
Hari semakin gelap dan khiren yang masih dalam masa hukuman hanya bisa memandangi sunset lewat jendela kamarnya.
"Membosankan! Besok aku ulang tahun, apa bunda dan ayah akan membebaskan aku? Walaupun hanya sehari aku ingin keluar dari rumah ini. Tuhan tolong bantu aku keluar dari tempat ini!"
Khiren benar-benar ingin keluar menghirup udara kebebasan seperti dulu, dia ingin bepergian seperti dulu, karena itu dia berharap di ultah nya kali ini dia akan meminta hadiah kebebasannya pada orang tuanya.
Keesokan harinya, khiren bangun sangat pagi dan menunggu pintu di ketuk dan dia berharap mendapatkan kejutan di ultah ke 25 . Khiren membuat hp nya dan melihat postingan ucapan ulang tahun dari teman-temannya dan juga penggemarnya.
"Kenapa malah orang lain yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun pada aku? Kemana orang tuaku?" Khiren terlihat sangat sedih.
Beberapa saat kemudian ada yang mengetok pintu kamar khiren "tok tok tok"
"Masuk saja!"
"Tok tok tok!" Suara pintu tidak berhenti meskipun khiren sudah meminta orang itu masuk.
"Pintu tidak terkunci dan berhenti membuat keributan!"
"Tok tok tok!"
"Sialan! Siapa sih ngerjain aku!" Khiren lekas bangun dan membuka pintu dan dia sangat terkejut saat membuka pintu kamarnya.
"Kalian? Bukannya kalian bilang tidak bisa ke sini?"
"Kejutan! Tadinya kami emang gak bisa ke sini tapi karena Revan jemput kami secara langsung, maka kami datang tepat waktu."
"Ayo masuk!"
"Tidak, kamu saja yang keluar" pinta Revan.
"Tapi..."
"Tenang aja, Bunda dan Ayah sedang keluar negeri jadi kamu bebas keluar kamar!"
"Mereka kemana?"
"Apa mereka menitipkan hadiah atau apa?"
"Tidak ada, mungkin mereka lupak,khi!"
"Lupa? Sejak kapan mereka lupa? Oh ya, aku bukan lagi satu-satunya anak mereka sekarang, tentu saja aku akan segera di lupakan."
"Khiren, jangan bicara seperti itu?! Mereka mungkin lupa karena Bunda sedang dalam keadaan tidak sehat."
"Iya Bunda tidak sehat karena anak itu'kan?" Dimas mencoba menjelaskan situasi Bunda saat ini pada khiren yang terlihat akan mengamuk.
"Lupakan itu, ayo kita rayakan ulang tahun adik kecil kita yang cantik ini?!" Morli langsung mengambil tindakan sebelum khiren semakan emosi.
"Ayo cepat, kami membuat kue kesukaan kamu,khi lihat! Ini hasil kerja keras di pesawat. Cantik bukan?" Tanya Aldo membanggakan hasil kerjanya.
"Iya cantik!" Khiren terlihat tidak bahagia.
"Ayolah! Kami ini kan juga keluarga kamu, harusnya kamu bahagia di hari yang istimewa ini, tersenyum lah khiren?!" Ucap Ryo, sambil mencubit pipi khiren.
"Baiklah! Ini untuk kalian semua dan untuk suami yang sudah bersusah payah untuk acara ini. Terimakasih untuk semua ini Revan."
"Cie..." Semuanya menyoraki Revan yang tersipu malu.
"Apaan sih! Iya sama sama khiren."
"Sekarang mari kita membuat pesta!"
Mereka membuat pesta, mereka menari bersama, bermain, dan juga bernyanyi di hari bahagia Khiren.
Semuanya terasa menyenangkan tapi hati yang sakit tak bisa langsung terobati begitu saja. Khiren masih marah pada orang tuanya yang melupakan ulang tahunnya kali ini, meski dia tersenyum tapi dalam hati dia sedang menangis karena menganggap kalau dia telah di lupakan oleh orang tuanya setelah kehadiran adiknya.
Bersambung....