Love Scenario

Love Scenario
Kebebasan yang tak terduga



Tak terasa pernikahan Khiren hampir 1 tahun tapi mereka masih saja tidak bisa menjalankan hubungan seperti kebanyakan pasangan yang lain. Revan masih sangat sibuk dengan urusan bisnis yang dia tinggal saat bersama Khiren, sedangkan Khiren memiliki berlibur dengan Devi. Mereka bersenang-senang berdua, melepaskan penat, beban dan luka yang masih mengganggu.


"Khiren, kamu gak ada rencana buat kembali ke Jakarta atau ke Jepang?"


"Jakarta? Jepang? Dua tempat yang tidak termasuk dalam rencana perjalananku"


"Kapan kamu akan pergi?"


"Devi, ayolah kita nikmat saja waktu yang ada, yang akan mendatang kita pikirkan nanti saja."


"Hai manis! Boleh bergabung?" Dua orang pria menghampiri Khiren.


"Tentu!"


Saat mereka mendekati Devi, entah sejak kapan Vando berada di belakang kami. Dia menghalangi pria itu menyentuh Devi dan menariknya menjauh dari mereka.


"Jangan ganggu pacar saya!" Ucapnta tegas dan mereka akhirnya pergi.


"Hahaha... Kalian kapan pacaran? Ini sebuah kejutan untuk aku!"


"Beberapa minggu yang lalu saat kamu, Dimas dan Aldo melakukan pemotretan di beberapa tempat aku ke sini lagi dan di sini aku bertemu dengan dia. Setelah itu kami pacaran!"


"Vando, kamu gercep juga, ya?! Baiklah, aku tidak akan menggangu kemesraan kalian. Tapi, aku ingin bicara sama kamu nanti malam ya Dev!"


"Iya nanti aku ke kamar kamu!"


Khiren pergi untuk meninggalkan pasangan baru yang masih kasmaran itu.


Di tepi pantai sambil memandangi langit yang mulai gelap khiren hanyut dalam lamunan rasanya.


"Aku telah menyelesaikan masalah dan semua sudah beres tapi, kenapa aku merasa ada yang salah dengan hidup ini? Apa yang tidak aku miliki hingga membuat aku merasa resah di setiap waktu? "


Tiba-tiba terdengar suara sering handphone Khiren yang membuat dia kembali sadar dari renungannya.


"Iya, aku akan segera ke sana!"


Tak lama kemudian Khiren menghampiri Devi yang sudah lama menunggu Khiren sedari tadi.


"Kenapa kamu lama sekali?"


"Tidak, aku hanya berjalan-jalan hingga lupa waktu. Oh ya, dimana pangeran berkuda kamu itu? "


"Dia pulang setelah mengantarkan aku ke sini?"


"Oh, aku mau tanya soal pacaran kamu tadi apa tidak masalah?"


Sejenak Devi mengingat apa yang telah dia lalui dengan Valdo.


" Aku suka dia yang tersenyum tanpa beban, selalu tau bagaimana mengembalikan mood aku, terus dia begitu mencintaiku hingga akan melakukan apapun untukku."


"Apa kamu memilih dia atau kamu masih ingin bersama Farhan?"


"Farhan, dia itu sedikit keras kepala, dia tampan tapi dia playboy, dia itu tidak perhatian, dia selalu ingin menang sendiri dan jika bukan karena tekanan dari orang tua mungkin dia akan meninggalkan aku dari dulu. Berbeda dengan Vando yang mencintai aku dengan tulus hingga aku lupa apa itu sedih. Bersama Farhan aku selalu menjadi pihak yang mengharapkan, mencintai, dan memperjuangkan hubungan. Tapi, jika berada di dekat Vando aku mulai ingat rasanya dicintai dan rasanya menjadi prioritas." Wajah Devi menceritakan Vando selalu terlihat berbunga-bunga.


"Jadi, kesimpulannya apa? Kamu akan memutuskan hubungan dengan siapa dan siapa yang akan kamu pilih menjadi pendampingmu?"


"Aku... Aku sangat menyukai Farhan dulu tapi saat ini aku ingin terus di cinta dan mencintai Vando saja. Jadi, kesimpulannya aku memilih Vando!"


"Baiklah, kalau begitu kapan kamu akan memutuskan hubungan dengan Farhan."


"Sekarang!" Devi mengambil handphone dari tas dan lalu segera menghubungi Farhan.


"Halo! Farhan, aku ingin putus!"


"Kenapa? Kenapa kamu minta putus tiba-tiba?" Farhan terdengar sangat syok dan suara nya bergetar.


"Maaf Far, tapi aku sudah menemukan apa yang aku mau. Aku ingin memulai lembaran baru, sekali lagi maafkan aku far?!"


Farhan tidak menanggapi ucapan Devi dan dia malah mematikan handphone nya.


"Khiren, seperti Farhan sangat terpukul dengan keputusan aku yang memilih bersama Vando."


"Kamu yakin?"


"Aku sangat yakin soalnya suara dia terdengar seperti orang yang sedang menangis!"


"Entah aku tidak terlalu yakin" Khiren tau sifat Farhan hingga dia tidak yakin dengan ucapan Devi.


Sementara itu di Vila Farhan dan yang lainnya sedang bersujud syukur karena akhirnya dia bisa terbebas penjara menyiksa dia selama ini.


"Selamat Farhan atau kebebasan kamu!" Aldo memeluk Farhan sambil menangis terbaik.


"Gua gak nyangka, akhirnya lo bebas juga! Selamat ya Farhan!"


Semua mengucapkan selamat atas kebebasan Farhan dari jeratan Devi dan mereka membuat sebuah perayaan untuk merayakan kebebasan Farhan.


Bersambung.