldo berbicara seakan tidak punya harapan lagi.
"Tenaga, sebenarnya ada lagi alat pelacak yang gua pasang di rambut dan juga anting khiren sebelum dia hilang. Tapi, alat pelacak nya hanya bisa di deteksi dari kamar milik kita di rumah kakek."
"Lo kenapa oon banget, sih? Kalau kita ke sana nanti kakek bakalan tau kalau Khiren hilang! Kita gak boleh buat orang rumah tau soal ini atau nyawa kita bakalan terancam! "
"Terus kita mau gimana?" Tanya Rere
"Gampang! Aku sudah mengatur alasan buat pulang ke sana!! " Ucapan Farhan santuy
"Rencana lo apa Far?"
Bersambung......
Jangan lupa like dan komentar