Love Scenario

Love Scenario
kembalinya khiren



Beberapa hari setelah itu khiren memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan bantuan asisten dan beberapa anak buah yang berhasil di hubungi. Khiren kabar dari rumah Rey saat Rey sedang berada di Korea Selatan.


Dring.......!!!!


Terdengar suara handphone di atas tempat tidur di sebelah wanita yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.


"Hallo! Iya ada apa?" Suara khiren bicara dengan nada datar dan suara yang kecil.


"Khiren aku hanya menginginkan saja kalau 2 minggu lagi kita harus menepati janji, aku tidak suka dianggap pembohong jadi tolong kamu jangan sampai lupa kalau kamu harus ikut dalam pembuatan video klip tuant Kye dan aku gak mau tau gimana cara tapi kamu harus pastikan kalau Dimas mau ikut dalam hal ini."


"Jangan memerintah! Aku tau apa yang harus aku lakukan! Kamu tenang saja! Ya sudahlah aku mau istirahat!" Khiren sangat kesalahan karena Rere bicara dengan nada memerintah.


Saat malam tiba dia teringat pada perkataan Rere tenang Dimas dan akhirnya dia memutuskan menghubungi Dimas.


"Hallo!"


"Hallo! Ini khiren?"


"Kenapa kakak bisa tau? Padahal aku tidak bilang apapun selain kata 'Hallo' saja"


"Karena kamu itu bagian dari hidupku, adik kecilku yang tumbuh dewasa bersamaku mana mungkin aku tidak bisa mengenali suaranya."


"Hahahha.... Iya. Kakak, aku sangat merindukan kamu! Apa kita bisa bertemu? Bawa juga Aldo ya kakak."


"He.mm!"


"Eh, maksudnya kak Aldo. Tapi kalau bisa yang lain gak usah tau dulu tentang keberadaan aku ya kak?!"


Mendengar Dimas memberikan sebuah kode yang berarti khiren mengamankan sesuatu dengan salah, khiren langsung menyadari kesalahannya.


"Iya, kirimkan alamat kamu dan besok kami akan ke sana."


"Kak, apa kak Dimas gak keterlaluan. Aku dan Aldo. Eh, maksudnya kak Aldo kan cuma beda 1 hari doang masa aku harus panggil dia kakak sih?!"


"Mau sehari atau sedetik pun tetap saja kamu harus memanggilnya kakak, karena ini adalah etika dalam keluarga kita."


"Ya ya ya... Kakak sudah mirip sekali dengan kakek sekarang dan itu menyebalkan!"


"Jangan merajuk seperti anak kecil, sekarang sudah larut dan kamu harus istirahat"


"Apaan tu, gak boleh merajuk karena aku bukan anak kecil terus kakak yang suruh aku tidur lebih awal seperti anak kecil apa itu boleh?" Khiren mulai kesal.


"Yasudah, kalau gitu putri kecilku sekarang merajuk aja ya?! Besok kami gak jadi pergi ke tempat putri kecil dan teruskan saja merajuk nya ya sayangku." Dimas mematikan handphonenya setelah itu.


"Kakak!! Hallo! Apa dimatiin?" Khiren mencoba menghubungi kembali Dimas beberapa kali hingga akhir diangkat.


"Hemm." Dimas terkesan mulai acuh.


"Kakak, jangan marah! Aku berjanji akan jadi adik yang patuh dan tidak nakal lagi. Kak! Kak Dimas! Jangan diam dong!" Karena Dimas sama sekali tidak merespon akhir khiren mengeluarkan teknik andalannya.


"Kak Dimas gak sayang aku lagi" Ucapan dengan suara seperti orang yang putus asa dan hampir menangis. "Kakak membenci aku heu... Heu.... " Khiren mulai mengis hingga akhir Dimas mengalah.


"Iya kak! Aku berjanji gak akan nakal lagi. Aku akan segera tidur, selamat malam kak Dimas!"


"Selamat malam putri kecilku!"


***


Keesokan harinya mereka Dimas dan Aldo tiba lebih awal dari jadwal yang telah mereka sepakati.


"Kemana saja kamu selama beberapa bulan ini?"


"Nanti akan aku cerita, tapi sebenarnya kalian harus membantu aku mendapat beberapa pengawal yang hampir setara dengan milik Ayah."


"Kenapa tidak minta ke Ayah saja?" Tanya Aldo.


"Untuk saat ini aku tidak ingin ada yang tau keberadaanku sebelum semua urusanku selesai. Tunggu beberapa hari lagi dan aku akan pulang kerumah"


"Baiklah, tapi coba katakan apa permasalahannya?"


"Sebenarnya..." Khiren menceritakan semua yang terjadi padanya beberapa bulan yang lalu pada Dimas dan Aldo


"APA??" Dimas dan Aldo sangat emosi mendengar apa yang khiren ceritakan.


"Berani sekali orang itu menculik putri kecil kita! Kita harus memeberikan pelajaran yang setimpal pada pria bre**s'k itu!" Ucapan Aldo dengan emosi yang berkobar-kobar.


"Tenangkan dirimu! Kita tidak boleh bertindak saat marah, sebaiknya pikirkan tindakan apa yang harus kita lakukan tanpa mengotori tangan kita sendiri."


"Benar kata kak Dimas! Aku sudah punya sebuah rencana dan beberapa perhitungan yang kemungkinan 90% itu benar. Jadi, tugas kalian cuma mencari beberapa pengawal yang kuat dan dapat di percaya dalam 2 hari ini karena aku yakin Rey pasti sudah tau kalau aku pergi dari rumahnya dan kemungkinan dia akan segera sampai ke sini lalu membawa aku pergi lagi."


"Untuk apa pengawal? Kamu tau kita bertujuan menguasai beberapa jenis ilmu beladiri dan kita bertiga sudah mendapatkan gelar master untuk itu beberapa tahun yang lalu. Apa itu tidak. Cukup? "


"Bukankah kita tidak ingin mengotori tangan kita? Maksud aku begini, kala kita yang menyerang secara langsung bukankah itu artinya dia terlalu kuat hingga kita terpaksa turun tangan sendiri?"


"Ternyata begitu! Baiklah asal Dimas setuju aku pun setuju?!"


"Aku setuju dengan rencana ini."


"Selain itu, aku juga mengundang kalian kesini karena maksud lain. Aku ingin kak Dimas dan kak Aldo ikut dalam pembuatan video klip yang akan aku bintangi beberapa minggu lagi."


"Tapi sepertinya..." Aldo terlihat akan menolak


"Kami setuju!" Ucapan Dimas cepat tanpa ragu.


"Bagus, aku sangat tidak suka penolakan. Baik tempat dan waktu akan segera aku kabari tapi, kalian harus berjanji tidak akan memberitahu hal ini pada yang lain. "


"Iya" Jawab mereka serentak.


Bersambung.....