LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 10 (rencana)



#saat dalam mobil


Ricko: “sorry gue ambil keputusan itu”


Dilla: “gue nggak tau ya jalan pikir lo, sebenernya lo pingin apa sih?”


Ricko: “Dill, gue nggak bisa nolak keinginan mama, apalagi mama ngancem kalo gue nggak segera nikah gue bakal di jodohin sama Jesika orang yang gue ceritain dulu”


Dilla: “itu kan urusan lo, ngapain ngelibatin gue di kehidupan lo? Kenapa bukan perempuan lain?”


Ricko: “karena ada beberapa alasan, yang pertama lo nggak ada hati sama gue. Kedua, lo baik mau deket sama orang bukan karena hartanya, kalo gue pura-pura nikah sama perempuan lain, pasti mereka tergiur sama harta gue”


Dilla: “terus kalo ternyata gue tergiur sama harta lo? Gimana? Apalagi gue kan orang miskin”


Ricko: “nggak usah cari alasan”


Dilla: “ih.. nyebelin. Pokok gue nggak mau nikah pura-pura sama lo”


Ricko: “maunya nikah beneran ya?” goda Ricko.


Dilla: “idih. jangan kepedean. pokoknya gue nggak mau titik”


Ricko: “baru tadi pagi lo bilang kalo gue butuh bantuan, lo pasti mau mbantu? Sekarang gue lagi butuh bantuan, lo-nya malah nolak”


Dilla: “kapan gue bilang kaya gitu?”


Ricko: “masa lo lupa waktu gue tidur, lo bilang di hadapan gue”


Dilla mengingat-ingat perkataannya tadi. Ternyata benar ia telah berkata hal tersebut.


Dilla: “ah sial, ternyata lo pura-pura tidur ya?”


Ricko: “bukan pura-pura tidur, tapi gue udah bangun waktu lo jalan ke arah gue”


Dilla: “tapi nggak gini cara nolongnya. Gue nggak mau nikah di usia 18. Hidup gue masih panjang, gue juga punya cita-cita”


Ricko: “pernikahan kita Cuma sementara doang”


Dilla: “maksud lo?”


Ricko: “iya kita Cuma nikah 100 hari”


Dilla: “lo gila ya? Pernikahan itu hal yang sakral nggak boleh buat mainan. Apalagi kalo udah cerai gue jadi janda dong? Jadi janda di usia 18 tahun. NGGAK MAUUU”


Ricko: “yaudah kalo gitu, bayar utang lo sekarang seratus juta”


Dilla: “enak aja, lo bilangnya kalo gue pura-pura jadi pacar lo, utangnya lunas?”


Ricko: “inget kan syarat kedua dari lo? Kalau mama nggak suka sama lo, kita berhenti sandiwaranya. Berhubung mama terlanjur suka, jadi kita lanjut”. Dilla menghela nafas dengan kasar.


Dilla bergumam dalam hati “sial kejebak omongan gue sendiri”


Dilla: “oke tapi semua nggak gratis ya?”


Ricko: “maksudnya? Kan lo punya hutang sama gue? Lo lupa?”


Dilla: “hei tuan, menikah denganmu itu bukan hal yang mudah. Butuh kesabaran dan tenaga ekstra untuk menghadapimu!”


Ricko: “baik, nanti kita bicarakan lagi. Kita sudah sampai café. Silahkan turun”


Dilla: “oke”


#Di Kantor


Seperti biasa saat Ricko datang, semua karyawan menunduk memberikan salam kepada Ricko. Saat akan memasuki ruangan, sekertarisnya mengatakan bahwa ada seseorang yang menunggunya di ruangan.


Sekertaris: “selamat pagi pak, di ruangan ada yang menunggu anda, namanya bu Jesika”


Ricko: “Jesika? Siapa dia?”


Sekertaris: “katanya bu Jesika adalah calon istri bapak. Makanya saya langsung mempersilahkan masuk”


Ricko: “besok, siapapun kalau memang tidak ada janji jangan dipersilahkan masuk”


Sekertaris: “mengerti pak”


Ricko: “baik, lanjutkan pekerjaanmu”


Ricko di kantor memang terkenal sebagai bos yang dingin, namun di sisi lain ia tidak pernah berbuat semena-mena kepada karyawannya.


Jesika: “hei sayang, apa kabar?”


Ricko: “anda siapa? Apakah kita saling mengenal?”


