LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
Eps 18 (Kekasih lama)



***Terimakasih sudah mau mampir ke ceritaku ya.


Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya. Karena masukan dari kalian itu sangat-sangatlah penting.


Silahkan tinggalkan jejak dengan cara like dan komentar di setiyap ceritaku, supaya author lebih semangat dalam menulis cerita.


Happy Reading Reader***...


----------


#Flashback off


08.00


Saat ia memasuki kelas ternyata dosen masih belum datang. Indira, Caca dan Melliza sudah siap di tempat duduknya.


Caca: "Dil, kok tumben? biasanya lo yang paling rajin datengnya?"


Dilla: "Iya tadi gue kesiangan bangunnya?"


Indira: "iya biasanya juga lo berangkat sama gue jalan kaki, tadi gue samperin ke cafe kata kak Erik nggak nginep situ lagi?"


Melliza: "Dil, kalo ada masalah cerita ke kita, kita ini sahabat lo. Kita pasti bantu lo kok"


Dilla: "Em.. Nanti gue ceritain deh, gue janji"


Dosen pun datang dan menyapa mahasiswanya "Selamat pagi semuanya, maaf bapak telat tadi masih ada mahasiswa bimbingan skripsi yang minta tanda tangan. Oke kita mulai mata kuliah ini---".


Setelah perkuliahan selesai pukul 11.00. Sedangkan jam ke dua akan dimulai nanti pukul 12.30. Merekapun ke kantin untuk makan siang. Tak lupa mereka juga menagih janji penjelasan dari Dilla.


Dilla: "Gue udah nikah kemarin"


Caca, Indira dan Melliza pun melongo mendengar pernyataan Dilla.


Melliza: "Lo nggak hamil di luar nikah kan Dil?"


Caca: "kok bisa? Cepet banget?


Indira: "Gue nggak percaya"


Dilla mengisyaratkan mereka untuk diam dan tidak berisik.


Dilla: "Hust.. ge belum selesai bicara"


Dilla pun menjelaskan semuanya kepada Melliza, caca dan Indira mengenai hutang, perjanjian dan pernikahan tersebut. Mereka iba mendengar pernyataan dari Dilla.


Caca: "Kok lo nggak ngomong-ngomong ke kita kalo lo ada masalah? Kan kita bisa bantu lo Dil, Gue bisa pinjem uang ke papa atau kakak gue"


Dilla: "Nggak apa-apa kok, gue nggak mau ngerepotin kalian semua. Apalagi itukan nominal yang besar, bagaimana aku bisa ngelunasin cepet?"


Indira: "Tapi kan setidaknya, lo nggak nikah sama om-om itu Dil"


Dilla: "Tenang aja, gue sama dia itu nggak ada perasaan apapun. Dia nikahin gue juga ada alasannya. Biar wanita yang selalu ngejar-ngejar dia ngejauh"


Caca: "Yakin? alasannya cuma itu?"


Dilla hanya mengangguk.


Melliza: "Dil, jangan polos-polos banget deh, mana ada orang yang ngejauhin wanita dengan bayaran segitu banyaknya?"


Dilla: "Gue percaya aja ama dia, soalnya dia dari keluarga baik-baik, lebih tepatnya kakaknya kak Erik"


mereka bertiga kaget secara bersamaan "Apa?"


Dilla: "eh. kalian bertiga kenapa sih? lebay banget?"


Caca: "Kak Erik yang punya cafe gede deket kampus kan?"


Dilla: "Iya, tempat gue nginep dulu"


Melliza: "wah hebat sih lo, Adiknya yang demen malah nikah sama kakaknya"


Dilla: "Gue sama kak Erik juga nggak ada apa-apa, gue cuma anggep dia tu kakak gue, begitu pula sebaliknya"


Indira: "Dil, orang gila aja bakal tau kalo kak Erik tu naksir sama lo. Coba bayangin mana ada orang yang nawarin tempat nginep tanpa bayaran dan nawarin kerjaan dengan bayaran yang gede. Apalagi itu orang yang baru di kenal?


