LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps. 24 (cemburu)



Terimakasih sudah mau mampir ke ceritaku ya.


Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya. Karena masukan dari kalian itu sangat-sangatlah penting.


Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like dan komentar di setiyap ceritaku, supaya author lebih semangat dalam menulis cerita.


Happy Reading Reader...


Ricko, Dilla, Rendi dan Junna menjawab dengan serempak "DIAM!!!"


Andre yang tengah berdiri nyalinya tiba-tiba menciut mendengar sentakan dari mereka.


"Baiklah, sepertinya ada salah paham disini. Mari kita bicarakan baik-baik. Ayo duduk dulu" ucap Andre menenangkan mereka.


Kini di meja tersebut ada Dilla, Ricko, Junna, Andre, Rendi dan Diana. Mereka hanya hening tak ada yang memulai percakapan, Andre geram melihat mereka yang sudah berumur dewasa namun sikapnya seperti anak-anak.


"Mulai dari mana dulu?" Andre yang memancing pertanyaan kepada mereka.


"Dil, kau tadi pamit kuliah mengapa ada disini?" ucap Ricko dengan tatapan menyelidiki.


"Aku terpaksa ikut kesini sebagai perminta maafanku ke kak Junna" Jawab Dilla tanpa menatap Ricko.


"Lalu apa hubunganmu dengannya?" Tambah Ricko.


"Dia seniorku, tidak lebih. Lantas apa hubunganmu dengan wanita itu?" Dilla menunjuk wanita yang ada di hadapannya yaitu Diana.


"Haha kau cemburu aku makan siang dengannya?" Ricko yang tersenyum melihat Dilla marah sangat menggemaskan.


"Tidak, siapa yang cemburu dengan pria sepertimu?" Dilla menumpuk tangannya di dadanya.


"Hei jika kau memang tidak cemburu, mengapa kau marah aku makan dengannya?" Ricko yang menatap Dilla menunggu jawabannya.


" Aku...em.. aku hanya tidak suka kau makan bersamanya" Dilla menundukkan wajah yang malu akibat jawabannya sendiri.


"Haha itu namanya cemburu sayang" Ricko semakin gemas dengan tingkah Dilla yang polos dan sangat menarik. Dilla yang mendengar jawaban Ricko, wajahnya langsung memerah, blussing.


"Baik, sudah selesai kan permasalahan ini?" Andre yang mengira permasalahan tersebut selesai, ternyata mata mereka langsung menatap Andre tajam.


"Oh ternyata belum selesai ya, baik lanjutkan dulu" Lanjut Andre.


"Siapa wanita yang makan denganmu itu?" ucap Dilla dengan menatap Ricko.


"Dia wanita yang sedang di dekati Andre. Ini gara-gara kau Andre, istriku jadi cemburu seperti ini" Ricko hanya mampu menahan tawanya.


"Istri? Jadi kalian suami istri?" ucap Junna kaget dengan status mereka.


"Iya, apa kau belum tau? Mereka sudah menikah satu bulan kemarin" Andre memperjelas hubungan mereka.


"Wah sayang sekali, aku sudah kalah start denganmu bro, hampir saja aku maju untuk mendekati istrimu" Ucap Junna kepada Ricko.


"Haha, untung saja itu tidak pernah terjadi" Ricko menarik pinggang Dilla supaya memecah jarak diantara mereka.


"Dia. Em. Dia" Belum sempat Dilla menjawab pertanyaan Ricko, Rendi langsung menjawab "Aku Rendi, kekasih Dilla" Dilla yang mendengar hal tersebut langsung melotot.


"Aku memang pernah menjalin hubungan denganmu, Tapi itu dulu sebelum kau meninggalkanku" Dilla sangat emosi mendengar penuturan Rendi.


"Tapi kita tidak pernah mengucapkan kata perpisahan bukan? Itu artinya kita masih punya hubungan" Rendi mempertegas perkataannya.


BRUKK


Ricko yang mendengar hal tersebut langsung memukul Rendi "Kau jangan macam-macam dengan istriku, laki-laki macam apa kau ini yang merusak hubungan orang lain? Apa kai tidak laku?" Ricko dengan emosi mencengkram kerah baju Rendi.


"Mas, mas sudah hentikan" Dilla yang khawatir dengan kondisi Ricko saat marah, "sudah kita pulang saja" lanjut Dilla.


Dilla mengajak Ricko ke mobil, sedangkan Andre dan Diana memesan taxi untuk menuju ke kantor.


"Mas, aku mau kuliah dulu, kurang 10 menit aku masuk kelas" Ucap Dilla dengan datar.


"Tidak perlu" Ricko yang masih kesal dengan Dilla menjawab dengan seadanya.


"Kamu ini kenapa sih mas?, aku juga butuh masa depan. Kurang dua bulan lagi kita bercerai, aku akan kembali ke kehidupan normalku. Jika aku tidak kuliah dengan baik, bisa-bisa beasiswaku di cabut"


"Aku hanya tidak ingin kau bertemu dengan Junna ataupun Rendi" Ujar Ricko dengan menatap ke depan.


"Untuk apa? Kak Junna juga sudah tau kan kalo kita suami istri? Dan kak Ricko juga sudah kau beri pelajaran?Bagaimana mungkin mereka mau mendekatiku lagi?" Ujar Dilla dengan malas mengatakannya.


Ricko mendadak memberhentikan mobilnya dan diam sejenak. Tanpa di sadari Ricko memeluk Dilla seperti bayi yang takut kehilangan ibunya.


"Mas, Mas kenapa?"


"Biarlah seperti ini dulu, aku nyaman seperti ini"


Dilla hanya diam dan tak mengerti apa maksud Ricko memeluknya. Dengan hitungan menit Ricko melepas pelukannya dan melajukan mobil tersebut ke parkiran kampus.


"Aku akan menunggumu sampai pulang" Ricko dengan santai.


"Tidak apa-apa?" Dilla mengernyitkan keningnya.


Ricko yang melihat hal tersebut langsung menyentil kening Dilla "Jangan seperti itu, nanti kau cepat tua Dil".


"Aw.. Sakit tau" pekik Dilla memegang keningnya.


Ricko hanya terkekeh mendengar suara Dilla mengaduh karena perbuatannya.


Jika saja aku tidak ingat perjanjian itu, sudah habis kau sayang. batin Ricko.


"Banyak sekali sainganku untuk mendapatkan hatimu Dil. Junna, Rendi bahkan adikku saja juga menjadi lawanku sekarang. Itu laki-laki yang aku tau, yang tidak tau seberapa banyak.


Memang kau bukan wanita penggoda, namun banyak pria yang tergoda dengan tingkah polosmu Dilla. Cepat atau lambat aku pasti bisa membuatmu jatuh hati kepadaku. Karena bagaimanapun kau adalah istri sahku" Gumam Ricko bebicara dengan dirinya sendiri.