Love Scenario

Love Scenario
situasi yang tidak diharapkan



Revan menyesali setiap ucapan yang dilontarkan beberapa saat yang lalu pada Khiren.


"Aku harus mengejarnya dan meminta maaf atas apa yang aku katakan barusan." Revan berlari keluar dengan cepat dan berharap dia bisa mencegah Khiren pergi. Namun, sayang langkahnya tidak secepat Khiren, dia sudah mencari ke segala arah tapi khiren tetap tidak terlihat.


"Bagaimana ini? Pasti dia sangat marah karena ucapanku yang ngasal tadi. Sekarang aku harus mencari dia dimana?"


Revan putus asa karena dia tidak tau keberadaan khiren.


***


Beberapa saat setelah Khiren keluar dari restoran itu, dia berhenti sambil menangis, dia mencoba menguatkan hati dengan berkata.


"Kamu masih punya banyak yang selalu mencintai kamu, kamu harus kuat! Kuat! Lupakan **** itu! Harus move on! Kenapa air mata ini gak mau berhenti mengalir buat orang risih aja" Ucapkan dengan sedikit tersedak-sedak.


Saat dia mencoba untuk kuat dan kembali ke rumah, ada beberapa orang pria menyergap dia dari belakang dan kesadaran Khiren mulai menghilang. Ketika dia tersadar, dia sudah berada di ruang dengan warna dominan putih dengan bunga biru yang sangat indah. Semua dinding dan juga Langit-langit kamar itu di penuhi dengan lukisan bunga yang indah.


"Dimana ini? Sial, kenapa aku bisa selenggah itu? Ini semua karena Revan s*t'n itu!!! Awas aja kalau ketemu bakalan aku habisi dia."


Saat Khiren mencoba bangun tubuhnya terasa lemah, tapi dia tidak suka memanjakan tubuhnya, dia memaksakan tubuhnya untuk bergerak, dengan perlahan dia menggapai jendela yang di tutup tirai berwarna biru muda. Matanya menelusuri setiap tempat yang mampu dia jangkau lewat jendela kaca.


"Aku harus segera mengaktifkan semua alat pelacak yang ada di tubuhku." Khiren memeriksa tubuhnya dan dia kehilangan kalung, cincin bahkan gelang dan benda-benda itu memiliki alat pelacak. Tapi untungnya anting dan jepit rambut Khiren tidak hilang hingga dia bisa memberitahu pada kakaknya lokasi tempat dia di sekap saat ini.


Tiba-tiba kaki Khiren lemas dan dia terjatuh, "tolong!!!" Ucapan sedikit berteriak dan hanya menunggu beberapa detik lalu ada beberapa orang yang masuk untuk menolong Khiren.


"Sial, sesuai dugaan ternyata di luar ada beberapa penjaga yang menjaga pintu kamar ini. Kalau kayak gini aku bakalan susah buat kabur! Kak Dimas, aku cuma bisa bergantung pada kamu!" Pikiran Khiren yang kesadaran mulai menghilang saat seorang Suster menyuntikkan obat pada dia.


Di tengah malam Khiren terbangun mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi sayang tubuhnya terlalu lemas karena pengaruh obat yang di suntikkan pada tubuhnya. Tiba-tiba saja pintu terbuka perlahan lalu seseorang masuk ke dalam kamar itu, tercium bau alkohol dari tubuh orang itu yang membuat Khiren tak nyaman. Khiren berpura-pura tertidur dan berusaha untuk tetap tenang.


"Hinata! Kenapa kamu pergi meninggalkan aku? Apa aku tidak pantas untuk memiliki kamu?! Apa yang kurang dari aku?! Hinata, kamu adalah orang yang sangat aku cinta dan kita sudah berjanji akan menikah jika kita sudah dewasa!" Dia berkata seperti orang hilang akal.


"Hinata, jika kamu terus kabar aku berjanji akan mengikat kakimu dengan rantai agar kamu tidak pergi lagi! Kau tidak boleh pergi! Tidak boleh! Tidak boleh..." Pria yang tadinya berada di samping ranjang mulai merangkak ke atasnya lalu ia tertidur di samping Khiren.


Khiren benar-benar tersiksa, dia hampir lupa bernafas karena pria itu tiba-tiba naik ke kasur dan memeluk tubuhnya. Khiren merasa geli dan tidak nyaman dengan sentuh Rey, terpaksa dia bergerak dan memindahkan tangan Rey untuk menjauh dari tubuhnya. Saat Khiren sedang bergeser menjauh dari Rey, tangan Rey yang sudah di pindahkan malah menempel kembali di tubuh Khiren dan di tambah dengan kaki Rey yang memeluk Khiren seperti guling membuat dia tidak bisa bergerak lagi. Khiren tidak ingin membuat Rey terjaga tapi dia juga tidak ingin dekat dengan Rey, pada akhir dia menyerah dan tertidur dalam posisi dimana Rey memeluk dia sepanjang malam.


bersambung.....