LOVE 100 Days

LOVE 100 Days
bab 12 (bimbang)



*Malam Hari


Dilla sedang mengerjakan tugas Ilmu Kedokteran Dasar 1 dari pak Dinar. Tiba-tiba Erik datang membuka pintu kamar Dilla.


*Ceklek.


Erik: "Dil? Lagi ngerjain tugas?"


Dilla: "iya kak, maaf ya kak aku masih belum bisa bantu cafe, tugas aku masih banyak banget" Ucap Dilla dengan memelas dan menyatukan tangannya sebagai tanda minta maaf.


Erik: "Iya nggak apa-apa, kamu kan kesini memang buat kuliah, bukan untuk bekerja"


Dilla: "Dilla sebenernya nggak enak sama yang lain kak, kalo Dilla nggak bantu-bantu kayak sekarang"


Erik: "nggak usah di pikirin, kan aku yang nawarin kamu untuk tinggal disini, aku juga maklumin kok, kamu kan mahasiswa, ya pastinya ada tugas yang harus kamu prioritaskan dari pada yang lain"


Dilla: "makasih banyak ya kak, kak Erik emang orang yang paling baik"


Erik hanya mengangguk dan mencubit hidung Dilla.


Dilla: "au sakit, nanti kalo hidung Dilla panjang jadi kayak Pinokio"


Erik: "jangan deh jelek, nanti kalo hidungmu tambah panjang jadi tukang bohong kayak dia"


Dilla: "Enak aja, untung Dilla nggak suka bohong, jadi hidungku nggak sepanjang kak Erik haha"


Erik: "hidungku mancung bukan panjang"


Dilla: "haha. Udah udah aku mau ngerjain tugas dulu, keburu ngantuk"


Erik: "ada yang bisa ku bantu?"


Dilla: "Enggak deh kak, ngerepotin terus jadinya"


Erik: "Enggak kok aku seneng bisa bantu kamu. oh iya kamu sudah makan?"


Erik: "Sudah kak tadi sama kak Ricko"


Tiba-tiba hati Erik sedikit sakit saat mendengar bahwa Dilla makan dengan Ricko.


Erik: "Dil, kakak boleh tanya sama kamu?"


Dilla: "boleh kak, tanya apa?"


Erik: "Kamu beneran mau nikah sama kak Ricko"


Dilla: "em.. iya kak. Tapi itu cuma pura-pura kak, biar Ricko nggak di jodohin sama Jesika"


Erik: "maksud kamu?"


Dilla: "Iya kak, aku sama kak Ricko cuma nikah pura-pura aja, makanya kak Ricko nggak mau pernikahan yang besar-besaran"


Erik: "Terus? apa alasan kamu kok mau nikah pura-pura? bukankah itu merugikan kamu?"


Dilla: "Kak Ricko udah bantu aku ngelunasin hutang bapakku kak, kalau hutang bapakku nggak lunas aku akan di nikahkan sama juragan beras di daerahku, namanya pak Subroto, dia udah punya istri dua sebenarnya. Tapi wanita simpanannya dimana-mana. Makanya Kak Ricko ngelunasih hutang bapakku terus dia ingin aku pura-pura jadi pacarnya"


Erik: "jadi pacarnya kan bukan jadi istrinya Dil?"


Dilla: "iya awalnya gitu, namun dalam kesepakatan itu aku bilang kalo mama nggak suka sama aku, sandiwaranya kita stop. Aku udah berpikir mungkin mama nggak suka sama aku, karena aku berasal dari kalangan menengah ke bawah. Tanpa di duga-duga ternyata mama suka sama aku, akhirnya Ricko melanjutkan sandiwara ini sampai menikah 100 hari. Baru aku akan bercerai?"


Erik: "Dil, nggak semudah itu bercerai. Itu akan mencoreng namamu dan nama kak Ricko"


Dilla: "awalnya aku juga berpikir begitu, tapi aku udah menandatangani surat perjanjian yang akan menguntungkan kedua belah pihak. Dengan harapan Jesika nggak akan mengejar Kak Ricko, dan hutangku ke kak Ricko akan lunas"


Erik: "Astaga Dil, kenapa kamu nggak mau cerita ke aku? Aku bisa bantu kamu, meskipun aku tidak bekerja semapan kak Ricko, aku juga pasti bisa membayar hutang bapakmu Dil"


Dilla: "aku nggak mau ngerepotin kak Erik terus, menurutku kak Erik sudah cukup membantu Dilla dari memberikan penginapan di cafe, pekerjaan dan setiap hari baik sama Dilla itu pun sudah lebih dari cukup kak"


Erik: "Dil, lain kali kalo kamu butuh apa-apa, seberat apapun itu, kak Erik pasti bantu"


Erik: " Iya kakak janji"


Erik: "Dil?" panggil Erik dengan wajah gugup.