Jesika: “aku Jesika, putri dari mama Furi”


Ricko: “oh kamu anak tante Furi yang kuliah di London?”


Jesika: “iya betul, aku kesini karena kata mama kita dijodohin. Aku sudah membawakan bekal untukmu”


Ricko: “maaf, soal perjodohan sepertinya kita tidak berjodoh Jes, karena aku sudah memiliki calon istri”


Jesika: “kamu berbohong kan Rick?”


Ricko: “aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku”


Jesika: “apakah dia lebih cantik? Lebih pintar? Atau lebih sexy dariku Rick?”


Jesika: “kalau aku tidak bisa mendapatkamu, maka orang lain juga tidak akan bisa Rick. Kamu hanya boleh untukku”


Ricko: “mohon segera keluar nona, sebelum aku memanggi security untuk mengusirmu”


Jesika menatap tajam kepada Ricko dan pergi meninggalkan ruangan.


#Di café


Saat Dilla mengelap gelas datanglah sebuah mobil yaitu siapa lagi juka bukan Erik, dialah yang sering datang pagi-pagi untuk mengecek bahan-bahan yang kurang di café secara bergiliran ke cabang yang lain.


Erik: “Dil?”


Dilla: “iya kak ada apa?”


Erik: “aku boleh bertanya sesuatu?”


Dilla: “boleh kok kak”


Erik: “apa kamu sudah jadian sama kak Ricko?”


Dilla: “memangnya kenapa kak?”


Erik: “oh enggak, aku Cuma mau tanya aja”


Dilla: “aku nggak jadian kok kak, Cuma pura-pura aja. Kata kak Ricko biar dia nggak di jodohin sama Je.. Jes siapa gitu”


Erik: “hehe syukur deh”


Dilla: “ha? Gimana kak”


Erik: “oh enggak kenapa-kenapa kok Dil. Oiya katanya kamu kuliah kok belum siap-siap?”


Dilla: “aku udah siap kok kak, 15 menit lagi aku berangkat”


Erik: “yaudah aku mau cek barang-barang dulu”


Dilla: “siap bos”


#saat Dilla berangkat ke kampus, Erik juga berangkat ke café yang lain untuk cek barang.


Caca: “Dil..?”


Dilla: “eh ca, lo mau berangkat ke kampus juga?”


Caca: “iya, ayo bareng”


Dilla: “ayo. Eh tugas lo dari pak Dandi udah selesai belum?”


Caca: “udah dong tadi udah gue print”


Tiba-tiba ada notifikasi pesan di hp Dilla.


Ricko “nanti pulang jam berapa? Biar gue jemput. Gue mau ngomongin soal tadi pagi”


Dilla tidak membalas pesan tersebut. Namun ia lupa bahwa jika sudah dibaca terdapat centang biru. Ricko mengirim pesan lagi.


Ricko: “balas atau aku jemput sekarang?”


Dilla berdecak malas


Dilla: “jam 1”


Setelah itu tak ada jawaban dari Ricko.


@skip


Pukul 13.25 kelas masih belum selesai. Ricko menunggu Dilla di parkiran. Ricko menunggu sudah hampir setengah jam. Tak lama kemudian terdapat satu kelas yang mahasiswanya berhamburan keluar.


“mungkin itu kelas Dilla” ucap Ricko masih di dalam mobil. Setelah ia melihat Dilla, Ricko mengirim pesan kepada Dilla.


Ricko: aku di parkiran. Langsung masuk ke dalam mobil.


Dilla membuka pesan tersebut dan mencari mobil Ricko, namun dia tak berniat masuk ke dalam mobil, melainkan menutup wajahnya dengan buku dan menjauh dari mobil. Ricko yang melihat hal tersebut, langsung mengejar Dilla dan mencekal tangan Dilla “ayo ikut”.


Dilla: “gue nggak mau!”


Ricko: “ikut atau ku gendong?”


Dilla: “apa kau mau ku teriaki sebagai penculik”


Ricko: “silahkan, berarti kau harus membayar hutang itu sekarang juga”


Dilla yang mendengar hal tersebut tidak membantah “oke gue ikut”


Dilla dan Ricko memasuki mobil dan melajukan mobil tersebut di sebuah perusahaan PT. RE COMPANY.


Dilla: “wah ini bukannya perusahaan yang terkenal di Indonesia ya?”


Ricko yang mendengar penuturan tersebut hanya tersenyum “ayo masuk”


Dilla: “ngapain?”


#kira-kira mereka ngapain di perusahaan Ricko?