LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 9 (pernikahan)



“Dilla pingsan, sekarang dia ada di rumah” ujar Ricko.


Erik langsung menutup televon dan menyerahkan kunci café kepada Dina. Ia langsung melajukan mobilnya ke rumah. Biasanya ia dari café dapat ditempuh dengan waktu satu jam, saat ini ia hanya menghabiskan 20 menit untuk sampai di rumah.


Erik : “ma. Mana Dilla? Nggak apa-apa kan?”


Mama: “kamu kok kenal dengan Dilla?”


Erik: “iya ma, Dilla itu kerja di café aku”


Mama: “o gitu, Dilla sedang tidur di kamar Ricko, badannya panas, mungkin besok sudah baikan. Jangan ganggu Dilla dulu ya? Takut kebangun”


Erik: “baik ma” kemudian ia mencari Dilla ke kamar Ricko, terlihat Ricko sedang mengusap rambut Dilla yang sedang tertidur, “mungkin Ricko memiliki perasaan yang sama kayak gue terhadap Dilla” ucap Erik dalam batin.


Erik yang tak kuat melihat mereka berdua berniat menutup pintu kamar Ricko. Saat menutup pintu, Ricko tersadar “kayak ada orang” dalam batin Ricko.


Karena Dilla sudah tertidur, ia berniat tidur di sofa supaya saat Dilla membutuhkan apapun, ia bisa membantu, bagaimanapun juga itu kesalahan Ricko yang tak segera membawa Dilla pulang.


Pukul 03.00 Dilla terbangun dan memutar kedua matanya, yang ia lihat saat ini ia merasa di tempat yang asing. Saat meraba wajahnya terdapat handuk basah yang di tempelkan pada keningnya. Setelah ia menata memori yang ia ingat semalam, Dilla teringat bahwa semalam ia makan bersama, pamit dan semua pandangannya menghitam. Ia tak mampu mengingat apa yang terjadi sampai dia berada disini.


Ia melempar pandangannya ke segala arah, dia menemukan sosok laki-laki yang tidur di sofa. Dia adalah Ricko. “apa Ricko yang membawa aku kesini?”


Dilla melangkahkan kakinya mendekati Ricko dan membangunkannya “kak…terimakasih sudah banyak membantuku sejauh ini, aku nggak tau harus membalas dengan cara apa. Aku janji kalo kamu butuh apa-apa aku pasti bersedia membantumu kak”. Tiba-tiba Ricko bergerak dan membuka matanya. Saat Ricko perlahan membuka mata, ia terkejut bahwa di depannya sudah ada gadis mungil tersebut yaitu Dilla.


“loh Dil, lo udah bangun?” ucap Ricko dengan memegang kening Dilla untuk memastikan bahwa panasnya sudah turun. Dan Ricko lega bahwa suhu badannya tidak sepanas kemarin.


“em-udah kak, kak gue mau pulang, anterin ya?”


“Dil, ini masih pagi banget lho, lagian lo semalem pingsan. Masih ngerasa pusing nggak? Kalo masih pusing istirahat dulu aja. Nanti kalo kamu udah sarapan aku anterin pulang” ucap Ricko.


“bener ya kak?”


"iya" kemudian Ricko berdiri dan merengkuh pundak Dilla mengantarnya ke tempat tidur.


Saat di tempat tidur, Dilla tidak dapat memejamkan matanya. Karena rasa kantuknya sudah hilang, ia terus bergerak mencari posisi yang nyaman tapi tetep tidak dapat tidur. Ricko yang menyadari itu, bertanya kepada Dilla “Dill, mikirin apa?”


“e-enggak mikir apa-apa kak, aku udah nggak ngantuk” ucap Dilla.


“ayo ikut ke lantai atas?” ajak Ricko.


“ha? Mau ngapain?” tanya Dilla heran. Ricko menarik tangan Dilla tanpa menjawab pertanyaan Dilla.


Sesampainya di lantai tiga, Dilla tercengang dengan pemandangan sekitar rumah Ricko. Satu kata yang keluar dari mulut Dilla “menakjubkan”. Mereka pun duduk berdampingan di kursi santai yang memang disediakan di sana.


“mungkin jika rumahku seperti ini, aku akan setiap hari mengunjungi tempat ini”


Ricko hanya tersenyum melihat Dilla. Tak ada suara siapapun di sana, mereka hanya diam. Suasananya begitu tenang, tak lama kemudian terdengar suara angin dan ayam sedang berkokok membangunkan tuannya.


