
“Hahahah.. kamu sangat mengemaskan saat cemburu, tapi ingat ini apapun yang terjadi hanya kamu lelakiku. Jangan terlalu perduli dengan ocehan mereka, sekarang sebaiknya kamu kembali ke tempat duduk, aku akan segera menyusul” Khiren mengelus kepala Revan.
Revan sedikit malu mendengar kata ‘Lelakiku’ dia keluar dengan patuh.
“Kaluar sekarang!” Ucap Khiren tegas sambil mengarah ke tirai tempat mengganti pakaian.
“Loh kok, kamu tau sih, Ki?”
“iya padahal kami udah diam-diam dari tadi.”
“Cie… cie Khiren udah ada yang punya, romantis banget sih kalian.”
“ Cukup! Kalian sekarang cepat selesaikan urusan kalian sendiri aku mau kembali ke acara.”
“Siap bos!”
Saat ingin keluar dia di melihat Vano baru sampai di depan pintu ruang rias.
“Kamu nunggu siapa?”
“Ah tidak, aku hanya ingin menemui kamu. Apa aku bisa bicara dengan kamu?”
“Boleh, ayo ikut aku ke mejaku saja, kamu belum memiliki tempat’kan?”
“Ah iya, aku belum menanyakan tempat untukku”
“Kalau gitu ikut aku saja!”
Vano dengan penurutnya mengikuti Khiren dari belakang dan mereka menjadi pusat perhatian, semua mata menyoroti mereka bak artis yang datang di sebuah pesta. Mereka benar-benar terlihat seperti pasanga serasi di tambah warna jas Vano dengan baju Khiren seakan di desain untuk serasi. Namun dari semua tatapan iri dan kagum ada sebuah mata yang memandang kesal dan penuh amarah kearah kedua orang yang sedang berjalan kearahnya, Revan benar-benar hampir kehilangan kesabarannya saat melihat Vano mengekor Khiren seakan mereka adalah pasangan yang begitu sempurna.
“Siapa sih orang itu?” Dia terus meneguk anggur yang di tuangkan pelayan.
“Hallo tuan Revan!” Vano menyapa Revan yang berpura-pura acuh saat mereka semakin mendekat.
Khiren paham kalau Revan cemburu tapi semakin Revan seperti itu, semakin besar pula hasrat Khiren untuk menggoda Revan dengan membuat dia semakin cemburu.
“Silahkan duduk Vano!” Khiren duduk di antara kedua pria yang perang lewat tatapan itu.
“Vano, aku dengar kamu menolak menjadi model perusahaan JRan? Apa kamu tidak tertarik mencoba produk baru dari mereka?”
“Ah soal itu, aku tidak tertarik karena perusahan itu karena terlalu baru, aku takut itu hanya akan membuang-buang waktuku saja. Lagian perusahaan yang bersaing dengan JRan juga memintaku untuk jadi model mereka, aku sudah melihat rancangan mereka dan sebenarnya aku cukup suka dan harga yang mereka tawarkan juga lebih tinggi dibanding JRan.”
“Kalau harganya di naikkan kamu mau gabung di JRan?”
“Kenapa kamu tanya itu tiba-tiba?”
Saat mereka sedang asik berbincang Revan merasa di asingkan dan diabaikan oleh Khiren, dia semakin marah dan pura-pura main handphone agar Khiren sadar kalau dia sedang merajuk.
“Aku akan menjadi Derektur perusahaan itu dan aku pikir kamu mau kalau angkanya nolnya di tambah beberapa? Apa kamu akan bergabung di perusahaan JRan?”
“Em, kalau kamu yang meninta tentu saja aku akan setuju! Besok tolong kirim surat kontraknya untuk aku tanda tangani.”
“Tunggu tunggu! Bukannya perusahaan itu sudah di ambil alih oleh master K?” Revan tiba-tiba menyela pembicaraan Khiren dan Vano.
“Memang, lalu?”
“Bagaimana bisa kamu jadi derektur di perusahaan yang sudah di ambil alih oleh mereka? Itu hal mustahil kecuali kamu bagian dari mereka?”
“Tentu saja aku bagian dari mereka, besok aku akan mulai kerja. Aku harap itu tidak akan jadi masalah untukmu, sebaiknya kamu tidak terlalu ikut kampur dalam beberapa hal atau hal buruk bisa saja terjadi!” Ucap Khiren tegas.
“Kalau begitu aku tunggu kerja samamu Vano!” Khiren dan Vano saling menjabat tangan dan rencana untuk mendekati Khiren sudah terancang dengan baik dalam otak Vano.