Caca: "Terserah lo deh Dil. Lo boleh pinter dalam masalah mata kuliah, tapi kalo masalah hati lo lemot banget"


Indira dan Melliza pun tertawa mendengar penuturan Caca. Hanya Dilla yang masih mencerna pembicaraan temannya. Namun sebenarnya Dilla tau perasaan Erik, karena dia sudah mengungkapkannya minggu lalu.


Pukul 02.45 jam kedua selesai mereka berhamburan keluar kelas tak terkecuali dengan 4 sahabat tersebut. Mereka berencana untuk pergi ke rumah Caca karena sudah lama mereka tidak berkumpul seperti ini.


Ricko sejak pukul 02.00 mengirimkan pesan kepada Dilla bahwa dia tidak bisa menjemput pukul 03.00, karena masih ada kerjaan yang sangat banyak.


#Dalam pesan


Ricko: Dil, aku nggak bisa jemput jam 3, nanti kamu naik taksi.


Dilla: Mas, aku mau ke rumah Caca, bareng Melliza sama Indira.


Ricko: Nanti aku jemput. Jangan pulang sebelum aku kesana.


Dilla: Siap.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun masuk ke rumah Caca. Rumah Caca yang begitu besar dan mewah membuat teman-temannya kagum. Mereka memasuki ruang santai yang terdapat TV. Banyak yang mereka bicarakan sampai-sampai mereka lupa waktu. Saat ini sudah pukul 5 sore, itu tandanya mereka akan bergegas untuk pulang.


Dilla sudah berkata kepada Caca bahwa dia menunggu suaminya. Terdengar suara mobil yang berada di luar rumah, dikira Dilla itu adalah suaminya. Kemudian ia bergegas untuk ke depan dan berpamitan kepada Caca.


Dilla: "Ca, mungkin itu mas Ricko yang jemput, gue balik dulu ya"


Caca: "Makasih banyak udah mau mampir Dil, ayo gue anter ke depan"


Dilla hanya mengangguk. Merekapun berjalan ke depan membuka pintu.


Caca: "Dil, itu mah mobil kakak gue, yaudah ayo ke dalem dulu, nanti kalo nggak di jemput nginep disini aja"


Saat Dilla dan Caca membalikkan badannya untuk masuk ke dalam rumah, ada yang memanggil Dilla. Suara tersebut tidak asing di telinga Dilla, itu suara pria yang pernah di kenalnya, bahkan suara pria tersebut mirip dengan suara orang yang pernah dia cintai yaitu Rendi.


Rendi: "Dilla?"


Dilla membalikkan badannya dan terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini, ternyata benar itu Rendi.


Caca: "loh kak, kakak kenal Dilla?"


Rendi: "Iya Dilla itu--"


Dilla memotong perkataan Rendi "Iya dulu kak Rendi itu pernah deket sama temen sekelas aku. Iya kan kak?"


Rendi: "ha? O iya."


Rendi tak pernah menyangka bahwa Rendi akan bertemu dengan Dilla, dia sengaja tidak menghubungi Dilla dengan alasan supaya cepat lulus dan melanjutkan perusahaan ayahnya.


Setelah satu tahun ia bekerja, ia berniat melamar Dilla, namun saat ia datang ke rumah Dilla. Pak Danang (bapak Dilla) berkata bahwa Dilla kabur dari rumah dan bapaknya sendiri pun tak tau dimana dia tinggal.


Rendi merasa bersalah karena tak pernah menghubungi Dilla dalam satu tahun ini. Mereka saling memandang dalam-dalam. Tampak terdapat kerinduan di mata Rendi namun Dilla mengalihkan matanya karena dia tak sanggup untuk bertemu lama-lama dengan pria yang pernah meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


Tak lama setelah Rendi tiba, Ricko datang untuk menjemput Dilla.


Ricko: "Dil, ayo pulang"


Dilla: "Iya mas. Ca aku pulang dulu ya? suamiku udah jemput"


Rendi tersontak kaget dalam hati ia bsrkata-kata "Suami? sejak kapan dia menikah? Cepat sekali kau melupakanku?"


----


wah kayaknya bau pebinor ini. Jangan kasih kendor Rick.



ini visualnya Rendi.


Kiri (Rendi)


Tengah (Ricko)


kanan (Dilla)