Hal ini selalu Dilla lihat dari café Erik, namun di tempat ini jauh lebih indah, lebih tenang. Langit kini mulai berubah warna, yang tadinya gelap di taburi bintang, sekarang sudah berubah menjadi biru kekuningan.


Setelah berpuluh-puluh menit mereka di sana, ternyata Ricko dan Dilla tertidur dengan posisi Dilla tertidur di pundak Ricko. Pada pukul lima pagi, Ricko terbangun karena cahaya matahari mulai muncul. Ricko tersadar bahwa Dilla sedang tidur di pundaknya, ia tidak ingin membangunkan Dilla. Ia menutupi cahaya yang menyinari wajah Dilla, berharap Dilla tetap terjaga dalam tidurnya.


Beberapa menit kemudian, Dilla mengerjapkan matanya. “maaf, gue ketiduran ya?”.


“iya tidur lu nyenyak banget, gue bangunin dari tadi nggak bangun-bangun. Pundak gue sampe sakit” ucap Ricko dengan berbohong, karena ia ingin menyembunyikan perasaannya.


“ha? Beneran? sorry sorry? Gue nggak sengaja tadi”


“santai aja kali. Yaudah yuk ke bawah. Habis ini gue mau ke kantor, lo siap-siap dulu nanti gue anter pulang”


Dilla mendengar hal tersebut hanya mengangguk mengerti. Ricko menyuruhnya untuk mandi dan ia memberikan kemeja kepada Dilla, karena memang di rumah ini tidak memiliki saudara perempuan, jadi dia tidak memiliki pilihan lain selain memberikan kemejanya.


Mama: “hei sayang gimana? Udah enakan?”


Dilla: “sudah ma. ” jawab Dilla dengan tersenyum. “ma, Dilla mau pulang dulu, soalnya mau ada kuliah nanti jam 9”


Mama: “sayang, kalo kamu masih belum enak badan jangan kuliah dulu, mama nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Ayo kita sarapan dulu, kalo udah kamu boleh pulang”


Dilla: “e-iya ma, makasih ya ma” Dilla memeluk mama Ricko.


#merekapun makan bersama di ruang makan. Erik juga ikut makan bersama.


Mama: “Dil, tadi mama udah bilang ke Ricko dan Ricko udah setuju kalo pernikahan kalian di percepat”


“pernikahan?” Erik menjawab perkataan mama dan sesaat melihat Ricko.


Dilla tersedak ketika mama mengatakan bahwa pernikahan dirinya dan Ricko dipercepat. Padahal dirinya belum ada persetujuan untuk hal tersebut. Dilla langsung melotot kepada Ricko “maunya apa sih nih orang”


Ricko: “sayang pelan-pelan dong makannya. Ini minum dulu” ucap Ricko dengan sok manis.


Dilla meminum air yang diberikan Ricko dan berniat menyudahi makannya, karena banyak yang ingin dia bicarakan, lebih tepatnya Dilla ingin mencakar wajah laki-laki itu.


Dilla: “kak aku udah kenyang banget”.


Erik yang mendengar pernyataan Dilla langsung kaget, “orang-orang ini kesambet apa gimana ya? Kayaknya baru kemarin akurnya, apa jangan-jangan mereka udah jadian?” batin Erik.


Mama: “lho kok udahan? Padahal bi Ina udah masak banyak banget lho buat Dilla, biar kamu cepet sembuh”


Dilla: “maaf ma, Dilla udah kenyang banget”


Ricko: “kalo udah kenyang ayo kita berangkat. Ma aku pamit ke kantor dulu ya? Sekalian nganter Dilla”


Mama: “iya sayang, jagain calon menantu mama ya? Jangan sampai lecet”


Ricko: “beres ma”


Erik: “ma, Erik juga berangkat dulu ke café” dengan wajah datar.


Mama: “iya sayang, hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut”


*mereka masih di depan rumah.


Erik: “kak, Dilla biar sama gue deh, kan gue juga mau ke cafe”


Ricko: “enggak, gue mau ngomong sesuatu sama Dilla. Ayo masuk Dil?”


Dilla: “nggak mau, gue mau bareng kak Erik aja”


Ricko: “Dil, masuk”


Erik: “kak jangan maksa gitu dong”


Dilla: “tau nih nggak jelas banget”


Tanpa berlama-lama berdebat, Ricko menarik tangan Dilla supaya masuk ke dalam mobilnya.


Dilla: “kak…kak Erik.. tolong”


Ricko: “tenang aja, Dilla aman sama gue. Gue ada kepentingan sedikit ama Dilla” . mendengar penuturan Ricko, Erik hanya mengangguk.