
“Saya terima nikah dan kawinnya Khiren Ayu Winata Binti Kentaro dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai”
Mendengar ucapan itu membuat hati khiren hancur tak berkeping, dia ingin sekali mengambil pisau dan menusuknya ke jantung pria yang ada di sampingnya tapi, apa daya dia tak miliki cukup keberanian untuk melakukan itu. Khiren tak dapat membendung rasa marah dan kecewanya pada keadaanya sekarang, dia sangat ingin meneriaki takdirnya yang membawa dia dalam keadaan itu.
Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba, meski dia sudah mempirkarakan akan terjadi hal semacam ini karena dia tak kunjung memiliki hubungan dengan lawan jenis di usianya yang genap 24 tahun. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan hobi dan dia benar-benar tidak tertarik untuk memulai hubungan karena trauma yang pernah dialaminya saat masih SMA dimana dia terpaksa melepaskan orang yang dia cintai untuk melindunginya dari keluarganya.