Dilla: "iya kak?"


Erik: "Kakak tunggu kamu sampai kamu bercerai dengan kak Ricko"


Dilla: "Maksudnya kak?"


Erik: "Maksudku jika kamu sudah bercerai dengan Kak Ricko, aku ingin kam jadi pendampingku Dil.


suara Dilla tercekat dan bingung akan menjawab apa kepada Erik.


Dilla: "kak. kak Erik itu orang baik, nggak sepantasnya mendapat wanita rendahan seperti Dilla"


Erik: "Dil, sudah terlanjur, aku sudah menyukaimu sejak pertama bertemu kamu, tepatnya saat kamu tertidur di depan cafe"


Dilla: "e.. kak, sebelumnya maaf, Dilla sudah menganggap kak Erik sebagai kakak Dilla, nggak lebih. Dilla juga nggak mau berekspetasi semakin tinggi, karena Dilla tau kita mungkin nggak bakal bersatu kak. Mana mungkin orang baik seperti kakak akan bersanding dengan orang yang jauh dari kata baik seperti Dilla"


Erik: "Dill, perasaan itu nggak bisa di bohongi ataupun di paksa. Jadi biarkan kak Erik nunggu kamu ya sampai kamu bercerai resmi dengan kak Ricko"


Dilla: "maaf kak Dilla belum bisa menjawab apapun, udah dulu ya kak, Dilla ngantuk banget, Dilla mau tidur"


Erik: "katanya mau ngerjain tugas?"


Dilla: "eh iya sampe lupa, iya habis ini segera Dilla selesaikan terus tidur"


Erik: "oke selamat bertugas Dilla"


Dilla: "terimakasih kak"


Dilla masih kepikiran dengan pembicaraan Erik, tidak pernah Erik seserius itu. Tapi mengapa saat Erik menyatakan isi hantinya, Dilla tidak merasa berdebar hatinya? apakah Dilla memang tidak memiliki rasa apapun kepada Erik? Mungkin karena Dilla memang menganggap bahwa Erik adalah kakaknya sendiri. Biarlah, mungkin ini pilihan terbaik untuk Dilla supaya tidak memiliki hutang kepada Ricko. Toh mereka juga tidak saling mencintai.


*Esok hari dengan cuaca yang terik pukul 12 Dilla keluar dari kelas dengan badan yang sudah lelah, karena semalam ia bergadang hingga pukul 3 untuk menyelesaikan tugas.


Notifikasi ponsel Dilla berbunyi, itu tandanya ada pesan yang ia terima.


Ricko: "Jika sudah keluar, masuklah ke mobil. Aku sudah melihatmu, jangan kabur"


Tanpa membalas pesan Ricko, Dilla mencari tau dimana keberadaan mobilnya. Dilla menemukannya segera masuk ke dalam mobil tersebut.


Ricko: "kok lemes banget ketemu gue"


Dilla: "Mau ngapain lagi sih? gue lagi capek banget, semalem cuma tidur 2 jam"


Ricko: "udah nurut aja"


Ricko segera melajukan mobilnya keluar kampus. Dalam mobil tersebut hening, bahkan sangat hening tak ada suara apapun. Saat Ricko melihat Dilla benar saja dia tertidur. "mungkin ngantuk banget dia". Satu jam berlalu Ricko sampai ke tempat yang ia tuju.


Ricko ingin membangunkan Dilla, tapi segera ia urungkan. Ia tak sekejam itu kepada perempuan. Ricko tak tega untuk membangunkan Dilla. Setelah 20 menit Dilla bangun dan kaget bahwa dia berada di suatu tempat.


Dilla: "Loh kak udah sampe?"


Ricko: "Iya baru aja nyampe"


Dilla: "Kok nggak bangunin gue?"


Ricko: "Lah ini aja baru nyampe"


Dilla: "ini sebenernya dimana sih kak?"


~KIRA KIRA MEREKA DIMANA???~


Coba kasih saran dong. otak author lagi buntu. Tadi judul proposal di tolak lagi.