
"Dill?" Panggil Ricko.
"hemm" Dilla hanya berdehem, karena sebenarnya ia malas menghadapi Ricko.
"Kalo lo suruh pilih, lo pilih bulan apa bintang?"
"Gue nggak bisa pilih salah satu, terlalu sulit untuk memilih di antara keduanya. bulan dan bintang itu kayak penyelamat waktu dunia kita sedang gelap. Saat kita khawatir malam akan di penuhi kegelapan, bulan dan bintang lah yang akan menyinari."
Ricko hanya tersenyum mendengar penuturan Dilla.
Kemudian Erik berlari ke lantai dua, sangat terlihat jika Erik sangat menghawatirkan Dilla.
"Dil, Dilla" Erik memanggil Dilla, karena dia tau jika Dilla tertabrak motor.
"Kak Erik aku disini"
“Dil, kamu nggak apa-apa kan? mana yang luka?” Ucap Erik dengan wajah yang khawatir.
“Nggak usah berlebihan Rik, Dilla udah gue obatin tadi” ujar Ricko.
"Kalo masih sakit bilang ya Dill?”
"Oke siap captain, aww” Dilla mengangkat tangannya hormat, ia lupa bahwa tangannya masih sakit.
"Masih sakit?"
"Yaiyalah, emang sakitnya bisa langsung ilang gitu aja?"
“Ayo Dil, gue anter lo istirahat” ujar Ricko.
“Gue sudah enakan kok kak, udah bisa jalan sendiri”.
"Beneran?" Jawab Dilla hanya mengangguk.
Kemudian Erik berbincang-bincang dengan Ricko. Mereka sama-sama menatap jalanan yang saat ini sedang ramai karena memang malam ini malam Minggu.
“Kak, kok tumben akur sama Dilla?”
“Tadinya enggak Rik, tapi setelah kejadian tadi kita bisa damai seperti layaknya teman baru”
“Jadi kejadian tadi ada faedahnya dong kak?”
“hehehe ya begitulah”
Erik melihat Ricko tengah tersenyum-senyum sendiri. Batin Erik “kak, semoga lo gak jatuh cinta sama Dilla”.
Di balkon tersebut tidak ada suara sama sekali, hening dan kemudian Ricko berdiri “ayo pulang, pasti mama nunggu kita”. Sebelum pulang, Ricko membuka kamar Dilla, untuk memastikan bahwa Dilla memang sudah tertidur. Setelah ia membuka pintu kamar, Ricko melihat Dilla sedang tertidur pulas.
Entah mengapa Ricko merasa lega dia sudah tidur, terlihat wajahnya yang lelah dan polos saat tidur. Tak berangsur lama, kini ia melangkahkan kakinya untuk pulang.
#tiga hari kemudian
Pada pagi hari sebelum Ricko berangkat ke kantor, mama sedang makan bersama kedua anaknya yaitu Ricko dan Erik.
“Ricko, nanti ada temen mama yang mau kesini bawa anak, anaknya cantik banget. Mama sih berniat menjodohkan kamu sama dia”
“Mama apaan sih? Ma, Ricko masih belum mau nikah dulu ma”
“Ricko, dengerin kata-kata mama, kamu itu sudah umur 28 tahun, mau nikah umur berapa kamu? Mau jadi perjaka tua? Mama juga pingin kayak temen-temen mama, mereka udah punya cucu. Mama juga pingin cucu Rick. Tolong turuti kata mama”
“Ma, nanti kalau sudah saatnya, Ricko pasti akan nikah juga ma. Mama nggak usah khawatir”
“Udah, pokoknya nanti malam jam 19.00 kamu harus ikut makan malam sama tante Furi”
“Apa? Tante Furi yang anaknya manja, kuliah dari London itu? Ma, mama yang bener aja, anak tante Furi itu ganjen banget”
“Rick, kalo kamu nggak mau, mama beri waktu seminggu buat kamu. Kalau dalam waktu seminggu tidak membawa perempuan ke rumah ini, terpaksa mama jodohin sama anaknya tante Furi”
“Ricko udah selesai makannya, Ricko pergi dulu” ujar Ricko.
Mendengar ancaman mamanya, Ricko sudah tidak selera untuk melanjutkan makanannya. Ia bergegas melajukan mobilnya ke kantor.
Hari Sabtu sore, Ricko hendak melangkahkan kakinya dengan semangat ke café Erik, karena ia ingat bahwa ia telah janji kepada Dilla untuk mengantarnya pulang ke rumah, untuk menebus kesalahannya.
Ricko melihat dari luar café, ternyata Dilla masih bekerja dan terlihat tertawa dengan temannya. Tiba-tiba dada Ricko berdetak saat melihat ia tertawa.
Ricko bergumam “Mengapa saat kau tertawa secantik itu Dil?”
Kemudian Ricko masuk ke dalam café dan menyapa Dilla.
“Dil?” Panggil Ricko.
“Lho kak Ricko kok kesini?”
“katanya lo mau pulang ke rumah?”
“Santai aja, gue kan laki”
“Bentar, gue mau izin ke kak Erik dulu ya?”
“Ngapain izin ke Erik?” dengan tatapan cemburu.
“Kak Erik kan atasan gue, jadi kalo mau keluar izin dulu”
“Beresin barang lo aja, biar gue yang izinin”
“Beneran nggak apa-apa”
“Iya nggak apa-apa, buruan! Dalam waktu 10 menit belum siap, gue tinggal!”
“Idih nyebelinnya nggak ilang-ilang”
Mereka ke lantai 2, Ricko mengizinkan Dilla, sedangkan Dilla membereskan barang bawaannya. Sementara Ricko menemui Erik yang berada di ruangannya.
“Rik, Dilla gue bawa dulu ya?”
“Mau kemana emangnya?”
“Minggu lalu kan udah gue bilang, dia tu kangen sama ibunya, makanya gue anter sebagai perminta maafan karena gue udah nabrak dia kemarin”
“Dia mau?”
“Mau kok, dia kayaknya seneng banget, nggak sabar ketemu sama ibunya”
“Oh oke nggak apa-apa kak, lagian besok juga libur”
“Thanks Rik, gue pergi dulu”
Erik hanya tersenyum terpaksa menganggukkan kepalanya, “kenapa mereka cepat sekali akrabnya?” gumam Erik dalam hati. Erik mendatangi Dilla “Dil, ati-ati ya?”.
Dilla hanya tersenyum dan mengacungkan jempol, kemudian bertanya “kakak mau ikut?”
"Enggak deh, lain kali aja”
*kemudian Erik mengantar Dilla dan Ricko keluar café. Saat Dilla dan Ricko memasuki café, mereka hanya diam tanpa ada suara satu pun. Kemudian Dilla membuka suara.
“Kak lo tau arah rumah gue kan?”
“Ya enggak lah, gue kan nggak pernah kesana”
Kemudian Dilla memberikan arah-arahnya, Ricko pun paham dan mengangguk. Tak lama setelah itu heningpun terasa kembali. Ternyata Dilla sudah tertidur. Karena Ricko pun merasakan kantuk, takut terjadi apa-apa, dia membeli coffe, es cappucino dan berbagai camilan di supermarket dan membawanya ke mobil.
Ricko: “ini anak, kebo atau apa sih? Kok nggak keganggu sama sekali”
Ricko memiliki ide untuk menjaili Dilla, Ricko mengagetkan Dilla dengan meneriaki telinga Dilla. “Dilla kebakaran, kebakaran”
Dilla terkejut dengan teriakan tersebut “mana kebakarannya, tolong, tolong” setelah melihat sekitar ternyata masih aman-aman saja, tidak ada api sama sekali. Ricko pun tertawa lepas melihat wajah Dilla sangat lucu. Setelah Dilla sadar bahwa dia di kerjai oleh Ricko, Dilla pun memukul tangan Ricko. “ih awas ya gue bales lo, katanya kemarin mau damai, sekarang iseng lagi”
“oke stop stop, ini sebagai perminta maafan gue, minum gih biar nggak ngantuk. Enak banget tidur mulu, lo kira gue supir”
"Lah, kan lo sendiri yang nawarin, lupa ya?”
“iya tapi jangan di tinggal tidur juga, haha tapi sumpah wajah lo tadi lucu banget waktu kaget”
“Seneng banget ya? Ketawa aja terus” kemudian Dilla menginjak kaki Ricko.
“Aduh, sakit tau nggak. lo itu kecil tapi tenaga lo kuat banget sih?”
“Rasain, ayo dah tancap gas, ini udah hampir nyampe”
“Oke tuan putri. Oh iya Dil, lo balik ke kampusnya kapan?”
“Besok langsung balik kok kak”
“Oh yaudah sekalian aja, nanti gue tidur di hotel. Besok gue jemput, kabarin gue kalo mau pulang”
“Eng-enggak usah kak, nanti kak Ricko langsung pulang aja nggak apa-apa”
“Dill, ini perintah jangan membantah”
Dilla mendengar itu hanya menghela nafas kasar kepada Ricko.
----sampai di rumah Dilla-----
Ricko hanya mengantar Dilla di depan rumahnya dan belum beranjak pulang, karena ia berat meninggalkan Dilla. Saat Dilla masuk rumah, terdengar teriakan bapak-bapak “Ngapain kamu kesini lagi?”. Ricko mendengar tangisan Dilla dari dalam rumah tersebut.
#sebenarnya apa yang terjadi dengan Dilla sampai ia menangis seperti itu?